Kopi Papua ini merupakan kopi organik dengan kualitas terbaik. Karena tanah Papua yang masih sangat subur kopi yang dihasilkan sangat baik. Aroma kopinya harum, halus dan memiliki after taste yang sangat manis. Beberapa pegiat kopi menyamakan kopi ini dengan biji kopi Jamaica Blue Mountain. Jamaica Blue Mountain Coffee adalah kopi Arabika yang ditanam di daerah Blue Mountain di Jamaica dan merupakan kopi premium. Itulah sebabnya KSU Baliem Arabica menamakan produk Kopi Arabica dari Tanah Papua dengan julukan “Baliem Blue Coffee” (disingkat BBCoffee). (Foto Gumsberry say Chocolate Facebook)

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA)  –  Dataran tinggi Papua, di wilayah pegunungan tengah, memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan area perkebunan kopi.

 

Sejak jaman Belanda Moanemani di Lembah Kamuu, Kabupaten Dogiyai sudah dikenal sebagai sentra penghasil kopi. Daerah penghasil kopi lainnya di wilayah pegunungan tengah Papua ialah Deiyai, Paniai dan Jayawijaya.

 

Hingga saat ini, kopi Papua masih banyak memiliki peminat yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Namun sayangnya, jumlah produksi yang dihasilkan belum mampu memenuhi permintaan pasar.

 

Tingginya permintaan pasar akan kopi Papua, dirasakan oleh Yanuarius Lani, petani kopi asal Wamena.

 

“Permintaan pasar tinggi, tapi kami belum mampu memenuhinya. Per tahun kami hanya mampu menghasilkan 68 ton, padahal permintaan sudah mencapai 150 ton,” kata Yan Lani.

 

Untuk itu, Yan Lani berencana melakukan perluasan area perkebunan kopi dengan target seluas 5 hektar. Saat ini ia hanya memiliki sekitar 3000 tanaman kopi yang ditanaman di lahan seluas dua hektar.

Kopi PAPUA BALIEM adalah kopi arabica single origin dari Desa Baliem Valley (Tolikara, Puncak Jaya, Lanny Jaya, Mamberamo Tengah, Yahokimo, Yalimo). Umumnya kopi arabica ditanam di ketinggian 1400-1600ASL. Kopi PAPUA BALIEM sangat special karena ditanam di ketinggian 1600-1800 ASL, setinggi kopi Jamaica Blue Mountain (kopi ke-2 termahal di dunia).
Keunggulan ini menghasilkan keunggulan tersendiri untuk KOPI PAPUA BALIEM ini: complex flavor, rich body, mouthfull, dominan floral dan earthy. Ketika diminum, aftertastenya lama, dan kalo diperhatikan lebih seksama, anda bisa merasakan nikmatnya aroma vanilla saat finishing. (Foto Rosa Elizabeth Sihaloho Facebook)

Sementara itu, salah seorang petani kopi asal Moanemani, Didimus Tebay, mengaku pihaknya kewalahan memenuhi permintaan pasar karena produksi yang kurang.

 

“Produksi kami kurang, persoalannya kurangnya regenerasi petani. Anak – anak muda tak mau lagi menjadi petani kopi,” ujar Didimus yang menjual kopi dalam bentuk kopi beras (green bean) dan kopi bubuk.

 

Didimus berharap, pemerintah daerah dan pemerintah provinsi Papua jeli melihat persoalan kopi dari hulu hingga kehilir.

 

“Bagaimana pemerintah bisa mencetak petani model atau petani panutan, itu yang akan memotivasi orang muda bisa terjun ke dunia kopi,” harapnya.

 

Peneliti kopi dari Puslitkoka, Agus Saryono, menyarankan ada dua hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan produksi kopi Papua, yakni ekstensifikasi – intensifikasi perkebunan kopi dan mendorong sinkronisasi antara petani dengan pembeli.

 

“Sinkronisasi antara petani dengan buyer, karena kopi telah menjadi kebutuhan nasional bahkan internasional,” ujarnya. (nn/ KORAN HARIAN PAGI PAPUA)