Hary Tanoesoedibjo : Pertemuan IMF – WB Perlu Tindak Lanjut Investasi

0
703
Hary Tanoesoedibjo berbincang dan hadir pada rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Nusa Dua, Bali. (ISTIMEWA)

NUSA DUA (LINTAS PAPUA) – Pemerintah dan kalangan usaha Indonesia dinilai perlu menindaklanjuti ajang Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia atau IMF-World Bank Annual Meeting 2018.

Dihadiri 189 negara yang diwakili oleh menteri keuangan dan gubernur bank sentral dan sebagian kepala negara, mereka dapat melihat langsung kesempatan bisnis dan investasi yang ada di tanah air.

“Pertemuan IMF WB di Bali adalah awal yang baik bagi kita. Tapi kita juga harus mampu menindaklanjuti kesempatan ini menjadi kenyataan. Dibutuhkan follow up yang intensif dan pemahaman yang baik atas kesempatan yang dapat kita maksimalkan,” kata Ketua Umum DPP Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Hary Tanoesoedibjo, di Bali, beberapa waktu lalu.

Selain keuntungan yang didapat sebagai tuan rumah IMF-WB 2018 mencapai sekira Rp 1,1 triliun, manfaat lainnya adalah dari penyelenggaraan “Meetings, Incentives, Conferences and Exhibitions” (MICE) berupa pameran dan expo seni, kerajinan, pariwisata, infrastruktur dan kuliner.

Untuk itu, HT menekankan agar Indonesia mampu memperkuat fundamental ekonomi, sehingga mempercepat pertumbuhan investasi, lapangan kerja, ekspor, konsumsi masyarakat dan produktivitas serta kesejahteraan masyarakat ekonomi lemah.

Di sisi lain, bahasan ekonomi digital dan perkembangan industri 4.0 juga mendapat sorotan, termasuk layanan finansial berbasis teknologi alias fintech. Hary Tanoe menungkapkan ada dua aspek yang harus diperhatikan yakni infrastruktur jaringan atau network dan konten.

Digital ekonomi dari sisi network dan infrastruktur seperti high speed internet dan icloud adalah sangat penting yang dapat membuat aktivitas ekonomi menjadi sangat efisien dan akurat.

“Sedangkan pada konten atau aplikasi, kita harus berhati-hati. Jangan sampai perkembangannya menimbulkan masalah di tempat lain termasuk e-commerce mempengaruhi bisnis konvensional. Tentu saja ada benefitnya pula, misalnya hadirnya e-education yang dapat mempercepat kemajuan pendidikan tinggi kita,” ujar Hary Tanoe.

Diyakini pula, Pertemuan IMF-Bank Dunia yang dihadiri sekira 32 ribu orang ini menjadi ajang promosi wisata Indonesia karena sebagian dari mereka baru pertama kali ke Indonesia. Pertemuan itu juga dinilai merupakan pintu gerbang kesempatan yang harus ditindaklanjuti sehingga berdampak bagi pemerintah, BUMN, korporasi swasta hingga pelaku UMKM.

Pada kesempatan pertemuan IMF- Bank Dunia itu, Indonesia juga memberi perhatian pada digital ekonomi. Pada salah satu rangkaian acara yakni Bali Fintech Agenda, Presiden Joko Widodo perlunya mempertimbangkan regulasi pada perkembangan fintech dan ekonomi digital yang terus tumbuh pesat.

“Seiring dengan perkembangan fintech dan ekonomi digital yang begitu pesat, saya ingin mengingatkan soal prinsip regulasi yang menjadikan internet begitu pesat pada ekonomi nasional sekitar 20 tahun lalu,” kata Jokowi.

Menurut Jokowi, pengembangan teknologi yang pesat juga dibutuhkan regulasi yang tepat, apalagi teknologi sekarang sudah masuk dalam tatanan perekonomian nasional. Jokowi juga ingin seluruh negara yang hadir di Bali bisa memberikan masukan terkait pengembangan fintech di tataran global. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here