Bahas Nelayan Philipina, Kepala Stasiun PSDKP Tarakan Terima Kunjungan Konsul Muda Philipina

0
820
Kepala Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Tarakan, Akhmadon SPi, MM (tengah), saat menerima kunjungan Konsul Muda Philipina di Kantornnya di Tarakan. (Foto Pribadi / ISTIMEWA)

 

Caption Foto : Kepala Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Tarakan, Akhmadon SPi, MM., saat berada di Hawai Honolulu Amerika Serikat, 15 September 2018 lalu,  dalam sebuah kunjungan ke Pelelangan Ikan segar Honolulu dan (Foto Kedua) Suasana Pertemuan dengan Konsul Muda Philipina. (Foto Istimewa).

TARAKAN (LINTAS PAPUA)  – Indonesia sebagai negara kepulauan tidak terlepas dengan masalah perbatasan negara kepulauan lainnya, namun koordinasi dan kerjasama akan sangat diperlukan untuk saling mendukung kedaulatan, sebagaimana Stasiun PSDKP Tarakan menerima kunjungan Konsul Muda Kedutaan Philipina.

Kepala Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Tarakan, Akhmadon SPi, MM., menuturkan bahwa pihaknya baru saja menerima kunjungan dari Konsul Muda Kedutaan Philipina, yakni membahas secara terperinci penanganan nelayan Philipina.

“Yah benar ada pertemuan dan kami membahas bersama  penanganan nelayan Philipina,” ujar Kepala Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Tarakan, Akhmadon SPi, MM, kepada www.lintaspapua.com  , saat dikonfirmasi, Selasa (25/10/2018).

Dikatakan, dalam pertemuan tersebut selain membahas penanganan nelayan Philipina, juga membahas masalah situasi keamanan para nelayan dan berbagai yuridiksi yang wajib dipathui para nelayan dari kedua negara.

“Tentunya diminta kepada nelayan untuk saling memahami dan memathui aturan batas negara, agar tidak terjadi ilegal fishing dan penanngkapan ikan di daerah yang bukan wilayah negaranya,” kata Akhmadon,  yang menjabat Kepala  Stasiun Pengawasan SDKP Tarakan Pertama sejak tanggal 13 Pebruari 2017 hingga saat ini.

 

Pria yang baru saja pulang belajar masalah perikanan dan kelautan Washington DC, Boston, Detroit dan Hawai Honolulu di Amerika Serikat ini, yakni terpilih dan ikut dalam program  International Visitor Leadership Program (IVLP) sebagai program pertukaran profesional utama dari  Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ini.  menuturkan, bahwa pentingnya mematuhi batas – batas wilayah laut antar negara, sehingga kepada nelayan juga agar bisa tunduk pada aturan yang ada.

Dari informasi yang dihimpun, Stasiun Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Tarakan telah mengalami peningkatan status, dari sebelumnya bernama PSDKP Tarakan. Kini stasiun tersebut menangani area Kaltim, Kaltara, dan Banjarmasin, sehingga jangkauannya lebih luas. “Armada yang dimiliki oleh PSDKP Tarakan, yaitu KP Hiu 007 dan KP Toda 02 sepanjang 28 meter untuk kegiatan patroli. Tentunya juga dilengkapi dengan senjata.

Sebelumnya diketahui terdapat masalah nelayan Filipina masuk perairan Laut Sulawesi dan dijemput oleh tim gabungan dari Kota Tarakan, yang terdiri dari Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan (KSOP), Polair, Basarnas, Balai Kesehatan Pelabuhan dan Imigrasi, pada Februari 2018 lalu, sehingga hal – hal ini juga masuk dalam diskusi dan pembahasan bersama.

“Undang –  Undang Perikanan sangat jelas mengatur soal nelayan dan semua hasil tangkapan, termasuk pelanggaran dari negara tetap ditangkap dan di proses sesuai aturan hukum, sehingga nelayan Indonesia juga harus wajib mengikutinya,” tandasnya. (Eveerth Joumilena)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here