Pembangunan Gedung Gereja Katolik Paroki Sang Penebus Sentani

0
1095
Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw didampingi Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, Sekda Provinsi Papua, TEA. Heri Dosinaen dan pimpinan Forkopimda Kabupaten Jayapura saat meletakan batu pertama pembangunan Gedung Gereja Katholik Paroki Sang Penebus Sentani, Minggu (20/5/18) Siang. (Irfan / HPP)
Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw didampingi Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, Sekda Provinsi Papua, TEA. Heri Dosinaen dan pimpinan Forkopimda Kabupaten Jayapura saat meletakan batu pertama pembangunan Gedung Gereja Katholik Paroki Sang Penebus Sentani, Minggu (20/5/18) Siang. (Irfan / HPP)

SENTANI (LINTAS PAPUA) – Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si, meletakkan batu pertama pembangunan gedung Gereja Katholik Paroki Sang Penebus Sentani, pada Minggu (20/5/2018) lalu.

 

 

Bupati Mathius mengatakan, kehadiran dirinya dalam ibadah Pentakosta sekaligus acara peletakan batu pertama pembangunan gedung Gereja Katholik Paroki Sang Penebus Sentani ini untuk memberikan dukungan kepada gereja dan jemaat, karena gereja ini punya sejarah di Tanah Papua.

 

 

“Jadi, gereja ini sudah memulai pelayanannya dari tahun 1969 di Kota Sentani. Oleh karena itu, kita memberikan bantuan dana untuk pembangunan gereja serta spirit bahwa pelayanan gereja merubah banyak hal,” jelas Mathius kepada wartawan disela-sela kegiatan peletakan batu pertama pembangunan gedung Gereja Katholik Paroki Sang Penebus Sentani.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw didampingi Uskup Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM, Sekda Provinsi Papua, TEA. Heri Dosinaen dan pimpinan Forkopimda Kabupaten Jayapura saat meletakan batu pertama pembangunan Gedung Gereja Katholik Paroki Sang Penebus Sentani, Minggu (20/5/18) Siang. (Irfan / HPP)

 

 

Menurut Mathius, daerah ini dahulu kala tidak ada apa-apa nya. Tapi, gereja hadir sampai membentuk persekutuan baik gereja Katholik maupun Protestan.

 

 

“Oleh karena itu, ini (gereja) adalah tanda bahwa kemajuan maupun perkembangan gereja sungguh luar biasa di Tanah Papua,” katanya.

 

 

Nah, karena Gereja Katholik ini berhadapan dengan Masjid yang begitu besar, lanjut bupati, pihaknya telah berbicara untuk bagaimana gereja tersebut juga bisa mengimbangi.

 

 

“Dengan artian, bukan kita mau bersaing, bukan. Tapi, karena kabupaten ini sudah kita canangkan sebagai zona integritas kerukunan umat beragama,” katanya,

Ditambahkan,  sehingga simbol gereja juga harus kita samakan seperti Masjid agar kerukunan itu terasa. Apalagi kabupaten ini merupakan tempat masuk orang ke Papua.

“Maka keseimbangan ini juga menjadi kewajiban kita dengan mengajak jemaat supaya symbol ini, bisa menjadi kekuatan kita untuk membangun keberagaman dan persaudaran,” jelasnya.

 

 

“Selain itu juga, kita akan bangun gereja Protestan yang besar seperti Masjid. Begitupun dengan umat Hindu dan Budha kita akan coba kordinasi supaya zona integritas ini dapat dirasakan oleh orang-orang yang masuk ke Papua dan merasakan ada kedamaian serta sukacita,” tambahnya.

 

 

Tak lupa, Bupati Mathius mengapresiasi atas sumbangsi dari umat Muslim yang ada di Kabupaten Jayapura dalam mendukung pembangunan gereja seperti yang terjadi di gereja Katholik Paroki dan Gereja GKI Martin Luther.

 

 

“Saya pikir suasana ini sangat baik dan jarang terjadi ditempat lain. Oleh karena itu kami berharap, dengan keberagaman seperti ini kita terus jaga untuk Papua yang lebih baik dan Papua damai kedepannya,” harapnya. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here