Evaluasi Total Ulang Tahun RI ke- 73 diatas Tanah Papua

0
743
Ilustrasi Samuel Tabuni menunjukan ruang belajar dan model belajar online learning kepada Asisten I Setda Papua, Doren Wakerkwa dan para tamu, usai peremian Papua Language Institute di Jayapura (Eveerth Joumilena /lintaspapua.com)
CEO dan Direktur PLI, Samuel Tabuni (Eveerth Joumilena /LintasPapua.com)

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA)  – Menyikapi Berbagai gejolak dan sambut Hari Kemerdekaan Indonesia, Seorang Tokoh Muda Berpengaruh yang juga intelektual Muda Papua, Samuel Tabuni, memberikan beberapa komentar dalam rangka HUT RI ke – 73 di Tanah Papua.

“Saya inginkan semua kebijakan pembangunan di Tanah Papua perlu dievaluasi total. Perlu ada tolak ukur yg rasional dan terukur sejauhmana orang Papua asli yg berjumlah 4jutaan terlayani dgn baik oleh Pemerintah,” tuturnya dalam sebuah tulisan.

Dikataakn, bahwa apa saja faktor-faktor penghambat pembangunan di Tanah Papua? Kenapa sebagian orang Papua Asli belum puas dgn semua program pemerintah selama ini? Introspeksi sangat penting, kita sudah kerja dan jalan betulkah diatas Tanah Papua?

Maksud saya, idealnya setiap perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan di Tanah Papua harus ada evaluasi kinerja pertahun untuk lebih merdeka ditahun berikutnya dalam semua aspek kehidupan seperti; Pendidikan, Kesehatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat Asli Papua dll.

Sayangnya, selama ini kita merayakan kemerdekaan 17 Agustus setiap tahun dengan arti yang kosong atau sebatas seremonial biasa atau pura-pura merdeka penuh dan berdaulat penuh diatas penderitaan yang sebenarnya mencekik sendi-sendi kehidupan kewarganegaraan kita.

Sementara, dirinya  melihat Negara Indonesia bukan milik warga Indonesia lagi dari aspek pengelolaan SDA, ketahanan pangan, ekonomi kreatif dan pembangunan infrastruktur, hampir semua aspek diatas dikuasasi oleh warga asing yg bukan warga negara Indonesia.

“Mereka bukan ber-ktp Indonesia, mereka bukan merayakan HUT Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus, mereka juga bukan setiap 17an naikan bendera Merah Putih didepan rumah, juga mereka bukan pejuang kemerdekaan Indonesia tentunya.

Tetapi itu adalah resiko dan fakta era globalisasi saat ini bahwa menjadi warganegara saja tidak cukup, harus diimbangi dengan kreativitas, inovasi dan kualifikasi standar mutu yang produktif dan profesional, dengan demikian kita kuat dan terhindar dari penjajahan jilid II era digital dan era globalisasi saat ini.

Akhir kata, “Nasionalisme seorang warga Negara akan bertumbuh berdasarkan kenyamanan kewarganegaraannya”

“Selama warga Negara itu tidak nyaman dalam negaranya, sebenarnya dia sedang memikirkan pindah warga negara”

Selamat Merayakan HUT Republik Indonesia yang ke-73.

Jayapura, 17 Agustus 2018

Salam Damai
(Samuel Tabuni & Family)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here