GMKI Pusat Temui Wapres Jusuf Kalla Bicarakan Tantangan Paham Radikal

0
27
GMKI dalam kesempatan ini juga menyampaikan tentang rencana Pertemuan Pimpinan World Student Christian Federation (WSCF/Federasi Mahasiswa Kristen se-Dunia) di Indonesia pada bulan Juni 2018 di Jakarta. WSCF berkantor di Jenewa, Swiss dan GMKI merupakan anggota WSCF dengan jumlah anggota terbanyak di seluruh dunia. Wapres berjanji untuk menjamu delegasi dari WSCF. Dalam sebuah kegiatan lainnya. (ISTIMEWA)
GMKI dalam kesempatan ini juga menyampaikan tentang rencana Pertemuan Pimpinan World Student Christian Federation (WSCF/Federasi Mahasiswa Kristen se-Dunia) di Indonesia pada bulan Juni 2018 di Jakarta. WSCF berkantor di Jenewa, Swiss dan GMKI merupakan anggota WSCF dengan jumlah anggota terbanyak di seluruh dunia. Wapres berjanji untuk menjamu delegasi dari WSCF. (ISTIMEWA)

JAKARTA (LINTAS PAPUA) – Dalam pertemuan ini,  dan Pengurus Pusat GMKI membicarakan tentang upaya Negara dan masyarakat dalam menghadapi tantangan paham-paham radikal dan terorisme, dimana GMKI menyatakan komitmennya untuk selalu menjaga persatuan dan persatuan bangsa dan meminta serta mendukung Negara untuk melakukan tindakan tegas terhadap pelaku dan sutradara aksi terorisme demi menjaga keamanan dan keselamatan seluruh rakyat Indonesia.

 

GMKI dalam kesempatan ini juga menyampaikan tentang rencana Pertemuan Pimpinan World Student Christian Federation (WSCF/Federasi Mahasiswa Kristen se-Dunia) di Indonesia pada bulan Juni 2018 di Jakarta. WSCF berkantor di Jenewa, Swiss dan GMKI merupakan anggota WSCF dengan jumlah anggota terbanyak di seluruh dunia. Wapres berjanji untuk menjamu delegasi dari WSCF. Pelaksanaan Pertemuan WSCF di Jakarta merupakan salah satu upaya GMKI untuk menyuarakan semangat perdamaian dan kebersamaan yang berdasarkan Pancasila.

SUASANA PERTEMUAN. Dalam pertemuan ini,  dan Pengurus Pusat GMKI membicarakan tentang upaya Negara dan masyarakat dalam menghadapi tantangan paham-paham radikal dan terorisme, dimana GMKI menyatakan komitmennya untuk selalu menjaga persatuan dan persatuan bangsa dan meminta serta mendukung Negara untuk melakukan tindakan tegas terhadap pelaku dan sutradara aksi terorisme demi menjaga keamanan dan keselamatan seluruh rakyat Indonesia.
(istimewa)

Wakil Presiden memberikan tanggapan, yakni  Masalah terorisme ternyata tidak hanya terkait ekonomi saja karena peristiwa yang terjadi di Surabaya, pelaku memiliki ekonomi yang mapan.

“Sehingga bisa dilihat bahwa ini karena ada doktrin-doktrin yang salah dan harus diluruskan. Selain itu, adanya anak umur 9 tahun yang ikut menjadi pelaku bom sangat kita sesalkan, dan mungkin ini yang pertama kali di dunia. Doktrin radikalisme dan terorisme sudah menjangkiti usia anak-anak,” kata Wapres.

Disampaikan, bahwa persoalan ini juga bukan hanya pengaruh internal, tapi ada juga pengaruh eksternal. Karena ada negara-negara yang terancam negara gagal seperti Afganistan, Suriah, dll, mereka mengalami peperangan, dimana negara-negara besar seperti AS dan Rusia juga turut di dalamnya.

“Kemudian ada orang-orang Indonesia yang datang kesana ataupun melihat kondisi ini dari Indonesia. Mereka marah dan kemudian kembali ke Indonesia, mereka melampiaskannya dengan melakukan tindakan terorisme.,” ucapnya.

 

Perlu ada pendekatan-pendekatan dengan berbagai cara, selain secara internal di negara kita, pemerintah Indonesia juga berupaya membantu persoalan Afganistan. Beberapa waktu lalu pemerintah datang ke Afganistan.

 

 

GMKI juga menyampaikan, bahwa lembaga negara, baik pemerintah pusat dan daerah, dan lembaga non negara seperti lembaga agama, lembaga perguruan tinggi, ormas, partai politik, organisasi kemahasiswaan, dan lainnya harus menjamin dan memastikan tidak ada satupun anggota/Pengurusnya yang berpaham radikal ataupun mengeluarkan doktrin dan ujaran kebencian. Para pimpinan lembaga ini harus bertindak tegas jangan sampai ada warga lembaganya yang ternyata merupakan simpatisan kelompok radikal. (*)