Pemikiran George Saa : Kemana Papua setelah Otsus Berakhir ???

0
3045
George Saa adalah Penulis essay sosial, ekonomi dan pendidikan dan merupakan putra Papua pertama pemenang lomba First Step to Nobel Prize in Physics pada tahun 2004 dari Papua, Indonesia. Makalahnya berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor. bahkan rumus Penghitung Hambatan antara Dua Titik Rangkaian Resistor yang Ditemukannya diberi namanya sendiri yaitu “George Saa Formula” (Foto Pribadi)

Bagi saya, setelah otsus berakhir, pemimpin di tanah Papua ini akan bekerja keras untuk meyakinkan pemerintah pusat untuk melanjutkan status otonomi khusus (Otsus) ini dengan janji akan memperbaiki performa otsus ini,  sehingga dapat memberikan dampak yang lebih besar untuk manusia Papua.

Ini kemungkinan akan di dorong dengan menambah dan mengurangkan isi dari pasal-pasal otsus yang kemudian di harapkan akan lebih menyentuh kepentingan orang Papua. Ya, tentunya semua pasti diarahkan untuk kepentingan orang Papua yang sebenarnya ‘hanya’ membungkus kepentingan elit politik Papua, terutama elit nasional hingga kepentingan korporasi global.

 

Pertanyaan paling mendasar yang harus di jawab oleh semua orang/manusia Papua adalah apa saja yang ingin ditambah atau kurangkan? Apa saja yang perlu di evaluasi dan di perbaiki? Juga, siapa saja yang akan dilibatkan dalam proses re-evaluasi performa otsus ini? Juga, apa saja klausal-klausal yang akan mengangkat taraf hidup orang Papua, hingga hak politik lainnya yang akan berbenturan dengan kepentingan negara apalagi mengancam lepasnya Papua dari NKRI? Lanjut, kita juga perlu menanyakan apakah opsi referendum dapat di dorong lagi dengan asumsi mayoritas manusia mendukung hal ini ?.

 

Saya melihat polarisasi kemajemukan penduduk Papua saat ini sangat memprihatinkan,  dimana sebagus apapun draft perpanjangan otsus ini walaupun di dorong, akan sangat susah untuk membendung kerja dari prinsip-prinsip ekonomi yang tentunya lebih memihak pada manusia bermodal, berkompeten dalam melihat potensi bisnis dimana ia(prinsip-prinsip ekonomi) ini sudah pasti tidak pakai pandang ras, agama ataupun golongan.

 

Maksud saya, prinsip ekonomi akan berdiri menjadi sang raja yang akan menjadi penentu dalam distribusi ‘kue ekonomi’ yang dihadirkan oleh makin melimpahnya uang otsus ke tanah Papua ini. Dari sini, saya rasa perlu ada suatu inisiatif dan refleksi yang dalam dikalangan manusia Papua pemikir, agar setidaknya prinsip ekonomi ini sedikitnya dapat juga berpihak kepada kemandirian manusia Papua dengan adanya tindakan ‘memaksa’ yang di landasi kekuataan hukum yang harusnya saat ini kita pikirkan.

Ya, keberpihakan absolut kepada semua manusia Papua yang akan segera menjalankan roda ekonomi di tanah ini dengan sokongan yang ril serta bentuk perlindungan oleh sistim yang dapat di galakan/hadirkan oleh pemimpin Papua yang saat ini berkuasa. “Ya, adanya UU hingga peraturan-peraturan khusus yan mengatur dengan detil dan memastikan 100% partisipasi orang Papua dalam menikmati kue otsus atau uang yang datang oleh otsus ini,”

 

Berikutnya, saya rasa saat ini kita perlu menuliskan dengan detail apa saja saat ini ‘permainan-permainan’ tangan-tangan tak terlihat yang selama ini mengatur roda ekonomi dan finansial di tanah ini entah mereka itu orang lokal Papua, non Papua ataupun pendatang dari wilayah Indonesia lain bahkan orang pusat (Jakarta). Secara detail ketika di tuliskan dan dibuatkan highlight point-point pentingnya, maka orang Papua saat bisa makin mengerti dan sadar akan siapa dan institusi apa saja yang saat ini hanya memanfaatkan status otsus ini untuk ‘menggoreng’ orang Papua disana-sini, sehingga orang Papua makin tambah tahunpun makin tambah dilemahkan di tanah leluluhurnya ini.

 

Belum stigma-stigma yang akan membalut semua justifikasi mengapa adanya ‘ketidakmampuan’ orang Papua untuk menjadi pelaku ekonomi seperti: orang Papua malas, orang Papua puas, orang Papua itu lebih suka miras dan main perempuan, ataupun stigma lainnya yang menurut saya kadang hanya bertujuan mendegradasikan harkat-martabat orang papua – proses yang harus kita semua sepakati hanya dilakukan untuk membuat orang papua makin tidak percaya diri untuk menguasai tanah leluhurnya ini.

 

Selanjutnya, semua aspek yang mendukung kebangkitan orang Papua harus di kerjakan hari ini juga. Faktor pendidikan khususnya saya lihat harus diberikan kesempatan lebih besar untuk bukan saja mendidik manusia dan generasi Papua untuk menjadi intelektual, namun juga memampukan kita untuk dapat mengaplikasikan ilmu dan kemampuan intelektual yang dimiliki saat kita telah diedukasi dengan lebih dari cukup.

 

Dilain hal, faktor fasilitas kesehatan dari aspek fisik hingga non-fisik harus di rancang hari ini agar kelak dalam waktu dekat dapat di bangun/dirikan/dicetak. Kita perlu dokter-dokter orang Papua, mantri/suster orang Papua dan juga bangunan hingga kelengkapan alat-alat kedokteran yang sangat penting untuk menyelamatkan bahkan menyehatkan orang Papua, agar kelangsungan hidup kita terus dapat terjaga.

 

Berikutnya, dampak urbanisasi ke papua harus segera dibentuk dengan aturan khusus. Kita ini harus memiliki KTP Papua dan ID Papua khusus. Bila perlu, kita harus canangkan satu bahasa khusus yang dapat kita gunakan di Papua selain bahasa Indonesia sehingga siapa saja yang ada di Papua ini dapat kita identifikasikan apakah mereka ini pendatang baru ataukah memang orang sudah lama sehingga ketika kita menghargai orang-orang pendatang khusus yang sudah ganti 1-2-3 generasi ini dapat dilakukan.

 

Kita harus mengerti kalau banyak juga pendatang-pendatang yang sudah hidup di Papua dan secara lahiria telah mengklaim tanah ini sebagai bagian dari mereka karena mereka sudah tidak ada opsi lain untuk memilih hidup di tanah leluhur mereka,  karena berbagai alasan, salah satu diantaranya adalah mereka memilih menjadi orang Papua dibandingkan melihat dominasi apa sukunya.

 

Berikut, kita semua harus mendorong, agar tanah Papua ini tidak dijadikan wilayah operasi ataupun wilayah yang dijadikan ‘daerah konflik’ dimana jelas menguntungkan pihak-pihak tertentu. Papua ini bisa aman dan dapat menjadi rumah bagi bangsa siapa saja yang mau mengadopsi Papua sebagai rumah kalau tidak ada lagi manusia-manusia sesat yang datang atas nama negara dan memporak-porandakan situasi di Papua ini atas nama kepentingan negara.

Kita harus pastikan pihak dan segenap organisasi seperti polisi/TNI untuk tidak lagi ikut berbisnis,  apalagi menjadi backingan kepentingan usaha-usaha manusia-manusia tidak jelas yang dengan mudah menggadaikan manusia, Sumber Daya Alam (SDA), hingga hasil bumi tanah ini untuk mengais rejeki. Kita harus kerja keras, agar tidak ada lagi orang bermain ekonomi di Papua ini dengan backingan ini itu dimana selalu saja menciptkan kompetisi yang tidak fair dan menghadirkan sistim monopoli yang sangat merugikan kegiataan ekonomi itu sendiri hingga merugikan orang Papua yang hari ini masih berjalan dengan ‘baby steps’ dalam mengerjakan kegiatan ekonomi yang tentunya menjamin kesejahteraanya di tanah ini.

Saya mengharapkan hari ini kita semua manusia Papua harus memikirkan hal yang saya uraikan diatas untuk memastikan semua hal prinsip dan kehidupan orang papua ditanah ini tetap terjaga, aman, dan makin hari makin baik (sejahtera).  (*)

 

(George Saa adalah Penulis essay sosial, ekonomi dan pendidikan dan merupakan putra Papua pertama pemenang lomba First Step to Nobel Prize in Physics pada tahun 2004 dari Papua, Indonesia. Makalahnya berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor. bahkan rumus Penghitung Hambatan antara Dua Titik Rangkaian Resistor yang Ditemukannya diberi namanya sendiri yaitu “George Saa Formula”.)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here