DPR Papua Pertanyakan Pembangunan Lapangan Terbang Panggame

0
1322
Ilustrasi saat Gubernur Soedarmo bersama Bupati dan rombongan di Angguruk berjalan dari Bandara ke Lokasi kegiatan. ((Foto Gilberd Raffles Yakwart))

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA) – Anggota DPR Papua dari daerah pemilihan Yahukimo, Natan Pahabol mempertanyakan penyelesaian pembangunan lapangan terbang Panggame di kabupaten itu yang dibangun sejak 2017, namun belum juga rampung.

Natan Pahabol mengungkapkan, jika lapangan terbang tersebut dibangun GKI pada tahun 1972-1973. Lapangan terbang itu selama ini digunakan oleh warga GKI terutama klasis Yalimo, Anggruk dan masyarakat Distrik Panggema sebagai akses masuk dan keluar dari wilayah itu.

“Misionaris membuka lapter itu dengan berbagai aspek pertimbangan, mulai dari struktur tanah, pondasi dan lainnya. Di pegunungan kebanyakan lapter dilakukan kajian dulu oleh misionaris sebelum dibuka,” kata Natan Pahabol, Jumat (6/7/2018).

Namun, lanjut Natan Pahabol, pada 2016,  Pemprov Papua berniat baik memperbaiki lapter Panggema dengan anggaran Rp 11 miliar dan direalisasikan Rp 9 miliar pada 2017.

Selanjutnya, kata Natan, kontraktor kemudian mulai melakukan pembongkaran lapangan terbang. Melakukan penimbungan dan lainnya. Namun tidak diselesaikan, akhirnya saat curah hujan tinggi dan struktur tanah masih lembek, air tergenang dan hingga kini lapter belum selesai sampai sekarang.

Bahkan, akses masuk ke Panggema sudah tidak ada sejak tahun ini.  “Lapter sudah tidak bisa difungsikan. Saya mempertanyakan kepada dinas PU Papua, siapa kontraktor yang menangani lapter tersebut, karena hingga kini tak difungsikan karena belum tuntas. Akibatnya, warga sekitar saat akan berpergian harus berjalan kaki ke distrik lain menunggu pesawat,“ ujarnya.

Natan berharap Dinas PU segara mencari tahu kontraktor yang menangani lapter Panggema dan segera menyelesaikannya, karena lapangan itu dibuka oleh misionaris dengan hati, bukan uang.

“Kami harap sinode GKI di tanah Papua sehingga koordinasi dengan pemerintah agar segera dibangun lagi, karena ini akses yang dirusak, tapi tidak ada jalan lain masyarat kerja dengan sukarela,” ujarnya.

Ditambahkan, jika sampai kontraktor tidak jelas, pihaknya berharap penegak hukum segera mengusut siapa kontraktor itu. Ini desakan dari jemaat di Distrik Panggema.

“Kami minta aparat penegak hukum mengusutnya. Kami harap LSM terkait juga melihat ini,” pungkasnya. (bat/ab / KORAN HARIAN PAGI PAPUA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here