Balitbangda Kab. Jayapura Gelar Seminar Laporan Akhir Pemetaan Bahasa Daerah

79
Suasana Seminar Laporan Akhir Pemetaan dan Pemertahanan Bahasa Daerah yang digelar oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Jayapura bekerjasama dengan Tim Pusat Studi Wanita dan Gender Universitas Cenderawasih, yang berlangsung di Aula Lantai I Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (27/9/2018). (Irfan / HPP)

SENTANI (LINTAS PAPUA) –  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) bekerjasama dengan Pusat Studi Wanita dan Gender pada Universitas Cenderawasih (Uncen) menyelenggarakan Seminar Laporan Akhir Pemetaan dan Pemertahanan Bahasa Ibu (Daerah) Asli Kabupaten Jayapura, di Aula Lantai I Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (27/9/2018) pagi.

 

Seminar ini merupakan rangkaian akhir dari hasil penelitian tentang pemetaan dan pemertahanan Bahasa Ibu yang dilakukan oleh para peneliti di Balitbangda. Serta melibatkan akademisi atau dari Pusat Studi Wanita dan Gender Universitas Cenderawasih.

 

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Jayapura,  Haryanto menjelaskan, penelitian-penelitian tersebut ditujukan untuk mendukung visi misi Bupati Jayapura untuk menjadikan Jayapura yang Berjati Diri ini bisa terwujud.

Sekaligus sebagai bentuk dukungan terhadap mata pelajaran muatan lokal (Mulok) yang diajarkan di sekolah-sekolah di Kabupaten Jayapura ini harus ada bahasa lokal (daerah) yang masuk dalam muatan lokal tersebut.

Lanjut Haryanto, memang selama ini muatan lokal (Mulok) yang ada atau dijarkan di sekolah-sekolah di daerah ini hanya pelajaran Bahasa Inggris. Sedangkan bahasa lokal (daerah) yang ada di sekolah-sekolah di daerah ini tidak pernah sama sekali diajarkan di sekolah-sekolah untuk masuk dalam muatan lokal.

Kami berharap nanti setelah kajian ini ada rekomendasi kepada kami maupun juga kepada pemerintah ini agar ada payung hukum untuk pelestarian terhadap pemetaan dan pemertahanan bahasa ibu atau bahasa daerah, ujar Haryanto kepada wartawan usai kegiatan seminar tersebut, Kamis (27/9/2018) siang.

 

Supaya ada keberpihakan terhadap masyarakat atau orang asli Papua (OAP), agar visi misi Bupati Jayapura untuk menjadikan Jayapura yang Berjati Diri ini bisa terwujud, sambung Haryanto.

 

Sebab itu, kata Haryanto, pihaknya menganggap hal ini sangat penting untuk di dorong melalui suatu kajian akademik. Dikarenakan untuk menghasilkan suatu peraturan daerah (Perda) maka membutuhkan kajian akademik yang bisa dikeluarkan oleh perguruan tinggi.

 

“Kami melakukan penelitian pemetaan dan pemertahanan bahasa ibu (daerah) ini bekerjasama dengan Pusat Studi Wanita dan Gender pada Universitas Cenderawasih. Sehingga kami ucapkan terima kasih kepada tim, karena tadi (kemarin) dalam pemaparan materi dan presentasi yang disampaikan mereka, serta masukan-masukan dari sejumlah Perangkat Daerah (PD) maupun perwakilan sekolah-sekolah itu sangat luar biasa,”  ucap Haryanto.

 

Haryanto menyampaikan, berdasarkan penyampaian dari beberapa sumber terutama dari Komisi Harian Unesco untuk Indonesia, bahwa di Papua khususnya di Jayapura ini kurang lebih ada 400 bahasa daerah dan setiap tahunnya ada dua atau tiga bahasa daerah itu terancam punah.

 

“Jadi, salah satu usaha kami di Litbang adalah membuat kajian terhadap penelitian pemetaan dan pemertahanan bahasa ibu (daerah) dengan harapan bisa melestarikan bahasa lokal (daerah) yang ada di Kabupaten Jayapura. Maka dari tim juga sudah petakan daerah atau kampung mana saja yang bahasa ibunya sudah mulai terancam. Juga kita berupaya bagaimana cara untuk melestarikan bahasa-bahasa ibu ini tidak punah,”  paparnya.

 

Dengan demikian, kami berharap kepada tim agar secepatnya menyelesaikan kajian ini. Sehingga bisa menjadi pegangan bagi kami untuk diberikan kepada pimpinan sebagai bahan rekomendasi, apakah nanti tindaklanjutnya akan dibuat seperti keputusan bupati atau Perda.

“Supaya payung hukum itu bisa memayungi semua kegiatan belajar mengajar khususnya di tingkat sekolah dasar untuk pengembangan pelestarian terhadap bahasa ibu di daerah ini,” tukasnya. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)