SENTANI (LINTAS  PAPUA) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura mendorong masyarakat di wilayah itu untuk beternak ayam kampung. Pasalnya, selama ini pasokan ayam untuk kebutuhan wisatawan di hotel dan restaurant di datangkan dari luar Bumi Khenambay Umbay.

 

Wakil Bupati (Wabub) Jayapura, Giri Wijayantoro kepada Harian Pagi Papua, Kamis (2/8/2018) lalu, mengatakan masyarakat Kabupaten Jayapura harus kreatif dan inovatif dalam mengembangkan usaha ayam kampung untuk meningkatkan ekonomi masyarakat di Kabupaten Jayapura.

 

Apalagi kebutuhan ayam di sejumlah hotel dan restoran di Kota Sentani sangat tinggi. Sangat disayangkan jika didatangkan dari luar daerah. Salah satu usaha yang berpotensi dari segi pendapatan adalah beternak ayam kampung.

 

Dia mengatakan, salah satu contoh yang dilakukan oleh Pemkab Jayapura dalam hal ini Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) pada Kamis (2/8/2018) pagi lalu telah menyerahkan bantuan 250 bibit ayam kampung kepada 23 Kepala Keluarga (KK) yang ada di Kampung Yongsu Desoyo, Distrik Raveni Rara, Kabupaten Jayapura yang ingin beternak ayam.

Kami dari Pemda Kabupaten Jayapura buka pintu selebar-lebarnya kepada masyarakat yang ingin beternak ayam, tutur Giri.

 

Giri mengaku, alasan dirinya mendorong masyarakat Kabupaten Jayapura beternak ayam dikarenakan proses beternak ayam kampung sangat mudah, tidak membutuhkan waktu yang lama serta modalnya sedikit.

 

“Selain itu, permintaan ayam kampung sangat tinggi di Kota Sentani. Dengan masyarakat Kabupaten Jayapura serius beternak, maka dipastikan hotel dan restoran di Kota Sentani tidak membeli ayam dari luar daerah,” katanya.
.

Giri melihat pentingnya usaha ini dari sisi ekonomi. Sebab, menurutnya, beternak ayam sangat relevan dengan kebutuhan pasar, khususnya di Kabupaten Jayapura yang merupakan kota jasa dan banyak memiliki obyek wisata.

 

“Bayangkan saja kalau ada ratusan ribu penduduk di Kabupaten Jayapura, dan sepuluh persennya mengkonsumsi telur, itu berarti kita membutuhkan 25-30 ribu butir telur per hari atau setara dengan Rp 70-Rp 90 juta uang yang dikeluarkan per hari,” katanya.

 

Dan selama ini, semua itu didatangkan dari luar Papua. Kalau kita yang beternak ayam maka uang itu bisa menguntungkan kita, tambah Giri.

 

“Untuk mendukung warga Kabupaten Jayapura, Giri mengatakan, Pemda Kabupaten Jayapura siap memberikan bantuan anak ayam bagi yang serius ingin beternak,”

 

Warga Kampung Yongsu Desoyo, Distrik Raveni Rara, Berto mengaku selama ini warga di kampungnya beternak ayam dengan cara tradisional. Beternak ayam bukan menjadi pekerjaan utama masyarakat, dikarenakan masyarakat masih fokus mengurus sektor perikanan atau berprofesi sebagai Nelayan.

 

“Sangat bagus jika masyarakat didorong untuk diberi pelatihan cara beternak ayam. Hal itu dikarenakan selama ini masyarakat memelihara ayam kampung dengan cara tradisional, tuturnya.

 

Ia mengakui permintaan ayam kampung disejumlah Distrik di Kabupaten Jayapura sangat tinggi. Selain untuk kebutuhan adat, diperlukan juga untuk kebutuhan pesta. Warga kampung yang tidak memelihara ayam terpaksa harus membeli ayam di Jayapura. Harga ayam kampung di pasar-pasar tradisional di Kabupaten Jayapura sangat mahal. Hal itu disebabkan ayam Kampung didatangkan dari luar Kabupaten Jayapura.

 

Beternak ayam Kampung memang bukan pekerjaan yang memberatkan masyarakat karena tidak membutuhkan waktu yang lama untuk serius memperhatikan ayam. Kami sangat senang jika Pemkab Jayapura mendorong masyarakat di Kampung untuk tekun beternak ayam, katanya. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)