Ina Samosir Lefaan : Bahasa Daerah Dapat Diterapkan Sebagai Mata Pelajaran Muatan Lokal

0
196
Dosen pada Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah pada FKIP Universitas Cenderawasih (Uncen), Ina Samosir Lefaan . (Irfan /HPP)

SENTANI (LINTAS PAPUA ) – Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Jayapura melakukan penelitian terkait penggunaan bahasa lokal (daerah) yang mulai terkikis akibat jarang digunakan dalam pergaulan sehari-hari.

Dosen pada Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah pada FKIP Universitas Cenderawasih (Uncen), Ina Samosir Lefaan menjelaskan, penelitian lapangan dilakukan di kampung-kampung maupun distrik-distrik yang ada di Kabupaten Jayapura.

Hasil penelitian menyimpulkan, ternyata bahasa daerah saat ini sudah semakin jarang digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Hal ini memerlukan perhatian serius dari dinas dan lembaga terkait agar bahasa daerah tidak benar-benar menjadi punah di Papua khususnya di Kabupaten Jayapura suatu saat nanti.

Beberapa bahasa daerah bahkan sudah masuk dalam kategori kritis karena penutur (yang menggunakan bahasa daerah) sudah tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan banyak generasi muda yang sudah tidak menggunakan bahasa daerah. Salah satu contoh ada salah satu orang tua di Distrik Sentani Timur, yang menyampaikan bahwa bahasa daerah sudah tidak seperti dahulu lagi.

Salah satunya ada orang tua, yakni saya tertarik dengan salah seorang bapa kepala kampung di Distrik Sentani Timur menyampaikan, bahwa sejujurnya bahasa daerah mereka sudah tidak lagi seperti dulu. Artinya, anak muda mereka itu sudah tidak menggunakan bahasa daerah seperti orang tua di jaman dulu, mulai dari lahir sampai seterusnya menggunakan bahasa daerah, kata perempuan yang juga seorang peneliti dan literasi buku.

Ina Samosir Lefaan yang juga sudah pernah menulis dan meneliti tentang jati diti perempuan asli Fakfak di Papua Barat itu mengatakan, ketika orang tua mengajarkan bahasa daerah kepada anaknya langsung dikatakan bahasa daerah itu sebagai bahasa kuno.

“Sekarang sudah jaman now (jaman sekarang), di jaman perkembangan terkini itu lebih cenderung kepada bahasa yang modern. Nah, ini sebuah kekeliruan dan kita tidak bilang orang muda ini keliru atau salah. Tetapi, orang muda ini kadang tidak diajak komunikasi menggunakan bahasa daerah di dalam rumah. Maka itu, mari orang tua terus melakukan komunikasi berbahasa daerah itu melalui kegiatan di dalam rumah,” ujar Ina Samosir,  kepada wartawan usai seminar akhir pemetaan bahasa daerah di Aula Lantai I Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kamis (27/9/2018) kemarin.

 

Terkait hasil penelitian tersebut maka perlu kerjasama antar lembaga terkait untuk merumuskan bagaimana caranya agar bahasa daerah di Kabupaten Jayapura ini tidak tergerus jaman dan tetap terjaga, karena itu merupakan aset yang perlu dipertahankan dan dilestarikan.

 

Ina Samosir Lefaan mengharapkan, perlunya mengangkat kembali bahasa daerah yang sekarang ini sudah semakin berkurang penuturnya. Salah satunya dengan memasukkan bahasa daerah ke dalam muatan lokal.

 

“Oleh karena itu, kita dorong pemetaan dan pemertahanan bahasa daerah ini melalui Badan Litbangda. Untuk itu, kami ucapkan terima kasih, sebab dengan kegiatan bersama ini menjadikan masyarakat adat di daerah ini bisa membuka hatinya untuk betul-betul mengangkat kembali bahasa-bahasa daerah mereka,” paparnya.

 

“Sehingga mereka (orang tua atau masyarakat adat yang ada di kampung-kampung) berharap kepada kami yang melakukan penelitian terhadap bahasa-bahasa daerah ini tidak saja menjadi dokumen. Tetapi, dapat menjadi materi dalam pembelajaran atau bahasa daerah dapat diterapkan sebagai mata pelajaran muatan lokal bahasa daerah ke dalam kurikulum, ekstrakurikuler berbahasa daerah juga dapat diterapkan sebagai penunjang,”  pungkasnya. (Irfan  / Koran Harian Pagi Papua)