Lulus Pendidikan, 50 Pilot Asli Papua Masih Jadi Pengangguran

0
602
Ilustrasi Suasana 33 Warga Nduga saat berada di Bandara Wamena. (Vina/HPP)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Sekitar 50 pilot asli Papua dilaporkan jadi pengangguran usai mengikuti pendidikan di dalam maupun luar negeri. Tak diliriknya para pilot itu oleh sekian banyak penerbangan dalam negeri pun, disesalkan Ketua Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah, Befa Yigibalom.

Kepada pers di Jayapura, Befa selaku Bupati Lanny Jaya menilai, seluruh perusahaan penerbangan yang beroperasi di Indonesia, tak punya hati terhadap anak-anak Papua.

Ketua Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah Papua, Befa Yigibalom, saat diwawancara. (ISTIMEWA)
(dari kiri ke kanan) Bupati Yahukimo, Abock Busup, Ketua Asosiasi Bupati Pegunugan Tengah Papua, Befa Yigibalom, Bupati Terpilih Jayawijaya, Jhon R. Banua dan Wakil Bupati Tolikara, Denis Wanimbo, saat memberikan keterangan kepada pers, kemarin siang. (ISTIMEWA)

 

 

 

 

 

 

 

 

“Sebab sangat disayangkan sudah banyak anak asli Papua yang sekolah pilot, terutama di Pegunungan Tengah, tapi tidak dipekerjakan atau dibina oleh perusahan penerbangan yang ada di provinsi ini,” ujar Ketua Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah, Befa Yigibalom, pekan kemarin.

“Makanya, kami dalam rapat kerja tegas ingin membeli dua unit pesawat pada 2019 mendatang, supaya bisa memberdayakan para pilot asli Papua ini,” terang Befa di Jayapura, pekan lalu.

Ia katakan, bila pembelian pesawat sesuai dengan rencana, maka pihak asosiasi bupati pegunungan tengah berencana menggandeng perusahaan penerbangan lokal Cenderawasih atau Tariku.

Operator tersebut akan dipercaya untuk mengoperasionalkan pesawat sekaligus membina pilot asli Papua yang ada, guna mengangkut penumpang dan barang dari ibukota kabupaten hingga ke wilayah distrik maupun perkampungan yang memiliki bandara maupun landasan.

“Ada sekitar 500-an lapangan terbang yang ada di wilayah pegunungan tengah. Sehingga pesawat ini kita harap bisa mendarati seluruh lapangan terbang itu sambil membawa penumpang dan barang. Supaya kedepan seluruh orang pegunungan bisa memiliki moda transportasi udara yang murah,” harapnya.

Sementara untuk memastikan pembelian pesawat dilaksanakan pada tahun depan, direncanakan dalam waktu dekat, sejumlah bupati akan mengunjungi perusahan pembuat pesawat di New Zealand dan Amerika Serikat, guna mendorong penandatangan memorandum of undarstanding (MoU).

“Bahkan kalau mereka percaya, pesawatnya bisa kita ambil dulu dan pakai. Sebab intinya kita ingin supaya ada penerbangan yang bisa mengangkut seluruh orang Papua di pegunungan, tentunya dengan biaya yang sangat terjangkau,” harap dia.

Diberitakan sebelumnya, Asosiasi Bupati Pegunungan Tengah Papua, dalam rapat kerja perdana menyepakati pembelian dua unit pesawat pada 2019 mendatang, guna memfasilitasi perekrutan maupun pengkaderan pilot anak asli.

Pembelian dua pesawat jenis Caravan dan PAC ini, juga bertujuan menyediakan sarana transportasi udara yang memadai guna melayani masyarakat di daerah-daerah terpencil pedalaman Papua.

“Sekaligus untuk menunjang pendapatan asli daerah (PAD) bagi masing-masing anggota asosiasi,” tandasnya. (Koran Harian Pagi Papua)