Refleksi Kehidupan Papua : Seperti Taruh Lilin di Bawah Meja

0
963

Oleh : Yosef Rumaseb

Saya diskusi dengan seorang adik yang punya banyak konsep brilian. Dia visioner yang suka kerja dalam diam dan melakukan diskusi one on one. Punya akun media sosial tapi jarang eksposs ide-ide briliannya di medsos atau media lain.

Dia siapkan pengusaha asli Papua, pasangan suami istri, dalam bisnis masa depan dengan hitungan bahwa bisnis mereka akan dilirik dunia usaha lebih luas di masa depan. Hitungannya tidak meleset. Sekarang konsep bisnis Taxi Laut yang dia kembangkan diadopsi oleh pihak lebih luas dengan budget lebih besar. Dan istri, dari pasangan yang dia siapkan, menjadi manager dari bisnis bernilai milyaran rupiah itu.

Waktu kami diskusi, dia memaparkan idenya mengembangkan kemampuan masyarakat adat yang memiliki hak ulayat di mana beroperasi investor multinasional. Sebagai orang dalam investasi multinasional di posisi strategis itu, dia tahu benar mengenai peluang bisnis dan prosedur serta norma yang harus dilakukan untuk mengakses kesempatan ini. Sebagai anak adat pemilik ulayat yang terkena dampak proyek, dia punya akses ke masyarakatnya untuk mengembangkan investasi itu. Dalam skala terbatas di sukunya, dia sudah lakukan itu. Saya akui dan apresiasi.Tapi saya berikan pertanyaan menantang.

Idenya luar biasa hebat dan berpotensi membantu masyarakat adat mendapatkan manfaat ekonomi dari bisnis industri migas di kawasan ini. Idenya adalah mengelola Dana Bagi Hasil Migas untuk bangun investasi masyarakat adat untuk mengambil bagian dalam proyek-proyek migas ke depan. Dan dia tunjukkan adanya peluang itu, baik sewa alat berat, hotel, laundry, dll. Alokasi DBH Migas bagi masyarakat adat bisa jadi modal bagi masyarakat adat untuk investasi di bidang ini.

Saya yang awam dalam dunia yang adik ini paparkan hanya duduk mendengarkan, dengan seksama, tapi tanpa tanggapan atas substansi idenya. Saya seperti rusa masuk kampung di depan adik yang pintar ini. Bingung, berdiri di tempat, maju selangkah, berdiri lagi, lihat ke kiri dan ke kanan.

Lalu saya bicara kepadanya. Pertanyaan pertama, kenapa konsep bagus ini tidak dijadikan kerangka dasar untuk kerja sama dengan investor, pemda dan masyarakat adat? Kenapa simpan itu di dalam perpustakaan pribadi ade?

Kepada adik itu saya sampaikan bahwa masyarakat kita, lebih khusus lagi masyarakat adat kita, membutuhkan dukungan kita kaum sekolahan untuk mengembangkan potensi ekonomi yang mereka miliki untuk jadi kekuatan ekonomi riel untuk mensejahterakan hidup mereka. Kita, kaum sekolahan, dapat berperan menjembatani kebutuhan masyarakat kita dengan pihak investor dan pemerintah.

Tapi, kalau kita diam, apa arti pengetahuan dan kepintaran kita? Kita tidak bermanfaat. Kita seperti orang meletakkan lilin yg menyala dalam karton tertutup lalu simpan di bawah meja pada hal PLN sedang padam lampu. Terang yang kita miliki tidak bermakna apa pun dalam kegelapan masyarakat adat kita. Saya lalu minta adik itu tulis konsep briliannya, kita bahas dengan pemda dan investor, dan secara bertahap kita siapkan masyarakat adat dalam proses implementasinya. Dia setuju.

Pertanyaan ini patut diajukan juga kepada semua anak Papua yang pintar dalam berbagai disiplin ilmu tapi belum mengambil sikap untuk mengaplikasikan ilmunya bagi masyarakat adat kita. Mengapa kau simpan lilin yang kau miliki di bawah meja pada hal lampu sedang padam dan kita sedang membutuhkan terang?

I.S. Kijne meramalkan bahwa bangsa ini akan bangkit memimpin dirinya sendiri. Tapi saya kira selama potensi kepemimpinan dalam bangsa ini masih diam seperti lilin dalam dos yang diletakkan di bawah meja meski di luar gelap gulita, maka selama itu bangsa ini tidak pernah akan bangkit.

Bintuni 25 Oktober 2018

Yosef Rumaseb (Anak Byak yang tinggal di kampung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here