Sarmi Rawan Gempa dan Tsunami, Presiden Jokowi Agendakan Berkunjung ke Kota Ombak ini

0
475
Gubernur Papua, Lukas Enembe bersama para kepala daerah, memberikan keterangan usai bertemu Presiden Jokowi di Istana Negara. (Berti Pahabol / LintasPapua.com)

JAKARTA (LINTAS PAPUA)  – Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) memberi sinyal akan melakukan kunjungan kerjanya ke Provinsi Papua satu kali lagi sebelum tahun 2018 berakhir. Rencananya, Presiden akan meresmikan langsung jembatan Hoteltekamp-Hamadi di Kota Jayapura dan berkunjung ke Kabupaten Sarmi untuk melakukan panen raya buah naga di Distrik Bonggo..

Wakil Bupati Sarmi Yosina Troce Insyaf, SE.MM usai menghadiri pertemuan tertutup dengan Presiden Jokowi bersama gubernur Papua, DPRP, MRP, dan para bupati/walikota se-Papua di Istana Bogor, Jumat (05/10/2018) mengatakan, Presiden Jokowi menyampaikan secara langsung kepada dirinya terkait agenda kunjunganya ke Sarmi tahun ini.

“Saya merasa sangat terhormat sekali, ketika kami selesai pertemuan, Bapak Presiden memanggil saya dan menyampaikan agendanya kepada saya bahwa beliau akan berkunjung ke Sarmi tahun ini. Ada dua agenda Presiden yaitu panen raya buah naga di Distrik Bonggo dan mengunjungi salah satu kampung terkait kepesertaan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional—Red.). Soal bulan dan tanggalnya memang belum pasti,  ungkin disatukan dengan agenda peresmian jembatan Holtekamp-Hamadi baru beliau ke Sarmi,” kata Yosina per telpon seleluernya.

Menurut Yosina, tujuan lain kunjungan Presiden Jokowi ke Sarmi ialah melihat kondisi Sarmi yang berada di wilayah rawan gempa dan tsunami. Pasca gempa menerjang Lombok dan Palu-Donggala yang memakan korban ribuan jiwa, masyarakat di wilayah rawan gempa dan tsunami seperti Sarmi memang harus lebih waspada dan disiapkan sedini mungkin untuk menghadapi bencana sesewaktu.

“Wilayah Sarmi itu masuk dalam zona merah Gempa di Papua. Oleh karena itu, kami juga meminta dukungan Pemerintah Pusat untuk pembangunan sarana atau fasilitas umum (shelter—Red.) bagi keamanan saat tsunami dan tentunya rumah-rumah tahan gempa bagi masyarakat. Kami juga sudah siapkan draf Perda khusus terkait pembangunan infrastruktur dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana di Sarmi. Intinya, perlu sosialisasi terus menerus, perlu infrastruktur pendukung,” ujar Yosina yang adalah wakil kepala daerah pertama di Provinsi Papua ini.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah V Jayapura, pada tiga tahun terakhir, Sarmi mengalami bencana tanpa tsunami beberapa kali. Misalnya pada Sabtu, 24 Oktober 2015, gempa berkekuatan 5,5 Skala Richter (SR) mengguncang Sarmi. Dampaknya terasa hingga Kota Jayapura.

Minggu, 31 Juli 2017 pukul 10:07 WIT, gempa berkekuatan 5,2 Skala Richter (SR) mengguncang  Sarmi dengan pusat di kedalaman 37 km barat daya Sarmi. Gempa berkekuatan sama kembali mengguncang Sarmi pada Sabtu, 17 Desember 2016 pukul 05.39 WIB, tepatnya berada di 56 Km Barat daya dengan kedalaman 10 Km.

Di tahun 2017, gempa berkekuatan 5,6 SR kembali terjadi di Sarmi sekira pukul 16.32 WIB, Minggu (12/2/2017). Sementara tahun ini, tepatnya pada Jumat, 15 Juni 2018, gempa mengguncang Sarmi dengan kekuatan 5,7 SR yang menyebabkan 3 korban luka dan 118 rumah rusak, diman 86 rumah di antaranya rusak berat.

Oleh karena itu, selain meminta bantuan Pemerintah Pusat bagi pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum  yang tahan gempa dan tsunami, Yosina juga meminta pada kunjungannya kelak, Presiden Jokowi bisa mendengarkan aspirasi langsung masyarakat tentang perlunya Sarmi membuka akses jalan menuju Kabupaten Mamberamo Raya dan Mamberamo Tengah guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

“Tentu saja perbaikan dan peningkatan jalan Sarmi-Jayapura yang sudah ada tetap jadi perhatian. Jika dua kabupaten tetangga ini kami buka akses ke sana, tentu Sarmi akan lebih terbuka bagi keluar masuk orang dan barang untuk memacu pertumbuhan ekonomi,” tutup mantan Sekertaris Badan Penanaman Modal Kabupaten Sarmi ini. (Berti Pahabol / LintasPapua.com)