Merah Putih di Hutan Bakau : Forum Komunitas Jayapura Upacara Bendera Sambil Lestarikan Mangrove

0
897
JIWA RAGA KAMI. Upacara bendera 17 Agustus 2018 di hutan mangrove Hanyaan Entrop Kota Jayapura, menjadi sejarah kreativitas anak muda Jayapura. Upacara yg baru pertama kali dilakukan di Jayapura dengan semua peserta berada di atas rakit/perahu yang dibuat dari botol dan jerigen bekas. Merdeka bangsaku, Kami tetap bangga. Salam hijau. (Foto Mugix Purtnoy Facebook)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Sekumpulan anak muda yang tergabung dalam Forum Komunitas Jayapura (FKJ), membuat sesuatu hal yang baru pada peringatan HUT RI ke 73 tanggal 17 Agustus 2018, mereka melakukan upacara bendera di dalam hutan bakau sungai Hanyaan Entrop Jayapura.

Dengan menggunakan rakit yang terbuat dari botol air mineral dan jerigen,  para pembawa bendera berbaju putih hitam, diantar  ke tengah hutan bakau, demikian juga inspektur upacara dan pemimpin upacara mereka menggunakan rakitnya masing-masing yang ukurannya tidak terlalu besar, maksimal hanya bisa untuk 4 orang.

Dikelilingi hutan bakau, tiang bendera yang terbuat dari bambu sudah siap untuk mengibarkan bendera, sementara bendera lainnya mengeliling area upacara di hutan bakau.
Dengan menggunakan 8 rakit, 17 dayung mengantarkan 45 peserta upacara ke lokasi upacara yang sudah dikelilingi 73 bendera.

Kendati upacara dilaksanakan dihutan bakau tidak mengurangi khikmatnya upacara, dengan seksama para peserta upacara mengikuti upacara yang berlangsung sekitar 1 jam.
Ketua Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG), Freddy Rudolfo Agaki Wanda mengatakan, selaku pemerhati lingkungan secara khusus pencinta hutan mangrove, dilakukannya upacara bendera di hutan mangrove atau bakau, mengingatkan bahwa hutan bakau merupakan sumber kehidupan, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di pesisir.


“Hutan bakau ini harus dijaga, karena ini sumber kehidupan, didalamnya terdapat berbagai jenis ikan, kepiting, kerang dan sebagainya. Dengan pesatnya pembangunan jangan mengorbankan hutan mangrove, karena jika hutan mangrove dikorbankan, maka akan terjadi kemiskinan yang terstruktur,” katanya.

Jika tidak ada hutan mangrove, masyarakat yang biasa mencari ikan, kepiting maupun kerang untuk di jual maupun dikonsumsi, mau kerja apalagi untuk menghidupi keluarganya, karena penghasilan mereka hanya mengandalkan apa yang ada dalam hutan mangrove.

Sementara itu, Koordinator Kegiatan,  Abdel Gamel Naser mengatakan, persiapan untuk upacara bendera di hutan bakau hanya 2 minggu, dari berbagai program yang diusulkan  para pengurus Forum Komunitas Jayapura, ternyata upacara bendera di hutan bakau yang sepakati.

“Jadi kami mulai mendesain dan merancang, teknisnya bagaimana upacara di hutan bakau, untuk 8 rakit yang kami buat sendiri, menghabiskan 500 jerigen ukuran 5 liter, juga 400 botol air minum kemasan 1,5 liter,” katanya.


Diakuinya yang terlibat dalam pelaksanaan upacara bendera di hutan bakau diantaranya dari Polda Papua,  Lantamal X, BPBD, Basarnas dan berbagai komunitas.

“Karena ini yang pertama, jadi saya rasa masih banyak kekurangan dan kedepan bisa lebih baik lagi,” katanya. (nn/ab / KORAN HARIAN PAGI PAPUA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here