Gubernur Nusa Tenggara Timur,  Frans Lebu Raya. (www.floresa.co)

KUPANG (LINTAS PAPUA)  –  Gubernur Nusa Tenggara Timur,  Frans Lebu Raya mengimbau seluruh masyarakat di provinsi itu, agar tidak terprovokasi menyusul peristiwa teror yang terjadi di Mako Brimob Depok dan bom bunuh diri Surabaya, Jawa Timur.

“Seluruh elemen masyarakat NTT agar tidak terprovokasi situasi ini, masyarakat agar tetap menahan diri dan menjaga perdamaian di NTT,” kata Gubernur lewat keterangan tertulis yang diterima Antara di Kupang, Minggu.

Imbauan itu disampaikan Gubernur menyikapi situasi nasional yang terjadi menyusul peristiwa kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, pada Selasa (8/5), dan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Provinsi Jawa Timur (Minggu, 13/5).

Menyikapi situasi itu, Gubernur langsung mmenggelar rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkimpda) bersama Polda NTT, para tokoh lintas agama, Forum Komunikasi Umat Beragama, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Forum Pembauran Kebangsaan (FKP), serta tokoh pemuda dan masyarakat setempat, di Kupang, Minggu.

Gubernur Nusa Tenggara Timur,  Frans Lebu Raya, dalam sebuah aktivitas bersama masyaraat. (sergapntt wordpress com)

Sejumlah pernyataan sikap yang dihasilkan Forkopimda NTT, antara lain, mengutuk tindakan keji dan tidak berperikemanusiaan yang terjadi di Mako Brimob maupun bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya.

“Karena itu kami minta aparat keamanan agar segera mengusut peristiwa tersebut setuntas-tuntasnya dan menindak tegas pelaku yang terlibat sesuai aturan yang berlaku,” katanya.

Menurutnya, peristiwa bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya bukan berkaitan dengan agama, meskipun menggunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan tertentu.

“Peristiwa ini murni adalah aksi terorisme karena semua agama pada prinsipnya mengajarkan tentang kebaikan,” katanya.

Untuk itu, gubernur dua periode mengimbau seluruh elemen masyarakat setempat agar tidak terprovokasi dan tidak membawa-bawa agama dalam memandang persoalan tersebut sehingga persatuan dan perdamaian antarumat di daerah itu tetap terjaga secara baik.

Gubernur juga meminta peran media massa cetak dan elektronik agar menyajikan pemberitan terkait peristiwa tersebut secara proporsional dan tidak provokatif, serta tidak menyebarkan informasi berupa foto dan video korban kepada pihak lain.

“Para pemimpin agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta semua elemen masyarakat NTT agar tidak menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian, tapi mari kita bersama-sama menjaga suasana agar tetap aman dan damai,” katanya.

Ia menambahkan, Forkopimda NTT mendukung sikap pemerintahsn Presiden Joko Widodo dengan menggunakan seluruh instrumen, baik hukum, politik, ekonomi, sosial, dan budaya, serta menggunakan seluruh kekuatannya, baik TNI-Polri maupun birokrasi serta dukungan masyarakat luas.

Selain itu, pihaknya mendesak DPR RI agar segera menyelesaikan dan mengesahkan Undang-Undang Anti-Terorisme, dan atau Presiden menerbitkan Perpu Anti-Terorisme sambil menunggu proses pengesahan Undang-Undang Anti Terorisme. (LKBN ANTARA / KORAN HARIAN PAGI PAPUA)