Setelah satu tahun persiapan, acara ISIC ke-18 digelar, sebuah pentas ilmiah tertinggi yang diselenggarakan setiap tahunnya oleh para pengurus PPI-UK terpilih selama ini, kali ini dalam menyatukan lebih dari 300 pemuda-pemudi cerdas Indonesia, – mahasiswa yang sedang belajar di tingkat sarjana, pascasarjana dan doktoral. (ISTIMEWA)

COVENTRY, INGGRIS  –  Konvensi Ilmiah Internasional Mahasiswa Indonesia ke-18 (ISIC 2018) bertemakan, “Mengintegrasikan dan Memberdayakan Generasi Muda melalui Kesatuan dalam Keberagaman untuk Pembangunan Masa Depan Indonesia” dimulai hari ini di University of Coventry.

 

Acara pembukaan digelar di Albany Theatre, University of Coventry hari ini (Sabtu, 21/07/2018) oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris, Republik Irlandia dan IMO-PBB: yang terhormat Dr. Rizal Sukma. Disaksikan oleh Dr. Ir. Unggul Priyanto, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Menristek RI; Ketua ISIC2018: Gabriella Alodia, ST, MSc., Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia di Inggris (PPI-UK); dr. Eric Daniel Tenda, SpPD, FINASIM dan perwakilan tuan rumah dari Universitas Coventry: Dr. David Pilsbury.

 

Pemilihan Presiden Jokowi pada tahun 2014 dan perjuangannya untuk “Sembilan Prioritas Agenda Nasional” mencakup empat aspek penting: (i) Pengembangan ekonomi dan peningkatan produktivitas; (ii) Pengentasan kemiskinan dan kebijakan afirmatif; (iii) Penindasan ketidaksetaraan di berbagai daerah; dan (iv) Stabilitas politik dan keamanan, keadilan dan kepastian hukum, dan promosi budaya.

 

Para pembicara utama menekankan bahwa Indonesia akan memanen surplus demografis generasi muda yang berpendidikan tinggi, yang akan meningkatkan produktifitas dan kreatifitas di Tanah Air.

Semenjak perkumpulan pemuda Indonesia kedua yang berkumpul dua puluh tahun sebelum Kemerdekaan menyatakan: “Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa,” sekarang ini jumlah orang Indonesia yang berpergian untuk belajar ke luar negeri serta mengasimilasi cara berpikir yang berbeda sehingga dapat memahami  pemikiran independen/mandiri di bukan negrinya sudah bukan main banyaknya.

 

Empat panelis kunci mengawali konvensi ilmiah ini, termasuk Dr. Ir. Unggul Priyanto, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Menristek RI, yang terhormat Dr. Rizal Sukma – Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris, Republik Irlandia dan IMO-PBB, Bapak Wimboh Santoso – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan dan Bapak Ahmad Yuniarto – Pendiri dan Ketua Yayasan Biru Peduli, CEO Schlumberger Group Indonesia. Moderator adalah salah seorang pakar pemberitaan di Indonesia, Desi Anwar – sekarang berprofesi sebagai senior anchor dan Direktur CNN Indonesia.

Profesor E. Aminudin Aziz, Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di London mengakui pentingnya acara ini pada buku panduan konvensi dalam catatan selamat datangnya, antara lain, “ISIC berfungsi sebagai forum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan luasnya peluang yang akan dibangun sementara belajar di luar negeri,” tambahnya, “Sangat bersyukur bisa melihat kerja Kepengurusan ISIC ke-18 dari PPI-UK, yang adalah satu dari yang paling aktif di dunia.”

Sejak pemilihan PPI-UK untuk kepengurusan 2017/18 ini, “Kami menerima dukungan signifikan dari Kedutaan Besar Indonesia di London,” kata dr. Eric Daniel Tenda, SpPD, FINASIM, Presiden PPI-UK.” Dia menjelaskan, “Kerjasama erat ini juga membantu diplomasi Indonesia di Inggris, bahkan rencana kerja kami berupa 47 kegiatan prioritas untuk tahun ini telah disetujui berdasarkan diskusi dan dukungan dari Pemerintah Indonesia, melalui Kedutaan Besar Indonesia di London. ” Setelah satu tahun persiapan, acara ISIC ke-18 digelar, sebuah pentas ilmiah tertinggi yang diselenggarakan setiap tahunnya oleh para pengurus PPI-UK terpilih selama ini, kali ini dalam menyatukan lebih dari 300 pemuda-pemudi cerdas Indonesia, – mahasiswa yang sedang belajar di tingkat sarjana, pascasarjana dan doktoral.