FKUB Papua Mengutuk Tindakan Terorisme

0
460
Sejumlah Pengurus FKUB Provinsi Papua dari Lintas Agama saat menyampaikan pernyataan sikap terhadap aksi terorisme di Surabaya, di Jayapura, Senin (14/5/2018). (Erwin /HPP)
Sejumlah Pengurus FKUB Provinsi Papua dari Lintas Agama saat menyampaikan pernyataan sikap terhadap aksi terorisme di Surabaya, di Jayapura, Senin (14/5/2018). (Erwin /HPP)

JAYAPURA (LINTAS  PAPUA)  –  Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua mengutuk keras aksi terorisme di tiga gereja Kota Surabaya Surabaya pada Minggu (13/5) pagi, hingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

“Apalagi peristiwa pengemboman tiga gereja di Surabaya ini amat mengejutkan dan menyedihkan, sebab dilakukan saat kaum kristiani sedang beribadah,” ujar  Wakil Ketua FKUB Papua Uskup Keuskupan Jayapura,  Leo Labaladjar, yang didampingi para pemuka agama, saat memberikan pernyataan sikap, Senin (14/5) petang, di Jayapura.

“Kami (FKUB) yang berasal dari unsur  lintas agama di Papua mengutuk aksi terorisme yang terjadi di Surabaya Jawa Timur,” katanya.

 

Leo sepakat dengan Presiden yang langsung  menyerukan perlawanan terhadap terorisme. Presiden bahkan telah memerintahkan memberantas semua unsur terorisme hingga ke akar-akarnya, radikalisme serta semua hal yang bertentangan dengan kelompok radikal.

“Malahan Presiden sudah meminta agar pihak kepolisian segera mencari hingga ke akar-akarnya dan memberantas habis kelompok itu,” tuturnya.

“Sehingga untuk wujudkan hal itu, kami serukan kepada petugas keamanan supaya terorisme dan kelompok radikal ini mudah-mudahan bisa dicegah sebelum terjadi di Papua. Karena itu, bertentangan dengan cita-cita kami para pemuka agama di tanah ini, yang sudah bertekad membangun Papua tanah damai,” harap dia.

Pada kesempatan itu, Leo juga mengimbau para pimpinan agama dimana pun berada agar menyampaikan ajaran yang positif dan tak membangkitkan kebencian. Dilain pihak, memainkan peran untuk mendidik serta mengajarkan tafsiran yang menyejukkan, saling menghargai dan cinta akan kedamaian.

“Hendaknya mengajarkan hal yang baik terhadap sesama. Intinya tidak mengkotbahkan atau mendakwahkan hal yang hanya membangkitkan mengakibatkan permusuhan. Sebaiknya hal semacam ini dihentikan oleh para pemimpin agama”.

“Karena kita tahu (saat ini) masih ada pengajar, pengkotbah dan pendakwa agama yang sifatnya menghasut umat supaya memusuhi agama lain. Sehingga diharapkan agar dihindari,” imbau Leo. (Erwin / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here