Aloysius Giyai :  Daerah Rendah Cakupan Imunisasi Berpotensi KLB

0
106
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giay, M.Kes. didampingi para staffnya. (Eveerth / HPP)
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes. didampingi para staffnya. (Eveerth / HPP)

JAYAPURA  (LINTAS  PAPUA)   –  Dinas Kesehatan Provinsi Papua menilai ada potensi kejadian luar biasa (KLB) bagi daerah yang memiliki cakupan imunisasi rendah. Potensi KLB yang bakal muncul diantaranya, rawan gizi buruk, campak maupun penyakit terkait lainnya.

“Ini disebabkan karena tidak melakukan imunisasi makanya kekebalan tubuh itu menjadi rendah. Makanya tahun ini kita harap semua kabupaten di Papua bisa 100 persen cakupan imunisasinya. Sehingga tak lagi ada KLB yang muncul di masa mendatang,” terang Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giyai, di Jayapura, kemarin

Menurut dia, kurangnya cakupan imunisasi di beberapa kabupaten di pengaruhi beberapa faktor. Diantaranya, letak geografis, tenaga medis di daerah serta adanya kesungguhan pemerintah daerah.

“Sementara faktor lainnya, terkait perilaku masyarakat yang kerap menyampaikan isu negatif. Seperti, saat selesai imunisasi kemudian muncul dampak panas pada anak, namun akhirnya menyebarkan informasi ke tetangga bahwa imunisasi membuat sakit, pada akhirnya mereka jadi takut untuk mengimunisasi anaknya,” terang dia.

Ilustrasi Anak – Anak Asli Papua Asal , Kabupaten Puncak, dalam kesempatan dilayani imunisasi.
(Eveerth Joumilena /HPP)

Kendati begitu, lanjut dia, pihaknya terus mendorong agar seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Papua segera meningkatkan layanan imunisasi terhadap masyarakat.

Sebelumnya, Aloysius mengakui,cakupan imunisasi di Provinsi Papua hingga saat ini masih terendah secara nasional.

Disebutkan dia, saat ini di bumi cenderawasih terjadi peningkatan terhadap cakupan gizi anak,  dimana sesuai riset kesehatan dasar 2013, hanya 21,22 persen cakupan imunisasi. Selanjutnya di 2014 ada kenaikan menjadi 57 persen, sementara 2016 kembali naik menjadi 65 persen.

“Sedangkan di 2017 kemarin, kemabli sudah naik lagi menjadi 68 persen,tetapi ternyata hasil ini belum memenuhi standar nasional. Karena standar nasional itu 85 persen untuk imunisasi dasar lengkap”.

“Tapi kendati secara standar Nasional Papua tetepa terendah, tetapi jajaran kesehatan di Papua terus melakukan tren peningkatan terhadap cakupan imunisasi dasar itu. Dengan harapan mampu memenehui standar cakupan imunisasi secara nasional,” terang dia. (Erwin / Koran Harian Pagi Papiua)