RASA MALU

0
999

Rabu16 Agustus 2018
Bacaan Setahun:
Yohanes 1:35-51
1 Tawarikh 9
Hagai 1:1-2:23

 

_“Sesungguhnya, dari yang kecil sampai yang besar di antara mereka, semuanya mengejar untung, baik nabi maupun imam semuanya melakukan tipu…… Seharusnya mereka merasa malu, sebab mereka melakukan kejijikan; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu …..”_ Yeremia 6:13-15

Nabi Yeremia menyaksikan pemandangan yang mengerikan yang terjadi pada umat Tuhan. Untuk menyembunyikan dosa, mereka membangun kehidupan di belakang kedamaian dan keamanan yang palsu.

Ketamakan dan kerakusan memenuhi hidup mereka yang dikamuflasekan dengan hati yang pura-pura hancur. Seluruh kehidupan mereka penuh dengan kepalsuan air mata palsu, pertobatan palsu, dan penyembahan palsu. Umat Allah kehilangan “sense of shame” (rasa malu) dan kedukaan karena dosa. Mereka tidak lagi memandang Allah sebagai Allah yang murka terhadap dosa. Yeremia berteriak, “Seharusnya mereka merasa malu…..” Tetapi mereka tidak punya malu.

Mengapa wajah mereka tidak kemerah-merahan karena menahan malu? Tidak! Mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka. Dari pemimpin mereka, pendeta, penginjil, diaken, pimpinan paduan suara, pemain musik, pemimpin pujian, guru-guru sekolah minggu, sampai jemaat semuanya terlibat dalam dosa. Khotbah yang didengar setiap minggu bertemakan berkat dan kasih Allah yang tak berkesudahan. Tidak disinggung sedikit pun akan penghukuman Allah dan murka-Nya terhadap orang yang berdosa.

Karena hal ini akan membuat telinga pendetanya memerah, dan orang-orang “penting” dalam gereja akan kabur ke gereja lain. Firman Tuhan berkata, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran”(2 Timotius 4:2). Firman Tuhan harus diberitakan secara keseluruhan. Teguran harus disampaikan bagi mereka yang hidupnya tidak benar.

Tidak ada rasa nyaman saat khotbah disampaikan bila temanya tentang penghukuman dan pengadilan bagi orang berdosa. Dan gara-gara khotbah Jonathan Edwards yang keras ini Sinners In The Hands Of An Angry God (Orang Berdosa Dalam Tangan Allah yang Murka), membuat orang-orang yang mendengarnya menggigil ketakutan, dan mereka meraung-raung memohon belas kasihan Allah.

Orang-orang yang mendengarnya diinsyafkan akan dosa-dosa mereka. Ya, khotbah semacam ini akan menyadarkan orang yang terbuai dalam jebakan dosa dan mengembalikan mereka kepada tangan Allah yang penuh kasih.Kita sedang berada di penghujung milenium ketiga.

Tanda-tanda dunia semakin nyata bahwa kuantitas dan kualitas dosa semakin meningkat. Kehidupan masyarakat Sodom dan Gomora terulang bahkan semakin parah pada zaman ini. Apakah kita ikut-ikutan dengan perbuatan mereka yang tidak tahu malu berbuat dosa itu?(DH)

Questions:
1. Mengapa kita harus malu terhadap perbuatan dosa kita?
2. Apakah Anda membutuhkan kotbah yang keras seperti tentang murka Allah terhadap dosa, bukan sekedar kotbah berkat saja? Diskusikan!

Values:
Setiap warga Kerajaan akan lebih menyukai tegoran yang keras untuk kebaikannya kembali kepada tangan Tuhan yang penuh kasih.

Jika rasa malu Anda terhadap hal dosa sudah hilang, jangan-jangan Tuhan pun akan malu mengakui Anda sebagai warga Kerajaan-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here