Kebinekaan Menjadi Sumber Energi Kemajuan Bangsa

0
456

JAKARTA (LINTAS PAPUA)  – ”Selama 73 tahun kita sudah menunjukkan diri sebagai bangsa yang tangguh, bangsa yang tahan banting, bangsa yang ingin terus berprestasi meraih kemenangan dan kemajuan. Pada usia yang ke-73 tahun ini, kita terus bekerja, ikhtiar, berjuang untuk mengejar prestasi bangsa, karena harus kita akui, ada beberapa negara lain yang mencapai kemajuan lebih cepat dibanding negara kita.”

 

Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo saat berpidato di hadapan Sidang Bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD-RI, Jakarta, pada Kamis, 16 Agustus 2018.

 

Namun demikian, Presiden juga mengatakan bahwa bangsa Indonesia harus bersyukur karena masih lebih baik dibanding banyak negara lain. Menurut Presiden, Indonesia telah mampu memanfaatkan kebinekaan dengan ciri khas budayanya masing-masing dan dengan kearifan lokalnya masing-masing untuk menjadi sumber energi kemajuan bangsa, menjadi sumber energi yang tidak pernah habis, menjadi sumber inspirasi bagi seluruh anak bangsa, menjadi sumber kreativitas untuk memenangkan dan mengharumkan nama bangsa dan negara dalam pentas persaingan global.

“Kita bersyukur memiliki Pancasila sebagai sumber energi ideologis bangsa, yang memandu seluruh anak bangsa dalam mewujudkan janji-janji kemerdekaan. Pancasila adalah bintang pengarah, penggerak, sumber inspirasi, dan sekaligus sebagai pemersatu bangsa Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Dengan berpegang teguh pada Pancasila, saya yakin kita akan menjadi bangsa yang berdaulat dan bermartabat dalam pergaulan bangsa-bangsa lain di dunia, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi,” kata Presiden.

 

Selain itu, Presiden menyampaikan rasa syukur juga harus dipanjatkan oleh bangsa Indonesia dalam kaitannya sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, sekaligus menjadi negara demokrasi terbesar keempat di dunia. Menurutnya, sebagai bangsa kita telah berhasil lepas dari ketakutan terhadap ancaman instabilitas dan kekerasan politik dalam setiap regenerasi kepemimpinan nasional maupun daerah.

 

Hal tersebut, sambung Presiden, terlihat pada 101 pemilihan kepala daerah serentak di tahun 2017 dan 171 pemilihan kepala daerah serentak di tahun 2018 yang telah berhasil dilaksanakan dengan aman dan damai. Rakyat menyambut pesta demokrasi itu dengan kegembiraan, dengan antusiasme yang tinggi, serta kedewasaan politik yang semakin matang.

 

“Saya yakin, dengan pengalaman yang panjang dalam berdemokrasi, Insya Allah, Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden secara serentak di tahun 2019 akan berlangsung dengan aman, damai, dan demokratis,” kata Kepala Negara.

Hal ini disampaikan Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden,  Bey Machmudin, melalui press release yang diterima via email, di Jakarta, Kamis (16/8/2018).

 

Walaupun banyak yang harus disyukuri, namun Presiden mengingatkan agar kita tidak boleh cepat berpuas diri. Menurutnya, Indonesia harus mengejar ketertinggalannya dari negara-negara lain yang mampu berlari lebih cepat dalam menggapai kemajuan, menjadi negara maju yang bisa berdiri sejajar dengan negara-negara maju lainnya di dunia, serta menjadi negara yang berdaulat, bermartabat, dan dihormati negara-negara lain di dunia.

 

Oleh karena itu, kata Presiden, kita harus memperkuat fondasi dan mengumpulkan energi untuk melakukan lompatan kemajuan. Selain itu, kita juga harus berani melakukan terobosan untuk melompat jauh ke depan, berani membuat kebijakan yang hasilnya tidak kita nikmati saat ini, tapi membuat langkah kita ke depan menjadi lebih cepat.

 

“Kita tidak boleh terjebak dalam pragmatisme jangka pendek, yang justru membuat jalan kita melambat di masa depan. Kita tidak boleh terjebak pada status sebagai negara berpenghasilan menengah. Kita tidak boleh terkena middle income trap, tapi kita harus berhasil menjadi negara maju, menjadi Indonesia yang maju,”

 

Menurut Presiden apa yang telah dilakukan bangsa Indonesia kemarin dan saat ini bukanlah semata-mata untuk memecahkan masalah masa kini atau masalah satu-dua tahun ke depan, tetapi juga menjadi bagian dari lompatan kemajuan Indonesia untuk menjawab masalah-masalah bangsa di masa depan. Kepala Negara memberikan contoh keberhasilan Timnas Sepakbola Indonesia U-16 yang menjuarai turnamen ASEAN Football Federation pada 11 Agustus 2018. Tim yang masih berusia 16 tahun ke bawah ini, lanjut Presiden, adalah masa depan sepakbola Indonesia, mereka adalah masa depan Indonesia.

“Benih-benih harapan untuk kejayaan bangsa Indonesia dari hari ke hari semakin bersemai. Putra-putri Indonesia yang mengibarkan bendera Merah Putih di pentas dunia semakin banyak. Prestasi gemilang yang membanggakan kita semua, diraih oleh putra-putri Indonesia dalam berbagai kompetisi tingkat dunia, dalam kompetisi bidang sains dan teknologi, lomba hafal Al-Quran, festival seni dan budaya, kejuaraan olah raga serta berbagai kompetisi lainnya. Kita berhasil menggaet posisi terhormat. Prestasi yang diraih anak-anak bangsa tersebut harus didukung oleh ekosistem yang kondusif sehingga bisa lebih berkontribusi untuk Indonesia maju,” ujarnya. (Eveerth Joumilena)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here