Homfolo dan Kameyakha, Jadi Percontohan Kampung Bebas Miras dan Narkoba

0
680
Perwakilan tokoh adat ketika memecahkan beberapa botol minuman keras (Miras) yang ditaruh di dalam kantong plastik berwarna hitam, yang disaksikan Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E., M.Si., Kapolres Jayapura AKBP Victor Dean Mackbon, Kepala Distrik Ebungfauw Daniel Tako dan masyarakat, sebagai tanda pencanangan Kampung Kameyakha sebagai Kampung Bebas Miras dan Narkoba di Kabupaten Jayapura. (Irfan / HPP)

SENTANI (LINTAS  PAPUA) – Kampung bebas minuman keras (Miras) dan Narkoba tentunya sebuah harapan besar di setiap daerah. Untuk mewujudkan sebuah kampung menjadi kampung bebas miras ternyata juga bukan pekerjaan gampang, perlu dukungan unsur muspida, masyarakat dan tokoh adat setempat.

Kampung Homfolo dan Kampung Kameyakha, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura merupakan kampung yang bisa mewujudkan kampung bebas miras dan diharapkan dapat menjadi pilot project kampung sehat dan kampung kamtibmas di Indonesia maupun di Provinsi Papua, khususnya di Kabupaten Jayapura. Lalu, bagaimana bisa mewujudkannya?.

Dua kampung yang berada di Distrik Ebungfauw ini ternyata mempunyai karakteristik khusus sebagai Kampung Adat. Kedua kampung ini masih mempertahankan budaya lokal secara turun temurun, dan mempunyai satu wilayah adat sehingga baik dari pemangku adatnya (Ondofolo), kepala kampung adat dan perangkatnya masih orang yang sama.

Ondofolo pada masyarakat suku Sentani dapat diartikan sebagai pemangku adat sekaligus tokoh masyarakat yang mempunyai wewenang dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kemaslahatan bersama dalam masyarakat.

Ondofolo dengan dewan adat mengatur tata cara hubungan bermasyarakat di setiap kampung. Masyarakat pun lebih percaya dan patuh atas hukum adat yang diputuskan oleh Ondofolo dan dewan adat daripada hukum positif yang berlaku. Pasalnya, sebuah keputusan dewan adat mempunyai keberkahan dan apabila dilanggar maka akan langsung mendapat kutukan dari yang maha kuasa serta dikucilkan dari pergaulan sehari-hari.

Kondisi kearifan lokal inilah yang ternyata mampu membuat dua kampung tersebut mampu mencegah dan menanggulangi peredaran minuman keras dan dapat mewujudkan sebagai Kampung Bebas Miras.

Dasar dari program Kampung Bebas Miras ini adalah penggunaan nilai kearifan lokal (norma adat) yang berlaku di masyarakat untuk mencegah dan menanggulangi konsumsi dan peredaran minuman keras di Kampung homfolo dan Kampung Kameyakha serta mendukung Perda Pelarangan Peredaran Miras yang merupakan program Pemerintah Kabupaten Jayapura yang telah ditetapkan beberapa waktu lalu

Dengan adanya dua pencanangan kampung bebas minuman keras (Miras) di wilayah Distrik Ebungfauw, baik di Kampung Homfolo beberapa waktu lalu dan juga di Kampung Kameyakha pada Jumat (23/6/2018) lalu itu memang kita sudah sering sampaikan dalam setiap rapat-rapat koordinasi, ujar Kepala Distrik (Kadistrik) Ebungfauw, Daniel Tako, kepada wartawan harian ini saat ditemui di Kantor Bupati Jayapura, Selasa (26/6/2018) siang lalu.

Rapat-rapat koordinasi yang dilakukan itu bertujuan untuk membangun komunikasi dengan para tokoh adat, tokoh agama dan masyarakat. Apalagi dalam peraturan daerah (Perda) yang telah ditetapkan itu sudah mengamanatkan, sehingga kita tindaklanjuti di wilayah distrik kita masing-masing, kata Daniel Tako seraya menambahkan bahwa di yang dipimpinnya itu masih banyak pihak yang memproduksi minuman keras lokal (Milo).

Lanjut Daniel Tako menyampaikan, pihaknya melakukan koordinasi dengan pihak keamanan yang berada di Pos Polisi, untuk melakukan pendekatan-pendekatan kepada kepala kampung agar ditindaklanjuti terkait produksi minuman keras lokal tersebut.

Dengan adanya itu, terang Daniel Tako, maka dipelopori oleh tokoh adat maupun Ondofolo kampung setempat guna melakukan pencanangan Kampung Bebas Miras dan Narkoba, baik yang pertama dilaksanakan di Kampung Homfolo dan kedua di Kampung Kameyakha.

“Jadi dalam pernyataan pencanangan itu, langsung dihadiri oleh bapak Bupati dan disaksikan oleh para tokoh agama serta tokoh adat dihadapan semua masyarakat kampung,” jelasnya.

Lebih menarik dan bagus lagi sebelum dilakukannya pencanangan itu, kepala kampung menyampaikan gagasan pada saat rapat yang menghadirkan seluruh masyarakat kampung atau semua pihak terlibat untuk membuat suatu kesepakatan bersama guna mendukung pencanangan tersebut.

 

“Selain itu, kepala kampung juga memberikan bantuan modal usaha kepada para pembuat minuman keras lokal itu untuk beralih ke usaha lain yang lebih positif, tegasnya.

Sementara itu, dalam pencanangan Kampung Kameyakha sebagai Kampung Bebas Miras dan Narkoba itu turut dihadiri Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E., M.Si, Kapolres Jayapura AKBP Victor Dean Mackbon, S.H., S.IK., M.H., M.Si., perwakilan TNI dan BNN Kabupaten Jayapura, sejumlah Kepala OPD di lingkup Pemkab Jayapura, para Ondofolo, tokoh adat, tokoh agama, sejumlah Kepala Kampung serta ratusan masyarakat kampung setempat.

Kegiatan itu juga dirangkaikan dengan pencanangan SMPN Kameyakha serta peresmian sejumlah fasilitas umum seperti pasar kampung, gedung kantor Kampung, gedung SDN Atamali, gedung Posyandu Khote, sarana air bersih, lapangan bola volley dan penanaman padi bagi kelompok tani (Keltan) Kampung Kameyakha. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here