JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Papua dalam waktu dekat segera melakukan pelelangan kayu hasil sitaan di wilayah Jayapura, Sarmi, Keerom dan sekitarnya.

Menurut Kepala Dinas Kehutanan Papua,  Jan Jap Ormuseray, proses lelang akan ditangani Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Papua dan Maluku di Jayapura. Sementara harga standar yang ditawarkan, bakal disesuaikan dengan aturan dalam perundang-undangan.

“Biasanya standar lelang harga kayu Merbau untuk satu kubiknya senilai Rp 3 juta. Namun kita serahkan kepada instansi yang berwenang nanti untuk menetapkan. Sebab hasil penjualan ini tentunya akan masuk sebagai pendapatan daerah,” terang Ormuseray di Jayapura, pekan lalu.

Menurut ia, dari catatan yang dimilikinya ada sekitar 81 kontener kayu hasil sitaan di Pelabuhan Jayapura yang bakal dilelang. Termasuk kayu hasil sitaan dibeberapa perusahan kayu, baik di Jayapura dan Kerom.

Sementara alasan mempercepat waktu pelelangan, karena dikhawatirkan kayu-kayu hasil sitaan tersebut tak lagi mampu bertahan hingga berpotensi menjadi lapuk atau bengkok. Dengan demikian, kayu tersebut tak lagi berharga karena mutunya berkurang.

“Makanya, harus segera kita proses cepat lelangnya. Supaya nilai jualnya masih tinggi juga. Kemudian bisa dipergunakan membayar iruan kehutanan kepada negara, yakni Provisi Sumber Daya Hutan dan Dana Rebuisasi (PSDH-DR),”terangnya.

Setahun yang lalu Dinas Kehutanan melelang 896 batang kayu hasil sitaan, terdiri dari 559 batang temuan 2015 dan 310 batang pada Juli 2017. Sementara total lelang senilai Rp.162.000.000. Pemenang lelang sebelumnya sudah membayar tiga persen dari nilai lelang.

Pemenang juga membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak  (PNBP) berupa dana Provinsi Sumber Dana Hutan atas volume objek lelang dan membayar biaya persiapan lelang.

Para pemenang lelang nantinya akan dibekali dengan surat Angkutan Kayu Lelang (SAL), sehingga dapat diangkut ke tempat pemenang lelang. (Koran Harian Pagi Papua)