Kiai Ma’ruf  Bertemu Tun Mahathir : Tukar Pikiran Tokoh Senior Dua Negeri Serumpun

0
89

KUALA LUMPUR (LINTAS PAPUA)  –  Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, 75 tahun, memenuhi undangan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohammad, 93 tahun, di Kuala Lumpur, Sabtu sore, 8 September ini.

 

Tun Mahathir memenangkan Pemilu Malaysia, 9 Mei 2018, dan kembali menjabat PM Malaysia, pos yang pernah diduduinya pada 1981-2003, lima belas tahun silam.

 

Tun Mahathir pun tercatat sebagai PM paling senior di dunia saat ini. Dan hadir dengan mengemban harapan perubahan baru di Malaysia.

 

Kiai Ma’ruf, yang sedang didaftarkan sebagai calon wakil presiden, mendampingi Ir. Joko Widodo, dalam Pemilu 2019, juga tercatat sebagai cawapres terdaftar paling senior dalam sejarah Indonesia.

Kiai Ma’ruf juga mengemban harapan baru untuk menjalin kembali dan terus memperkokoh sinergi nasionalisme dan keagamaan demi kemajuan Indonesia. Usia tua, tapi membawa spirit baru, spirit muda.

 

Kiai Ma’ruf dikenal kaya dengan gagasan segar. Sebelum menjadi bakal cawapres,  Kiai Ma’ruf sudah gencar menggulirkan Arus Baru Ekonomi Indonesia, yang berintikan penguatan kalangan ekonomi lemah, berkolaborasi dengan segmen ekonomi kuat.

 

Peta politik demokratik dunia tengah menghadirkan beberapa pemimpin senior di pentas politik nasional masing-masing.

 

Di Malaysia, pada pemilu 2018, hadir Tun Mahathir. Di Amerika Serikat,  pada Pemilu 2016, muncul Donald Trump,  kini 72 tahun, dengan janji perubahannya. Di Tunisia, dalam pemilu 2014, terpilih Presiden Mohamed Caid Essebsi, kini 92 tahun, memandu perubahan politik baru era Arab Spring.

 

“Saya ini sudah tua. Padahal banyak yang muda, tapi ada yang mengatakan bahwa Kiai Ma’ruf Amin itu sebenarnya masih muda dibanding dengan Mahathir Muhammad. Gara-gara Mahathir Mohamad saya ini terus menjadi muda,” ujar Kiai Ma’ruf dalam acara Pembekalan Partai NasDem, di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Minggu, 2/9/2018.

 

*

 

Pertemuan Kiai Ma’ruf dan Tun Mahathir, dua sosok senior, pemimpin negara dan pemimpin umat, dua negeri jiran di Asia Tenggara, penting untuk bertukar pikiran dan penguatan titik temu kolaborasi, untuk kemajuan kawasan.

 

Jejak Malaysia sebagai salah satu pionir pengembangan ekonomi Islam, relevan dengan rekam jejak Kiai Ma’ruf sebagai salah satu aktor penting dalam dinamisasi ekonomi Syariah di Indonesia, dua dekade terakhir.

 

Kematangan Tun Mahathir dalam mengarungi dinamika sosial-politik Malaysia pada era berbeda –1980-an dan 1990-an serta awal era baru Malaysia yang makin dinamis, memiliki kemiripan dengan Kiai Ma’ruf yang berkiprah lama dalam dua era sosial-politik berbeda: Orde Baru dan Reformasi.

 

Kiai Ma’ruf berpengalaman sebagai anggota parlemen daerah dan pimpinan ormas Islam era Orde Baru, dan terlibat dalam beberapa posisi penting era reformasi Indonesia.

 

Kiai Ma’ruf adalah salah satu ulama yang menemui Presiden Soeharto di Istana, 1998,  dan menawarkan salah satu skema transisi dari Orde Baru ke Reformasi.

 

Begitu masuk era reformasi, Kiai Ma’ruf adalah Ketua Majelis Syuro pertama PKB, salah satu partai yang lahir dari rahim reformasi di Indonesia.

 

Dalam penyelenggaraan negara,  Kiai Ma’ruf pernah menjadi Ketua Komisi Agama di DPR 1999-2004 dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang Agama pada 2007-2014. Sejak 2015, Kiai Ma’ruf menempati dua posisi strategis keumatan: Rais Am PBNU dan Ketua Umum MUI.

 

Semua itu membuat pertemuan Kiai Ma’ruf dan Tun Mahathir menjadi sangat berarti.

 

Usai bertemu PM Malaysia,  esoknya, Minggu,  9 September 2018,  Kiai Ma’ruf menghadiri acara PCI NU Malaysia dan Persatuan Pelajar Indonesia di Malaysia. (*)