Dubes Vanuatu untuk PBB ajak Rakyat Papua  Bersatu

0
449
Dubes Vanuatu untuk PBB, Odo Tevi sedang berbicara. (ISTIMEWA/JH)

Caption Foto :  Dubes Vanuatu untuk PBB, Odo Tevi sedang berbicara  dan (foto kedua)  Dubes Vanuatu untuk PBB, Odo Tevi dan Menteri Luar Negeri Vanuatu, Ralph Regenvanu di depan Gedung Markas Besar PBB. (Foto Istimewa)

NEW YORK (LINTAS PAPUA) – Di tengah kesibukan mengikuti sidang tahunan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations Genral Assembly (UNGA) ke 73 tahun 2018 di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat akhir September lalu, Duta Besar Vanuatu untuk PBB, Odo Tevi, sempat berpesan kepada rakyat Papua melalui pimpinan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) untuk tetap bersaatu.

 

Hal itu disampaikan Tevi ketika bertemu Benny Wenda (ketua ULMWP) dan para aktivis Papua yang lain seperti; Herman Wainggai dan John Anari di kantor Perwakilan Misi Vanutu untuk PBB, New York. Pertemuan itu berlangsung sehari sebelum ia bersama pimpinan ULMWP yang tergabung dalam delegasi Vanuatu mengikuti Sidang Tahunan Majelis Umum PBB ke 73, pada Senin (24/9/2018).

 

Dalam kesempatan itu, dubes Vanuatu untuk PBB ini berpesan agar persatuan rakyat Papua beserta segenap komponen perjuangan Papua di bawah wadah ULMWP perlu dikedepankan. Tidak ada jalan lain, sebab menurutnya persatuan merupakan kunci keberhasilan dalam menghadapi segala penetrasi kolonialisme Indonesia yang telah menduduki West Papua selama lebih dari 50 tahun.

 

“Perjuangan Rakyat West Papua juga bukan semata-mata untuk menegakan identitas Melanesia. Tapi lebih dari itu merupakan perjuangan yang mulia untuk keadilan, penghargaan terhadap martabat manusia, kesetaraan dan penyelamatan terhadap lingkungan alam di Papua yang kian terdegradasi akibat eksploitasi,” ujar Tevi.

 

Menurutnya, Vanuatu sebagai negara resmi anggota PBB maupun anggota Melanesian Spearhead Group (MSG) dan Pacific Island Forum (PIF), akan tetap menyuarakan persoalan yang dihadapi dan perjuangan rakyat Papua untuk menentukan nasib sendiri melalui ULMWP sebagai wadah persatuan.

 

Menanggapi dubes Tevi, Benny Wenda (ketua ULMWP) menyampaikan terimakah kepada rakyat dan Pemerintah Vanuatu yang telah ikut bersuara bagi penderitaan dan perjuangan rakyat Papua melalui Melanesian Spearhead Group (MSG), Pacific Island Forum (PIF) hingga ke PBB.

 

“Dukungan Vanuatu ini akan terus bergulir dan diikuti dengan simpati negara-negara lain atas perjuangan bangsa Papua, jika rakyat Papua tetap bersatu,” cetus Wenda yang sebelumnya menduduki posisi sebagai juru bicara ULMWP ketika Octovianus Mote menjadi ketua untuk periode pertama.

 

Lanjut Benny Wenda, sesama pejuang Papua Barat juga harus mengedepankan sikap saling menghargai, rendah hati dan tetap setia di medan perjuangan. “Tidak usah lagi kita sesama aktivis HAM dan pejuang Papua saling menjelek-jelekan.”

 

Duta Besar Odo Tevi ditunjuk sebagai Wakil Tetap Republik Vanuatu untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2014. Sejak itu, ia pernah mengetuai antara lain, komite khusus untuk Piagam PBB dan memperkuat organisasi, kelompok Asia Pasifik PBB dan terpilih sebagai Wakil Presiden Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk kegiatan pembangunan.

 

Dia juga terlibat dalam badan negosiasi antar pemerintah dalam Agenda Pembangunan Berkelanjutan Pasca 2015. Duta Besar Tevi memiliki gelar sarjana ekonomi yang diperoleh dari Universitas Papua New Guinea, serta MSc dalam bidang ekonomi dari University of Sussex, Inggris. Setelah bekerja untuk Pemerintah Vanuatu selama 6 tahun, ia menjadi Gubernur Reserve Bank of Vanuatu.

 

Sebelum pengangkatannya sebagai duta besar dan wakil tetap Republik Vanuatu di PBB di New York, Mr. Tevi bekerja sebagai konsultan internasional di beberapa proyek termasuk untuk Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), AUSAID dan Pacific Institute of Public Policy.

 

Dubes Tevi akan bersama Charlot Salwai (Perdana Menteri Vanuatu), Ralph Regenvanu (Menlteri Luar Negeri) dan perwakilan ULMWP yang tergabung dalam delegasi Vanuatu akan mengikuti sesi penyampaian pandangan dan debat antar negara pada Jumat (29/9), waktu New York, AS, di Markas Besar PBB. (. (Julian Haganah Howay / Freelance LintasPapua.com di Amerika)