Situasi saat berlangsungnya diskusi dan bedah buku “Intelijen dan Pilkada”, Rabu (16/5) pagi. (Paul/HPP)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Sekitar seratus peserta diskusi dari berbagai profesi dan institusi berkumpul dalam acara bedah buku dengan judul Intelijen dan Pilkada, karya Stepi Anriani,M.Si (cum kandidat Phd UI Jakarta). yang berlangsung di Humbolt Cafe and Resto, Entrop, Kota Jayapura, Rabu (16/5) pagi.

Amir Hamzah Siregar yang juga dikenal sebagai wartawan senior di Kota Jayapura, turut hadir sebagi pembedah dalam diskusi ini. Sementara Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar, Pangdam XVII Cenderawasih George E. Supit, dan Ketua KPU Provinsi Papua Adam Arisoi hadir sebagai penanggap.

Kegiatan ini dimaksud menjadi sebuah diskursus yang matang dalam menyikapi berbagai permasalahan tahapan Pilkada di berbagai wilayah Papua selama ini. Sehingga, para elit politik, kader partai dan calon pemimpin di setiap daerah dapat memberikan pendidikan politik yang sehat bagi masyarakat, demi mewujudkan Pilkada Damai tanpa adanya korban dan sengketa antar kubu simpatisan.”Kepemimpinan itu adalah amanah dan jabatan itu pelayanan,” tutur Michael Jhon Yarisetouw, selaku Direktur  Cenderawasih Reading Center (CRC), saat memberikan kata pembuka dalam bedah buku.

Sementara Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar, ikut memberikan materi dalam bedah buku tersebut. (Paiul /HPP)

Stepi Anriani yang juga penulis buku tersebut menyampaikan, Kota Jayapura adalah tempat kedua digelarnya diskusi dan bedah buku Intelijen dan Pilkada, setelah sebelumnya didiskusikan di Gramedia Matraman, Jakarta Pusat.

Dikatakan, bahwa “setiap orang memiliki naluri intelijen, tapi tidak semua orang menggunakan radar intelijennya,” lugas Stepi dan dituliskan dalam sinopsis bukunya.

Lewat tesis yang dipecahkan Stepi selama proses kreatif penulisan bukunya, dikatakan bahwa ada tujuh tahapan rumusan intelijent yakni; Informasi, Pengetahuan, Produk, Kegiatan, Proses, Organisasi, dan Profesi (sebagai puncak tertinggi). Ketujuh tingkatan itu bisa lampaui oleh siapapun, tetapi dibutuhkan suatu organ yang matang baik dalam pengumpulan data-data pada riset lapangan maupun dalam analisisnya.”Kegagalan inteligent ada pada pengumpulan data yang salah, kemudian analisa yang salah dalam mengambil keputusan. Sumbernya yaitu agen lapangan (informan) dan analist,” tutur Stepi.

Dalam mengantisipasi berbagai potensi gejolak yang tidak diinginkan dalam proses demokrasi, lanjut Stepi, diperlukan koordinasi yang intens antar setiap instrumen pendukung intelijen. Sehingga kondisi keamanan ditengah masyarakat sebagai pemegang tampuk demokrasi dapat tercipta.

“Ada anomali dalam demokrasi di indonesia dimana masih banyaknya praktek money politic. Ada pergeseran dalam pertarungan elit politik dalam media sosial (medsos). Medsos dijadikan sebagai arena baru kampanye,” jelasnya.

Buku Intelijen dan Pilkada, karya Stepi Anriani,M.Si (cum kandidat Phd UI Jakarta). (Foto Fransisca)

Kapolda Papua saat menanggapi penyampaian Stepi mengungkapkan, bahwa Inteligen bagi aparat yang digunakan dlm konteks demokrasi saat ini yakni pemetaan tingkat kerawanan.

“Jadi di situ kita gunakan cipta kondisi dalam arti positip, yaitu mendorong agar proses Pilkada itu berjalan dengan aman dan damai. Mapping yang kita gunakan saat ini adalah merumuskan strategi untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dalam Pilkada. Awas jangan sampai tim sukses terjebak dalam money politic dan kampanye hitam sebab bertentangan dengan hukum,” terang Boy Rafli.

Dirinya mengakui, bahwa istilah inteligent masih tabu diperdengarkan oleh sebagian besar masyarakat. “Kita mengharapkan indonesia kedepan menjadi negara demokrasi yang lebih maju. Dan generasi muda turut serta di dalamnya,” tambahnya.

 

Sementara Pangdam XVII Cenderawasih George E. Supit dan Ketua KPU Provinisi Papua, Adam Arisoi mengapresiasi penulis Stepi dalam menyusun bukunya guna menambah pengetahuan tim sukses, calon pemimpin daerah dan masyarakat Papua dalam mensukseskan Pilkada Damai.

“Pembelajaran politik yang baik bagi masyarakat adalah partai politik itu sendiri. Jadi, partai politik harus dituntut memberikan pembelajaran yang baik bagi pendukungnya,” himbau George.

“Mari para timses pelajari apa yang ada dalam buku ini, sehingga dalam berpolitik kita lebih mengedepankan cara-cara yang positip dan elegan. KPU sendiri mengusahakan menjadi pelayan yang baik dalam pelaksanaan Pilkada,” ajak Adam Arisoi kepada hadirin dan juga masyarakat.

Diskusi pun berakhir dengan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi para peserta yang hadir terhadap penulis. Diingatkan, kearifan lokal di Papua juga harus diperhatikan oleh partai politik dalam menyusun strategi maupun program kerjanya. (Fransisca)