DP3A Kabupaten Jayapura Gelar Pelatihan Aneka Kue Sagu

0
609
Asisten I Bidang Pemerintahan Umum Setda Kabupaten Jayapura, Abdul Rahman Basri, S.Sos, M.KP, didampingi Kepala DP3A Kabupaten Jayapura Dra. Maria Bano dan Panitia Pelaksana serta perwakilan peserta ketika bersama-sama menabuh Tifa sebagai tanda secara resmi membuka kegiatan pelatihan bimbingan manajemen usaha dalam mengelola usaha membuat aneka kue sagu bagi perempuan OAP dari 4 WP di Kabupaten Jayapura, Kamis (25/10/2018) pagi lalu. (Irfan / HPP)

SENTANI (LINTAS PAPUA) – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Jayapura menggelar Pelatihan Bimbingan Manajemen Usaha dalam mengelola usaha membuat aneka kue Sagu bagi Perempuan Orang Asli Papua (OAP) dari empat (4) Wilayah Pembangunan (WP) di Kabupaten Jayapura, Kamis (25/10/2018) pagi lalu, yang berlangsung di Aula Balai Pengkajian Teknologi Papua (BPTP) Provinsi Papua, Yahim, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.

 

Pelatihan dilaksanakan berdasarkan pagu anggaran atau pembiayaan dana Otonomi Khusus (Otsus) tahun anggaran 2018. Sumber dana tersebut bertujuan untuk membina dan melatih perempuan atau mama-mama orang asli Papua di Kabupaten Jayapura agar terlatih dalam pembuatan kue sagu.

 

Pelatihan dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan Umum Setda Kabupten Jayapura Abdul Rahman Basri, S.Sos, M.KP, didampingi Kepala DP3A Kabupaten Jayapura Dra. Maria Bano.

 

Dalam sambutan Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E, M.Si, yang dibacakan Asisten I Bidang Pemerintahan Umum Setda Kabupaten Jayapura Abdul Rahman Basri, S.Sos, M.KP, mengatakan pohon Sagu sebagai kekuatan dan kedaulatan pangan lokal masyarakat Papua itu tumbuh alami dan penyebaran populasi tanaman Sagu ini merata di Papua yang selama ini telah dikembangkan pengolahannya lebih variatif.

 

“Pemerintah daerah melalui DP3A Kabupten Jayapura mulai tahun 2016 telah melaksanakan kegiatan pelatihan kue Sagu yang diikuti sekitar 40 orang perempuan asli Papua, kemudian di tahun 2017 lalu diikuti sebanyak 140 orang dan di tahun 2018 ini diikuti sebanyak 100 orang perempuan orang asli Papua dari empat Wilayah Pembangunan (WP) di Kabupaten Jayapura,” ujarnya.

 

Hasil atau output yang diharapkan dari kegiatan pelatihan tersebut, katanya, perempuan orag asli Papua di Kabupaten Jayapura dapat terlatih dalam pembuatan kue Sagu.

 

“Oleh karena itu, kita minta kepada para tenaga instruktur yang telah berpengalaman di bidangnya ini dapat memotivasi peserta dengan keterampilan pengolahan sagu sampai pemasaran kue Sagu,” pintanya.

 

“Juga kepada para peserta setelah mengikuti pelatihan ini dapat membagi ilmu kepada sesama perempuan generasi muda, sehingga dapat menjadi kegiatan produktif yang memiliki nilai jual dan juga bisa menambah penghasilan perempauan atau keuangan keluarga,” tambahnya.

 

Kue Sagu yang telah diproduksi saat ini, kata dia, masih terbatas variasi dan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pasar maupun kebutuhan konsumen lokal. Namun dengan kerja keras dan belajar terus menerus, maka hasilnya pasti akan memuaskan.

 

Sehubungan hal itu terkait dengan upaya pemberdayaan masyarakat, khususnya kesetaraan gender perempuan Papua, maka pelatihan ini hendaknya menjadi titik awal kebangkitan kaum perempuan asli Papua di Kabupaten Jayapura.

 

“Oleh karena itu, saya berharap untuk selalu mengaktualisasikan diri, serta meningkatkan mutu kue sagu. Sehngga semakin banyak dikenal dan dicari msyarakat serta tetap menjaga, melestarikan tanaman pohon sagu sebagai penghasil tepung sagu,” tukasnya.

 

Sementara itu, Kepala DP3A Kabupaten Jayapura Dra. Maria Bano mengatakan, pelatihan aneka kue Sagu ini sudah lima kali diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Jayapura, dengan peserta yang ikut dalam pelatihan tersebut sebanyak 100 orang perempuan orang asli Papua.

 

“Kegiatan bimbingan manajemen usaha bagi perempuan dalam mengelola usaha, khususnya pelatihan pembuatan aneka kue Sagu ini adalah kegiatan yang kali kelima dengan jumlah peserta pelatihan, baik peserta yang baru maupun lama itu sebanyak 100 orang,” kata Maria Bano.

 

Pemerintah melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) mengharapkan kepada peserta agar pengetahuan yang diperoleh ini dapat diterapkan di keluarga masing-masing. Selain itu juga dapat berbagi dengan orang lain di kampungnya.

 

“Sehingga ini (sagu) sebagai makanan pokok, jangan sampai orang sudah menggantikan makanan pokok Sagu dengan makanan pokok kita lainnya yang sehari-hari kita konsumsi itu,” katanya.

 

Tujuan pelatihan, kata Maria Bano, untuk meningkatkan ekonomi keluarga mereka, juga dalam rangka mendukung iven Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Tahun 2020 nanti di Papua.

 

“Kami berharap kepada mereka setelah mengikuti pelatihan ini agar tetap eksis. Artinya, mereka selalu ada membuat kue Sagu di tempat atau lingkungan dari kampung mereka masing-masing. Jangan sampai ada anggapan kalau ini sudah biasa, maka lebih baik Sagu ini dibuat Papeda saja,” paparnya.

 

Karena itu, dirinya berharap, para peserta usai mengikuti pelatihan ini bisa memulainya dengan membuat dan mengolah sendiri bahan makanan lokal ini hingga bisa memasarkannya (menjual) sendiri seperti di tempat-tempat keramaian, sekolah-sekolah atau di kantor-kantor.

 

“Jadi, mereka jangan berharap terus kepada pemerintah untuk menfasilitasi dalam hal pemasaran. Karena harapan kami kepada mereka agar mereka bisa mandiri setelah mengikuti pelatihan ini guna menambah ekonomi keluarga mereka,” harapnya. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here