Capai Ratusan Kasus,  Angka Perceraian di Jayapura dan Mamberamo Raya Relatif Tinggi

0
851
ILUSTRASI KASUS PERCERAIAN (www.ark21.com)
ILUSTRASI KASUS PERCERAIAN (www.ark21.com)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Pengadilan Agama (PA) Sentani,Kabupaten Jayapura mengklaim bahwa trend gugat cerai di tiga wilayah Pengadilan Agama  Sentani, yakni Kabupaten Jayapura, Kabupaten Sarmi dan Kabupaten Mamberamo Raya relatif tinggi. 

 

 

Faktor ketidakcocokan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga pemberian nafkah (ekonomi) menjadi alasan pamungkas bagi pihak yang menggugat.

Penata Muda Hukum Pengadilan Agama Sentani, Hasim Utina mengatakan, walaupun angka perceraian terus meningkat namun tidak begitu banyak.

 

“Kalau kita prosentasekan itu  setiap tahun naiknya sekitar 5-10 persen. Karena di tahun 2017 kemarin ada 125 perkara, tahun 2016 ada 215 perkara, nah  tahun ini sampai Mei 2018 ada 67 perkara. Jadi, angkanya naik turun, dan bisa jadi tahun ini akan lebih tinggi karena   sampai Mei saja sudah 67 perkara,” jelas Hasim.

Penggugat perceraian rata-rata adalah kaum istri yang berlatar belakang pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) ke bawah.

“Paling banyak di daerah trans, Kabupaten Jayapura, dan dari Kabupaten Mamberamo Raya,” akunya.

Hasim menambahkan, dari 67 perkara masih ada sekitar 29 yang belum diputuskan, sehingga kasus perceraian yang sudah final sampai Mei 2018 kemarin adalah sebanyak 42 perkara.

“Yang lainnya masih tahap mediasi,” terangnya.

Ditambahkan Idris Ibnu, selaku Panitra Pengadilan Agama Sentani, bahwa pengadilan bukan lembaga untuk memisahkan pasangan suami istri (pasutri). Pengadilan sebelum menyidangkan sebuah kasus, terlebih dulu melakukan proses usaha perdamaian antara suami dan istri yang telah mengajukan gugatan cerai.

“Jadi, tidak langsung kita sidang. Kita ada namanya tahap pre mediasi dan proses mediasi.  Sebisa mungkin kita lakukan agar menghindari perceraian”.

Lanjutnya,” Nah, kalau upaya-upaya itu sudah dilakukan, namun kedua belah pihak tetap merasa sudah tidak cocok, tidak nyaman, ya kami tidak bisa paksakan. Karena kalau dipaksakan berdamai, tapi justru akan semakin memperparah keadaan, nanti lebih berdampak buruk bagi pasangan,” timpal Idris.

Selanjutnya Idris mengakatan, untuk  menghindari perceraian maka setiap pasangan suami istri hendaknya saling menghargai dan mengerti kekurangan masing-masing. (Lea  / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here