Hidup Sebagai Manusia Baru

0
958

“Kamu… mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya”

(Efesus 4:23-24).

Jika seseorang memiliki keragu-raguan terhadap manfaat Kekristenan, mereka perlu mengamati dan dalam waktu lama kehidupan seorang Kristen yang benar-benar bertobat. Memang benar, jika Kekristenan tidak membawa perubahan dalam diri mereka yang mengakui nama Kristus, maka kehidupan keagamaan mereka—selain bahwa mereka disebut orang Kristen—hanyalah sandiwara.

Dalam Efesus 2 Paulus berbicara tentang pengalaman sebelum dan sesudah umat percaya di Efesus. Tetapi ia masuk ke dalam istilah-istilah sosiologis ketika ia menulis tentang keadaan tersingkirkan—di luar Kristus dan di luar perjanjian yang dibuat dengan Abraham dan di Bukit Sinai. Mereka telah hidup tanpa harapan dan tanpa Allah orang Yahudi. Saking pentingnya metamorfosis yang terjadi, Paulus tidak melewatkan begitu saja kesempatan untuk mengetengahkan perbedaan etis yang dihasilkan oleh pertobatan di dalam kehidupan. Dan ia menyinggung topik ini di pasal 4.

Dengan menjadi satu di dalam Kristus, setiap orang percaya di Efesus menjadi “manusia baru.” Melalui keselamatan yang dicurahkan oleh Allah mereka yang murah hati, orang-orang Kristen “diciptakan menurut kehendak Allah.” Alkitab New Century Version menerjemahkan frase ini menjadi “made to be like God” atau “diciptakan menjadi seperti Allah.” Di sini hendaknya kita tidak salah mengartikannya. Alkitab tidak mengajarkan kita bahwa kita memiliki hakikat Keilahian. Alkitab juga tidak mengajarkan bahwa pada suatu hari kemanusiaan dan Keilahian akan melebur dalam satu kesatuan yang harmonis—tanpa ada perbedaan lagi di antara kita. Allah akan selalu menjadi Allah, dan manusia akan selalu tetap menjadi manusia—meskipun dengan tubuh kebangkitan yang telah dimuliakan.

Namun demikian, Allah berkehendak untuk mengembalikan gambaran Ilahi yang kita emban—yang telah menjadi kabur akibat dosa. Itulah yang dimaksud dengan menjadi “seperti Allah”. Paulus bahkan membuatnya lebih jelas bagi kita, bahwa sebagai manusia baru kita diciptakan… “di dalam kebenaran dan keku- dusan yang sesungguhnya.” Artinya kita akan menjalani hidup yang bermoral.

Perlu penjelasan lagi? Paulus menyediakannya. “Karena itu buanglah dusta” (Ef. 4:25). “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa” (ay. 26). “Janganlah… mencuri…, tetapi… bekerja keras” (ay. 28). “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu” (ay. 29). “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan” (ay. 31). Oh, ingin sesuatu yang positif? Baiklah. “Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni” (ay. 32).

Jika sebagai manusia baru kita hidup seperti itu, maka sungguh agama kita telah membuat perbedaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here