NU Papua Ajak Masyarakat Jaga Nilai-Nilai Pancasila

0
35
Ketua MUI Papua, Toni Wanggai bersama Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, saat menghadiri pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. di SMK YPKP Sentani, Selasa (20/3/2018) pagi. ddalam sebuah kegiatan. (Irdan /HPP)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –   Ketua Nahdatul Ulama (NU) Provinsi Papua Toni Wanggai mengajak semua pihak untuk menjaga nilai-nilai Pancasila dalam merespons aksi terorisme yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia dalam beberapa hari belakangan ini.

“Kami sebagai masyarakat Indonesia sudah berkomitmen bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan agama apa pun. Kita hidup dengan masyarakat yang plural dan Pancasila mengandung nilai-nilai agama untuk menyatukan semua umat beragama di Indonesia, jadi itu yang harus kita jaga,” ujarnya di Jayapura, Rabu.

Ia menegaskan aksi terorisme atas nama agama tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena Islam artinya memberikan keselamatan dan kedamaian kepada siapa saja.

Menurut dia, NU telah bekerja sama dengan pemerintah daerah, TNI-Polri, dan para pemuka agama, untuk terus menjaga kebersamaandan tidak harus menyalahkan satu sama lain.

“Isu radikalisme dan terorisme memang menjadi isu global, negara maju sekalipun terjadi kasus-kasuS terorisme, seperti di Perancis dan Amerika Serikat,” karta dia.

Toni meminta kepada lembaga agama untuk bersikap lebih bijak, dewasa, tidak menyalahkan salah satu agama karena semua agama menentang dan mengutuk aksi terorisme tersebut.

Ia bepandangan seluruh unsur keagaamaan harus lebih sering menggelar dialog-dialog agama dan melakukan kerjasama lintas agama di bidang sosial.

Hal ini dikatakannya sangat penting karena kini aliran-aliran radikalisme yang mengatas namakan agama sudah masuk ke Papua dan para pihak yang berkepentingan harus dapat menyiapkan langkah-langkah pencegahan agar aksi terorisme tidak terjadi di Papua.

“Aliran-aliran yang berpaham radikal dan mengatas namakan agama sudah masuk ke Papua. Tapi memang kita tidak bisa membendung itu karena di era globalisasi ini paham-paham keagamaan trans nasional, artinya ideologi agama dari luar Indonesia masuk ke Indonesia dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi,” katanya.

Toni mengimbau para pemimpin dan pemuka agama harus bisa menyampaikan kepada umatnya untuk lebih waspada terhadap paham-paham radikal yang ciri-cirinya adalah menyalahkan, menyesatkan, dan mengkafirkan umat lain.

Menurut dia sebagai masyarakat juga harus bertanggung jawab untuk menyebarkan informasi yang benar dan tidak menyebarkan informasi yang tidak benar dan justru dapat memprovokasi umat untuk membeci umat lain.

“Kita semua harus bertanggung jawab untuk bersama-sama menjaga kerukunan dan perdamaian,” katanya. (LKBN ANTARA / KORAN HARIAN PAGI PAPUA)