Hendrik Yance Udam : Nduga Aman, Jangan Sebar Berita Hoax

0
1222
Ketua Umum Gerakan Nasional Rakyat Cinta NKRI, Hendrik Yance Udam, bersama pengurus lainnya saat memberikan keterangan pers. (Paul /HPP)

Masyarakat Diminta Percaya Kepada Langkah Kerja Kepolisian

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA) – Ketua Umum Gerakan Nasional Rakyat Cinta NKRI, Hendrik Yance Udam, mendukung langkah Kepolisian Daerah Papua dalam penegakan hukum terhadap kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang selama ini berulah di wilayah Pegunungan Tengah Papua, hingga belakangan ini melakukan aksi teror berupa penyerangan pesawat Twin Otter disertai penembakan yang mengakibatkan tewasnya dua warga sipil serta satu anak kecil yang kritis akibat dibacok kelompok tersebut di sekitar Bandara Kenyam, Kabupaten Nduga.

 

Ia juga meminta masyarakat agar tidak percaya terhadap berita hoax yang sempat beredar di media social terkait fakta terbalik yang dituduhkan ke aparat kepolisian dan TNI atas penegakan hukum terhadap 4 kelompok KKB yang bersembunyi di pemukiman warga di Kampung Alguru, Distrik Kenyam.

 

“Setibanya di Papua, Saya langsung berkoordinasi dengan Kapolda Papua, saya juga berkoordinasi dengan Pangdam XVII Cenderawasih melalui Kasdam, untuk mencaritahu berita mengenai penegakan hukum di Nduga itu. Dan ternyata benar, berita itu adalah hoax setelah mereka jelaskan semuanya,” ungkap Hendrik saat ditemu HPP di Abepura, Kota Jayapura, Rabu (18/7/2019) malam.

 

Ia menilai, meme berisi berita yang sempat viral yang berisikan foto kebakaran hutan itu bukanlah kejadian pengakan hukum dengan cara pengeboman terhadap KKB oleh pihak kepolisian di Nduga, melainkan, kebakaran hutan yang terjadi di hutan Kalimantan beberapa tahun lalu. Sehingga dikatakan, informasi ini harus diluruskan melalui pernyataan yang ia sampaikan atas keterangan yang dikumpulkannya secara lengkap.

 

“Kami memberikan apresiasi sebesarnya kepada Kapolda Papua bapak Boy Rafli Amar dan jajarannya dan juga Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen George Eldanus Supit, Pejabat Gubernur Papua Mayjen (Purn) Soedarmo yang sudah bersama-sama menjaga stabilitas keamanan daerah dalam rangka melindungi seluruh rakyat Indonesia yang ada di tanah Papua untuk bisa mendapatkan rasa aman, nyaman dan damai dalam beraktivitas,” ungkapnya.

 

Hendrik menuturkan, bahwa tugas Polri adalah menjamin stabilitas keamanan di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di Papua agar menjadi stabil. Dan tugas TNI adalah melindungi wilayah teritorial Indonesia. Atas informasi lengkap yang ia peroleh dan amati langsung, dirinya memastikan bahwa tidak mungkin aparat Polri dan TNI membunuh warga negaranya sendiri. Dikatakan, bersama rakyat TNI-Polri itu Kuat.

 

“Saya meminta kepada elit politik dan pemerintahan serta seluruh masyarakat papua agar bersama-sama menjaga stabilitas kemanan di tanah Papua. Karena apa?  Papua itu telah final berada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

 

Kepada para elit politik di Papua, Hendrik berharap, agar tidak lagi memakai Sistem Ganda. Dimana ia bermaksud bahwa  di satu sisi oknum politisi mendukung NKRI dan mendaptakan rupiahnya serta fasilitas dari negara Indonesia, namun di sisi lainnya ikut menyuburkan semangat dis-integrasi bangsa, ini kan tidak adil.

 

“Oleh karena itu, sebagai generasi muda bangsa ini, saya turut memberikan klarifikasi kepada publik melalui media. Kita lihat video yang disebarkan Bupati Nduga juga telah viral, dimana ia menyatakan bahwa situasi kamtibmas di kabupaten itu telah aman terkendali. Itulah buktiknya bahwa Nduga sudah aman,” tuturnya.

 

Menanggapi isu soal “Nduga mencekam” yang dilontarkan oleh mantan komisioner Komnas HAM Indonesia, Natalius Pigai, dan membuat informasi terkait Nduga digambarkan porak poranda akibat bom dalam operasi militer, ia tegaskan: Itu tidak benar.

 

“Saya mengkritisi berita-berita hoax yang disampaikan oleh kakak saya Natalius Pigai, yang mengisukan bahwa situasi Nduga begitu mencekam, terjadi pemboman oleh pihak aparat TNI dan Polri, situasi Nduga itu tidak terkendali. Apa yang dikatakan Natalius Pigai itu adalah hoax,” tegas Hendrik.

 

“Saya bertanya kepada Natalius Pigai, Dimanakah kamu ketika  6 orang saudaramu yang juga warga negara Indonesia dibunuh oleh para kelompok kriminal bersenjata di Nduga. Dimana engkau ketika dua aparat Polri dan Kepala Distrik Torerer yang bertugas mengamankan Pilkada di Provinsi Papua dibunuh KKB. Itu juga adalah pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh KKB,” lanjutnya.

 

Ia meminta,  Natalius Pigai agar tidak menyalahkan Polri-TNI dan cenderung menjatuhkan pemerintahan yang ada di Papua dimasa pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini. Atas dugaan hoax yang dilontarkan Nataius Pigai, Hendrik meminta Polda Papua, agar segera memanggil Natalius Pigai untuk datang ke Papua dan memberikan klarifikasinya terkait isu hoax yang ia sebar.

“Tujuannya supaya pernyataannya itu tidak membuat kegaduhan-kegaduhan politik di tanah Papua dan membuat konflik horizontal serta pertikaian antar sesama anak bangsa di tanah ini,” harapnya. (Paul/ Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here