700 Mahasiswa Asli  Papua Terlantar Tanpa Bantuan Studi

0
35
Forum Peduli Kawasa Byak Papua dan Solidaritas Mahasiswa - Mahasiswi Saireri, yang diwakili Silas Usior dari Biak, Gayus Maram (mahasiswa asal Supiori), Merthen Merasi (Mahasiswa Yapen) dan Risal Bebari dari Yapen.. (Eveerth Joumilena /HPP)
Forum Peduli Kawasa Byak Papua dan Solidaritas Mahasiswa – Mahasiswi Saireri, yang diwakili Silas Usior dari Biak, Gayus Maram (mahasiswa asal Supiori), Merthen Merasi (Mahasiswa Yapen) dan Risal Bebari dari Yapen.. (Eveerth Joumilena /HPP)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  – Ditengah perkembangan dana Otonomi Khusus (Otsus)  yang begitu besar miliran hingga triliunan, bahkan katanya telah diserahkan kepada kabupaten – kabupaten di Papua, dengan alokasi dana pendidikan sekian persen, namun masih saja ada mahasiswa Papua yang  diterlantarkan tanpa biaya studi , sebagaimana dialami sekitar 700 orang mahasiwa – mahasiswi  dari Wilayah Adat Saireri,

 

Hal ini disampaikan Forum Peduli Kawasa Byak Papua dan Solidaritas Mahasiswa   – Mahasiswi Saireri, yang diwakili  Silas Usior dari Biak, Gayus Maram (mahasiswa asal Supiori), Merthen Merasi (Mahasiswa Yapen) dan Risal Bebari dari Yapen.

 

Keempat mahasiswa menyampaikan aspirasi dan keluhan  ini, sebagaimana menunggu jawaban dari  DPR Papua dan Pemerintahan Provinsi dan Pemerintah Kabupaten dari Wilayah Adat Saireri.

“Kami hanya menanyakan kembali, sejauh mana aspirasi yang pada tanggal 3 Mei 2018 lalu, apakah DPR Papua sudah menyikapinya atau sudah sampai dimana, sebab ada 700 mahasiswa asli Papua yang lagi studi di kota Jayapura membutuhkan bantuan studi akhir, dan semua proses dan aspirasi sudha kami sampaikan di DPR Papua, namun kami belum mendengar kepastian jawaban aspirasi tersebut,” ujar Silas Usior, mengawali pembicaraan, di Entrop, Selasa (22/5/2018) malam.

Diakui, bahwa proses pendidikan membutuhkna biaya dan semua kita sudah tempuh, namun tetap saja belum mendapatkan bantuan.

“Kami berharap adanya perhatian serius, sehingga menolong kami dalam study,” jelasnya.

 

Sementara itu, Marthen Merasi menuturkan, bahwa walaupun Otonomi Khusus di berikan, namun dampaknya tidak dirasakan, karena kami saja studi masih susah.

“Kami akan ada aksi lanjutan,  sehingga kami pastikan sejauh mana aspirasi kami mendapat jawaban dari pemerintah untuk kelangsungan studi,” harap keempat mahasiswa yang kini kuliah di salah satu perguruan tinggi di Kota Jayapura.

Ditegaskan, bahwa pihaknya akan menunggu jawaban dan berharap adanya perhatian serius dari berbagai kabupaten yang ada. “Kami juga akan kembali turun jalan dalam aksi yang lebih besar, sebab kami hanya meminta hak kami untuk dibiayai oleh pemerintah, jadi sekitar seribuan mahasiswa dan masyarakat kami siap untuk aksi lagi,” tandasnya.

Dari Informasi yang disampaikan, mahasiwa ini pernah melakukan aksi awl Mei, namun para  wakil rakyat di DPR Papua belum menseriusinya, sehingga pihaknya juga berharap DPR  Papua dapat segera membantu aspirasi mahasiswa.

“Kami juga berharap Penjabat Gubernur Papua bisa melihat masalah ini dalam upaya membangun sumber daya manusia, akan tetapi tidak pernah mendapatkan bantuan,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui  Aksi Forum Solidaritas Mahasiswa – Mahasiswi Saireri adalah gabungan dari Empat Kabupaten yang ada di Wilayah Adat Saireri, yakni Biak  Numfor, Supiori, Kepulauan  Yapen dan Waropen.  (*)