Kisah Pilu Arjuna, Sang Yatim Piatu Korban Kekejaman KKB di Papua

0
653
Arjuna melihat sendiri kedua orang tuanya langsung meninggal ditempat. Sedangkan Arjuna sendiri juga tidak luput dari pembantaian dan mengalami luka menganga di kepala bagian pelipis kiri nyaris sampai ke hidung. akibat kena parang KKB. Tampak korban bersama Pamannya dalam perawatan. ( Pendam XVII/ Cenderawasih )

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) –  Arjuna Kola, bocah 6 tahun asal Kabupaten Nduga, Provinsi Papua tidak pernah membayangkan hidupnya akan tragis seperti sekarang ini.

Anak laki-laki yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) tersebut menjadi yatim piatu diusia yang masih belia.

 

Tidak hanya itu, dia secara jelas melihat peristiwa suram yang tidak pantas disaksikannya yakni pembantaian kedua orang tuanya oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang ada di Papua.

 

Kisah pilu tersebut terjadi di Kampung Koteka, Buah Tengah Distrik Kenyam KKB pada tanggal 25 Juni 2018. Kejadian berawal dari penembakan Pesawat Trigana Air Twin Otter yang dilakukan oleh KKB.

Pesawat tersebut berangkat dari Wamena menuju Kenyam yang membawa Anggota BKO Brimob sebanyak 15 orang untuk Pengamanan Pilkada. Akibat dari penembakan tersebut sang Pilot Pesawat Abdillah Kamil terkena serpihan Peluru dibagian bahu sebelah kanan dan kepala bagian belakang.

 

Setelah itu, tidak jauh dari ujung landasan tepatnya di Kampung Koteka, Buah Tengah Distrik Kenyam KKB sekitar 16 orang bersenjata laras panjang jenis AK-47 6 pucuk, FNC 2 pucuk dan Pistol 2 pucuk yang lainnya bersenjata panah, tombak dan golok menganiaya masyarakat sipil.

Mereka memaksa Masyarakat keluar rumah, setidaknya sebanyak 8 orang warga pendatang dikumpulkan dan diperintahkan duduk di depan teras.

 

Tidak lama berselang dari kejadian tersebut, Margaretha Pali, 28 tahun ibu dari Arjuna, dalam kondisi ketakutan sedang memeluk Arjuna tiba-tiba ditembak di bagian kepala, dan terluka akibat sabetan parang di lengan kiri.

Hampir bersamaan,  sang ayah Hendrik Sattu Kola, 38 tahun ditembak di bagian perut dan terkena parang di kaki kanan bagian betis.

Arjuna melihat sendiri kedua orang tuanya langsung meninggal ditempat. Sedangkan Arjuna sendiri juga tidak luput dari pembantaian dan mengalami luka menganga di kepala bagian pelipis kiri nyaris sampai ke hidung. akibat kena parang KKB.

 

Mendengar suara tembakan tersebut, lima orang lainnya secara spontan melarikan diri, namun nahas bagi Zainal Abidin 20 tahun, warga lainnya, saat hendak melarikan diri tertembak di bagian rusuk. Kisah tersebut  dituturkan A. Ahmad pria, 22 tahun asal Bugis dan Dani pria 19 thn asal Toraja, warga yang berhasil selamat melarikan diri dari kekejaman KKB.

 

Peristiwa suram tersebut membuat Arjuna kehilangan kedua orang tua yang disayanginya sehingga menyandang yatim piatu, sekaligus mengalami penderitaan cacat di wajah akibat kampak yang di sayatkan di wajahnya hingga membekas seumur hidupnya.

Arjuna adalah sebagian kecil dari korban kebiadaban KKB. Masih banyak korban-korban lain yang menjadi sasaran kebengisan KKB seperti yang dialami keluarga Arjuna.

KKB terus meneror warga sipil yang tidak berdosa, selain melakukan kekerasan dan pembunuhan brutal,  KKB juga merampas harta warga hingga memperkosa para perempuan.

 

Hingga detik ini masih banyak kriminalitas yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tersebut, tak tanggung-tanggung aparat yang bertugas di wilayah papua seperti TNI dan Polri pun menjadi kebiadaban ulah kelompok tersebut.

Serangkaian penembakan yang terjadi di Bumi Cenderawasih yang kerap membuat resah masyarakat dirasakan sekali di wilayah pegunungan.

kelompok tersebut sengaja melakukan aksi untuk mengacaukan situasi keamanan di Papua. Akibatnya, selain warga sipil, aparat TNI-Polri pun banyak juga yang menjadi korban pembunuhan KKB.

 

Keluarga Arjuna meminta TNI dan Polri menangkap pelaku penembakan keluarganya. Keluarga terutama Arjuna sangat terpukul dengan kematian korban. Sebab korban harus meninggalkan kedua anaknya yang masih kecil.

Paman Arjuna, Simon Sumari mengatakan pihak keluarga sangat berharap kepada aparat TNI Polri agar segera menangkap pelaku dan memposesnya sesuai hukum yang berlaku. Simon mengungkapkan, perbuatan KKB tersebut sangat kejam dan di luar rasa kemanusiaan.

 

Kekejaman KKB harus segera di akhiri, tidak ada sebuah tindakan yang mengatasnamakan kebenaran tetapi dengan melakukan kejahatan, tidak ada sebuah tindakan yang mengatasnamakan mencari keadilan tetapi terus melakukan kekejaman apalagi dengan sasaran warga yang tidak tahu apa-apa.

Hal tersebut hanyalah kedok untuk mencari pembenaran, yang sesunggunya adalah menghancurkan harapan, menghancurkan masa depan yang menghambat pembangunan menuju keterbelakangan yang berkepanjangan.

Apapun alasannya, kebrutalan yang dilakukan hingga saat ini tidaklah dibenarkan dan harus dihentikan karena rakyat Papua adalah juga rakyat Indonesia yang harus hidup dalam lingkungan kemerdekaan yang aman sesuai dengan cita-cita leluhur kita dahulu.

Sebagai rakyat kita hanya bisa mendukung upaya pemerintah dan aparat keamanan untuk menanggulangi masalah ini, sehingga tidak perlu adalagi Arjuna-arjuna lain yang harus mananggung berat beban hidup. ( Pendam XVII/ Cenderawasih )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here