Ketua Komisi II DPR Papua, Herlin Beatrix Monim. (Rambat/ HPP)
Gerabah merupakan alat dapur berbentuk wadah terbuat dari tanah liat yang dibakar dan memiliki fungsi untuk memasak berbagai makanan, seperti papeda, keladi, ubi, ikan dan sayur. Gerabah juga dapat digunakan untuk menyimpan sagu dan air. Masyarakat Kampung Abar, Sentani menyebut hele untuk gerabah berukuran besar dan sempe untuk gerabah berukuran kecil. Tampak digunakan untuk papeda dan ikan mujair bakar, dalam kegiatan pesta masyarakat Kampung Abar. (Eveeerth Joumilena)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Komisi II DPR Papua meminta agar pemerintah pusat mengucurkan anggaran secara khusus untuk pengembangan komuditas pangan lokal Papua, khususnya sagu.

 

Apalagi, Papua memiliki jutaan hektar tanaman sagu, yang selama ini belum tergarap secara maksimal. “Untuk mengembangkan sagu di Papua ini, tentu butuh dukungan anggaran dari pusat, melalui APBN untuk Papua,“ kata Ketua Komisi II DPR Papua, Herlin Beatrix Monim, kemarin.

 

Diakui, pihaknya tidak kaget ketika bersama Pemprov Papua melakukan kunjungan ke Kabupaten Meranti, Provinsi Riau untuk mengikuti simposium sagu di daerah itu untuk melihat pengelolaan sagu di daerah itu, tteapi justru menjadi motivasi bagi Provinsi Papua.

 

“Dalam tinjau kami di sana, terlihat hanya berapa kelompok saja yang mengelola sagu. Bahkan hutan di sana, bukan hutan alami, tetapi hutan budidaya. Tapi, pusat memberikan perhatian serius, maka sudah pasti kalau disana ketika mendapat bantuan hampir Rp 20 miliar – Rp 30 miliar pertahun. Nah, itu jadi motivasi bagi Papua mengembangkan sagu,“ kata Beatrix Monim.

 

Untuk itu, kata Beatrix Monim, pemerintah harus mendorong melalui pemerintah pusat melalui dana APBN, harus memberikan anggaran khusus dalam memperhatikan pangan lokal di Papua.

Papeda dan Ikan Mujair, siap disantap dengan hiloy (garpu bale papeda). (Eveerth Joumilena /Koran Harian Pagi Papua)

Sebab, Papua memiliki potensi sagu mencapai jutaan hektar terbesar di dunia, dibandingkan Kabupaten Meranti yang hanya 100 ribu hektar saja.

 

Untuk itu, Komisi V DPR Papua akan berupaya mendorong untuk penganggaran khusus menangani masalah sagu di Papua, mulai dari hulu sampai hilir. Bukan saja, produksi saja, tetapi pengelolaan, pembinaan kepada petani, bahkan pemasaran hasilnya.

 

Komisi V DPR Papua juga akan memberikan perhaian kepada masyarakat pemilik hak ulayat dalam pengelolaan pangan lokal itu, salah satunya dengan membuat regulasi berupa perdasus dengan mendorong perdasus tentang masyarakat hukum adat.

 

“Ini harus kita dorong dulu, sebagai pagar yang membentengi masyarakat untuk bisa bersama-sama terlibat langsung dalam membangun pangan lokal ini, sehingga jika masyarakat diberikan ruang untuk proses pembangunan, tentu tidak ada lagi palang memalang,” jelasnya.

 

Bahkan, perdasus itu diharapkan bisa dibahas dan disahkan pada sidang paripurna non APBD tahun 2018.

Hutan Sagu Disekitaran Danau Sentani di Kampung Ayapo (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)

Diakui, untuk pangan lokal ini, sebenarnya sudah ada surat edaran gubernur dimasa kepemimpinan periode pertama, Lukas Enembe – Klemen Tinal untuk memproteksi pangan lokal. Namun, perlu direvisi lebih detail lagi dan butuh aksi nyata dari pemerintah.

 

“Misalnya mewajibkan instansi pemerintah untuk menyajikan pangan lokal setiap kali ada acara, begitu juga hotel dan restoran harus menyediakan menu pangan lokal untuk dikonsumsi, sehingga masyarakat termotivasi turut mengembangkan pangan lokal,“ ujarnya.

 

Politisi Partai Nasdem ini menambahkan, jika untuk pengembangan sagu di Papua ini, membutuhkan anggaran yang cukup besar, tidak bisa mengandalkan dari APBD Provinsi Papua, tapi butuh dukungan dari APBN. Apalagi, di Papua terkendala dengan harga yang tinggi.

 

“Kita bisa menumbuhkan industri sekali kecil, termasuk home industri sagu, yang dapat diolah menjadi berbagai varian produk sagu, misalnya tepung sagu, kue, beras sagu, cendol sagu, etanol dan lainnya, sehingga harus didukung sarana dan prasarana memadahi,“ imbuhnya. (Rambat/mas / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here