Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E., M.Si, saat foto bersama dengan Ketua PKK Kabupaten Jayapura, Magdalena Lutusmas Awoitauw, S.Pd, Wakil Bupati Jayapura Giri Wijayantoro, Ketua Panitia peringatan Isra MiRaj Siti Aisah Giri Wijayantoro, Dandim 1701/Jayapura Letkol Inf. Nova Ismailyanto, Ketua MUI Kabupaten Jayapura, H. Makmun Rosyidi, Asisten I Setda Kabupaten Jayapura, Abdul Rahman Basri, Kabag Sumda Polres Jayapura AKP. Mansyur serta Panitia Peringatan Isra Miraj, di Masjid Agung Al-Aqsha Sentani, Sabtu (14/4/18). (Irfan /HPP)

Sampaikan Hasil Kesepakatan Tentang Kerukunan Umat Beragama

SENTANI  (LINTAS PAPUA) – Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E., M.Si, menyambangi Kantor Kementerian Agama (Kemenag) RI, di Jalan Banteng, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Mathius yang datang menemui Menteri Agama (Menag), RI Lukman Hakim Syaifuddin ini bersama Tim 6 atau tim mediasi masalah Kerukunan umat Beragama di Kabupaten Jayapura guna menyampaikan hasil kesepakatan Tim 6 tentang kerukunan di Kabupaten Jayapura.

Bupati Mathius ketika dikonfirmasi wartawan harian ini usai memimpin rapat dengan Tim Percepatan Pembangunan, Sabtu (12/5/2018) lalu di Aula Lantai I Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani itu menyampaikan, kunjungan dirinya bersama Tim 6 ini untuk menyampaikan terkait rekomendasi hasil kesepakatan tentang kerukunan di Kabupaten Jayapura.

Masjid Agung Al-Aqsha di Sentani, kini menjadi simbol kerukunan umat beragama oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura. (seruji.co.id)

“Ya, kemarin kita ada pertemuan dengan Menteri Agama (Menag). Kita ada tim, yakni Tim 6 yang pemerintah daerah bentuk untuk mengatasi masalah pembangunan menara Masjid Agung Al-Aqsha Sentani dan itu sudah diselesaikan. Hal ini menjadi perhatian serius juga dari pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Agama, karena setiap saat mereka mengikuti perkembangan tersebut,” ujar Mathius Awoitauw.

“Oleh karena itu, kita mengajak,  tim untuk bertemu dengan Kementerian Agama guna menyampaikan hasil kesepakatan dan bagaimana cara menyelesaikannya masalah terkait kerukunan tersebut, tambahnya.

Selain itu, ujar Mathius, dalam kunjungan guna menyampaikan hasil itu juga Kemenag mengapresiasi yang sangat luar biasa, untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik secara musyawarah dari semua komponen.

Menteri Agama ‘

“Jadi, menara Masjid Al-Aqsha itu tidak boleh melanggar dari ketentuan yang ada, terutama untuk penerbangan di kawasan bandara. Karena itu sudah ada surat dari Badan Otoritas Bandar Udara, bahwa keteinggian dari menara masjid itu sudah melampaui dan (menara) ini harus diturunkan sesuai dengan ketentuan yang ada,”  kata Mathius.

Dirinya  mengatakan, penanganan masalah pembangunan Menara Masjid Agung Al-Aqsha yang dilakukan oleh Tim 6 sudah diselesaikan dengan baik dan juga sudah tidak ada masalah.

Selain itu, Mathius menuturkan, dirinya berharap ke depan di kawasan (menara Masjid Agung Al-Aqsha) itu harus menjadi simbol kerukunan beragama di Bumi Khenambay Umbay.

“Karena kita sudah canangkan di daerah ini sebagai zona integritas kerukunan. Namun harus ada simbol-simbol kerukunan beragama disini. Oleh karena itu, kalau di depan ada masjid yang besar, maka berarti di sebelahnya ada gereja (Katolik) ini juga harus besar atau seimbang sama dengan masjid,” paparnya.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E, M.Si, ketika berbincang-bincang dengan Ketua tim 6, Pdt. Alberth Yoku, S.Th, M.Th dan Anggota MRP Pokja Agama, Dr. H. Toni Wanggai, M.A., usai melepas 65 tokoh agama baik dari Kristen Protestan, Kristen Katolik dan Muslim, untuk berwisata rohani ke tanah suci, Kamis (23/3/2018). (Irfan /HPP)

“Kemudian di sebelahnya lagi gereja Protestan juga harus besar. Nah, tinggal tinggal tiga agama lain lagi seperti Hindu, Buddha dan Konghuchu itu kita atur kembali lokasinya disitu,” katanya.

Disampaiakn, supaya semua ini kelihatan seimbang dari segi bangunan, tapi juga harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ada seperti IMB.

“Papua inikan sangat peka dan tidak sama dengan daerah lain, sehingga diberikan kewenangan-kewenangan kekhususan, bagaimana masalah kearifan lokal ini harus menjadi perhatian serius, agar tidak menabrak dan mengganggu hubungan-hubungan sosial yang ada selama ini berjalan baik antara semua komponen yang ada, tegas Mathius (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)