JAYAPURA (LINTAS  PAPUA)  – Gubernur Papua, Lukas Enembe memerintahkan, pihak ketiga untuk tetap melanjutkan pekerjaan pembangunan Jembatan Holtekamp meski masih ada gugatan dari pemilik ulayat ke pengadilan.

Gugatan tersebut, berkenaan dengan klaim salah satu pemilik ulayat yang mengaku belum mendapat ganti rugi atas pembangunan Jembatan Holtekamp.

“Kemarin ini memang yang dibayar oleh Dinas PU Papua salah orang. Sekarang digugat lagi. Padahal tinggal sedikit lagi jalan ini sudah tersambung. Sebenarnya dari dulu sudah bisa tersambung tapi lahan ini bermasalah lagi”.

“Ya memang persoalan di Papua ini harus bicara baik-baik dengan orang adat. Harus diselesaikan hak ulayat baru bisa bangun. Papua itu begitu, kalau salah bayar bisa pusing. Kendati begitu kepada teman-teman (pihak ketiga) yang kerja tetap lakukan saja. Jangan berhenti karena pekerjaan harus dijalankan. Jangan takut sebab kita masih tunggu proses persidangan,” terang Lukas di Jayapura, usai meninjau pembangunan Jembatan Holtekamp, pekan lalu.

Dibangunnya Jembatan Holtekamp, selain memperlancar konektivitas akan mendorong pengembangan wilayah Kota Jayapura ke Timur yakni ke arah Skouw. (Foto Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)
PEMBANGUNAN JEMBATAN HOLTEKAMP. Biaya pembangunan bentang utama jembatan adalah sebesar Rp 943 miliar. yang dikerjakan oleh konsorsium kontraktor PT. PP sebagai pimpinan, PT Hutama Karya dan PT Nindya Karya. (Foto Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)

 

 

 

 

 

 

 

Lanjut Lukas, hambatan pembangunan Jembatan Holtekamp saat ini adalah sebagian hak ulayat belum dibayarkan.

Untuk itu, dia berharap jika nanti pegadilan sudah  memutuskan pemilik sah atas suatu tanah di Holtekamp, dia mengharapkan agar semua pihak dapat menerima dan tak ada lagi gugatan yang justru menghambat proses pembangunan jembatan.

“Sebab dua tahun kedepan ini, untuk 2019 dan 2020, program kerja kita fokuskan untuk pelaksanaan PON XX 2020. Dimana uangnya kita pakai untuk mempercantik Kota dan Kabupaten Jayapura. Makanya pertama lahan harus beres dulu. Ada jalan belum diaspal akan dipercantik. Belum talud kita bereskan. Supaya ada kesan yang baik bagi atlet dan siapa pun yang nanti datang ke Papua saat PON,” tuntasnya

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) XVIII Papua, Osman H Marbun, mengapresiasi Gubernur Lukas yang memberikan jaminan untuk memperlancar pihak ketiga dan instansinya mendorong pembangunan jalan pendukung ke Jembatan Holtekamp.

“Gubernur sudah bicara untuk tanah yang belum diselesaikan pemerintah, akan dipertimbangan untuk diselesaikan sehingga saat bekerja tak bakal dipalang warga. Ini sesuai harapan kami sehingga kita pun mengapresiasi Gubernur dan masyarakat karena kami bisa bekerja tanpa dibayar dulu hak ulayatnya,” ucap dia.

Keindahan Kota Port Numbay, tampak jembatan yang kini masih dalam proses pengerjaan antara Hamadi – Holtekamp. (ISTIMEWA)

Marbun pun menyatakan, siap berkoordinasi dengan pihak perbankan yang berkeinginan membantu mempercantik Jembatan Holtekamp dengan ikut membangun aksesori pendukung.

“Padahal sebenarnya pemasangan aksesori ini sudah masuk dalam rencana kita. Tapi kalau nanti ada yang lebih baik dan menarik, kenapa tidak kita terima. Intinya, kita bersedia saja untuk kerja sama karena jembatan ini kan untuk menarik wisatawan juga”.

“Sebab berada di jembatan ini seperti kita sedang berada di luar negeri. Kita seperti tidak di Indonesia atau pun Papua. Sehingga kedepan jika jembatan ini difungsikan saya yakin akan sangat luar biasa. Pastinya akan tumbuh investasi di sekitar jembatan ini,” tutupnya. (Koran Harian Pagi Papua)