Wabup Giri Serahkan 177 Remisi Bagi Warga Binaan Lapas Narkotika Doyo

0
569
Wakil Bupati (Wabup) Jayapura Giri Wijayantoro ketika menyerahkan surat pengurangan masa tahanan. (Irfan / HPP)

SENTANI (LINTAS  PAPUA) – Sempena HUT RI ke-73 tahun 2018, juga membawa kebahagiaan bagi para warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II A Narkotika Doyo di Kabupaten Jayapura, tahun ini sesuai surat keputusan Menteri Hukum dan HAM RI sebanyak 177 orang narapidana (Napi) menerima remisi.

Surat pengurangan masa tahanan ini diserahkan langsung oleh Wakil Bupati (Wabup) Jayapura, Giri Wijayantoro kepada dua orang perwakilan Narapidana, didampingi Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Ka.Lapas) Narkotika Doyo, Basuki Wijoyo, Jumat (17/8/2018).

Turut hadir dalam acara penyerahan surat remisi itu, Kapolres Jayapura AKBP Victor Dean Mackbon, S.H., S.IK., M.H., M.Si, Ketua DPRD Kabupaten Jayapura Edison Awoitauw, S.T., Anggota DPRD Kabupaten Jayapura, Abraham Demonggreng, Wakil Ketua TP-PKK Kabupaten Jayapura Ny. Siti Aisah Wijayantoro dan sejumlah Kepala OPD di lingkup Pemkab Jayapura.

Kepada wartawan usai penyerahan remisi, Ka. Lapas Narkotika Doyo, Basuki Wijoyo menyampaikan, saat ini jumlah warga binaan di Lapas Narkotika Doyo berjumlah 405 orang. Jumlah tersebut dinilai sudah over capasitas karena Lapas Narkotika Doyo idealnya ditempati oleh 308 orang. Akibatnya satu kamar sel bisa diisi hingga 10 sampai 15 orang.

Lapas Narkotika Doyo sini memang Lapas Narkotika. Tetapi, nomenklaturnya di Kementerian Hukum dan HAM ini masih di godok agar nomenklatur di Lapas Narkotika ini betul-betul ada seksie atau sub seksie, yang betul-betul menangani masalah Narkotika, ya mirip-mirip ke BNN. Tapi, kita di Lapas Doyo ini belum ada, sehingga kita sama saja dengan Lapas Abe secara umum, ujarnya.

Sedangkan dalam aturannya berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) 28 dan 29 itu, kata Basuki Wijoyo, antara Lapas umum dengan Lapas non umum (pidana tertentu) itu sangat dibedakan.

“Sehingga kebanyakan akhir-akhir ini atau lima tahun belakangan selama ini banyak ribut-ribut di Lapas, karena adanya diskriminasi antara pidana umum dengan pidana tertentu. Akibat tidak dibedakan antara Lapas umum dengan Lapas Non umum itulah yang sering terjadi. Tapi, syukur Alhamdulillah ini sudah berkurang dan mereka sudah menyadarinya, karena mereka pidana tertentu berarti harus diperlakukan juga oleh peraturan tertentu,”  imbuhnya.

Dikatakan Basuki, narkoba jenis Ganja itu sangat legal di Papua New Guinea (PNG) yang dekat dengan Jayapura yang merupakan wilayah Perbatasan antara RI dengan PNG, sehingga ini menjadi tantangan dan menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi semua aparat terkait dimulai dari Kepolisian, Imigrasi di Perbatasan dan Bea Cukai.

Salahsatu dampaknya jika mereka tertangkap dan masuk dalam ranah pidana, maka mereka dikirim ke Lapas Doyo ini, baik sebagai kurir atau pengedar. Kebanyakan yang masuk di Lapas ini adalah pengedar. Kami juga yakin kepada pihak BNN selama ini sudah menyaring sedemikian rupa, yang tidak perlu masuk Lapas maka di rehab, katanya.

“Jadi seumpamanya kalau BNN tidak melakukan penyaringan itu, betapa banyaknya yang masuk disini maka kita bisa over kapasitas. Dari kapasitas 308 orang tersebut, kita sekarang isinya sudah 405 itu sangat over kapasitas,” sambung Basuki Wijoyo.

Dari jumlah keseluruhan warga binaan sekitar 405 itu, yang memperoleh remisi sebanyak 177 orang.

Jadi, dalam rangka perayaan HUT kemerdekaan RI yang ke-73, maka Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Keppres 174 tahun 1999 itu memberikan remisi umum (RU). Pemberian remisi umum di Lapas Narkotika Doyo, berdasarkan PP nomor 28 tahun 2006 dan PP nomor 99 tahun 2012, dari jumlah narapidana sebanyak 311 yang menerima remisi itu sebanyak 177 orang. Remisi diberikan kepada 177 orang itu, katanya.

Kalau dirincikan yang diberikan sebanyak 2 bulan itu ada 16 orang, 3 bulan ada 43 orang, 4 bulan itu ada 6 orang dan remisi sebanyak lima bulan itu hanya 1 orang. Sementara yang normal, atau pidana dibawah lima tahun itu remisi diberikan 1 bulan itu ada 52 orang, sebanyak 2 bulan ada 30 orang, 3 bulan itu ada 54 orang, 4 bulan ada 3 orang dan lima bulan ada 1 orang, sehingga jumlahnya 140 orang dan klau ditotalkan secara keseluruhan itu berjumlah 177 orang, jelasnya menambahkan.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Bupati Jayapura Giri Wijayantoro mengucapkan selamat kepada warga binaan pemasyarakatan di Lapas Narkotika Doyo yang memperoleh remisi.

Kami harap yang sudah menerima remisi itu hendaknya prilakunya baik. Setelah mereka masuk menjadi warga binaan di Lapas, mereka betul-betul bisa menyadari kesalahannya dan mau memperbaiki perilakunya. Supaya ketika bebas nanti juga mereka tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama, harap Wabup Giri.

Menurutnya, remisi itu adalah bukti pembinaan di Lapas telah dpaat melembutkan jiwa dan rasa, sehingga mampu berkarya seni. Hal itu juga dapat merubah perasaan yang mengarah pasca perbuatan kriminal dapat diminmalisir, sehingga saat kembali ke masyarakat para warga binaan dapat berintegrasi kembali secara sehat.

Kelemahan-kelamahan yang selama ini ada di Lapas itu, kita berharap kepada warga sekitar Lapas juga bisa menjadi satu tameng atau pagar buat Lapas. Seandainya ada yang keluar (kabur) atau lari dari Lapas, maka masyarakat bisa mengontrolnya, tutur Giri.

Saya berharap, mudah-mudahan remisi ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan datang, pungkas Wabup Giri Wijayantoro. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here