Inilah Komitmen Bupati Mathius Awoitauw saat Temu Akbar “Nembai’nye Emale’re Komunitas Bhuyakha

0
32
Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si, saat berbincang-bincang dengan para panel diantaranya Dr. James Modouw, (Staf Ahli Mendikbud RI) dan John Kabey (Senior) disela-sela acara temu akbar komunitas Bhuyakha, Sabtu (29/9/2018) pagi pekan kemarin. (Irfan / HPP)

SENTANI (LINTAS  PAPUA) – Setelah dipenuhi dengan berbagai aktifitasnya selama hari kerja, Bupati Jayapura membuka kegiatan temu akbar masyarakat adat Sentani (Bhuyakha) yang dilaksanakan sehari itu ditempatkan di Aula Lantai II Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Sabtu (29/9/2018) pagi.

 

Dalam temu akbar tersebut dihadiri birokrat, politisi, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh pemuda, aktivis, praktisi, akademisi, kaum intelektual dan pengusaha asal Sentani.

 

Temu akbar yang mengangkat tema, “Nembai’nye Emale’re (Melangkah Bersama)” itu dilakukan dengan maksud diantaranya, meningkatkan semangat kebersamaan dan rasa persaudaraan antara seluruh komponen dan potensi yang aksi di tengah masyarakat suku serta mengantisipasi perubahan global kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memasuki era industri.

 

Sedangkan tujuan dari temu akbar tersebut, guna membangun kesadaran bersama, tentang adanya ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan, juga mencari solusi penyelesaian melalui 5 bidang strategis dan membuat komitmen untuk suatu perubahan.

Dimulai dengan ibadah bersama dengan Pdt. Robby Depondoye dan pemberian materi kepada para peserta temu akbar, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw, S.E, M.Si, kepada wartawan usai membuka kegiatan temu akbar itu mengemukakan, Kabupaten Jayapura ini memiliki empat wilayah pembangunan (WP). Yang mana, empat wilayah pembangunan ini mempunyai karakteristik sedikit bervariasi.

Menurut Bupati Jayapura dua periode itu menegaskan,  pemerintah tidak bisa jalan sendiri karena itu semua komponen ini perlu kita bangun satu persepsi, untuk bagaimana memajukan daerah ini.

“Oleh karena itu, hari ini (kemarin) yang kumpul ini dari wilayah Bhuyakha (Sentani). Bicara sendiri bagaimana kawasan ini dengan karakteristik yang ada, dengan semangat yang ada dan juga nilai-nilai yang ada ini kalian bangun. Jangan harap pemerintah, karena semua kita bertanggungjawab,”.

“Nah, nanti tanggal 2 Oktober 2018 di wilayah Lembah Grime. Itu juga mereka punya anak-anak intelektual segala macam juga akan kumpul. Berikutnya nanti di wilayah Pesisir dan di beberapa titik lagi,” imbuhnya.

 

Selain itu, Bupati Mathius mengatakan, hal ini harus duduk bersama-sama untuk membangun semangat untuk rasa memiliki tempat ini. Bagaimana masa depannya, supaya di a tetap eksis, dia tetap bertahan dan juga ikut mempengaruhi perubahan tersebut.

 

“Jadi, saya pikir ini tatap muka (temu akbar) antara bupati dengan tokoh masyarakat. Nanti disana juga seperti itu, baik di Lembah Grime, Pesisir dan di seterusnya di wilayah-wilayah lain. Supaya ini akan menjadi kekuatan bersama yakni, kemitraan antar pemerintah dengan seluruh stokeholder masyarakat. Kalau tindak lanjutnya, nanti lah mereka akan rumuskan seperti apa,” katanya.

 

“Harus ada aksi, karena kita sudah banyak buang-buang waktu, bicara-bicara omong kosong, bicara-bicara di media sosial, juga cerita-cerita yang tidak artinya. Sekali lagi saya pikir ini penting, agar nanti di media sosial atau di berita-berita apapun itu kita harus mulai gerakkan ini yang paling pertama. Kita berharap teman-teman media juga berada dalam satu barisan, satu gerakan perubahan untuk Jayapura yang lebih kedepan,” tukas Bupati Mathius Awoitauw. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)