BADKO HMI Tanah Papua Sikapi Masalah Terorisme di Surabaya

0
534
Ketua Badan Kordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Papua-Papua Barat, Nasrul. (Elsye Sanyi /HPP)
Ketua Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Papua-Papua Barat, Nasrul. (Elsye Sanyi /HPP)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Ketua Umum Kohati Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Pusat, Siti F. Siagian mengatakan,  gerakan reformasi merupakan gerakan yang bertujuan untuk memperbaiki tatanan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, serta menghapuskan kesulitan – kesulitan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan – kebutuhan pokoknya.

 

 

Selain itu gerakan reformasi juga membawa masyarakat pada kehidupan yang berkeadilan baik dalam bidang politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya serta demokratis berdasarkan prinsip kemerdekaan.

 

 

Lanjutnya, tepat di bulan dua puluh tahun reformasi ini, terjadi aksi teror atau ledakan BOM di tiga Gereja yang terletak didaerah Surabaya yakni Gereja Santa Maria, GKI dan Gereja yang terdapat di jalan Arjono wilayah Surabaya, Jawa Timur

 

 

“Mengingat masalah Terorisme yang selalu terjadi ini merupakan Isu yang membuat Masyarakat Resah. Walaupun aksi teror ini selalu dikatakan rekayasa atau settingan, tapi intinya aksi ini selalu mengorbankan orang – orang atau masyarakat awam yang sama sekali tidak kita ketahui entah apa salahnya sehingga merekapun ikut dijadikan korban,” paparnya di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Papua di Kota Jayapura, Minggu (13/5/2018).

 

 

Disamping itu, selain membuat masyarakat resah, Siti mengemukakan bahwa masalah terorisme ini juga selalu membuat perpecahan antar umat beragama, karena biasanya Aktor dari Terorisme ini selalu dituduhkan kepada orang yang beragama Islam. Padahal sesugguhnya Islam adalah agama yang cinta damai. Islam dan teroris sangatlah jauh berbeda.

 

 

Sepertinya Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi Terorisme yang besar, oleh sebab itu Pemerintah seharusnya mempunyai langkah yang cerdas utuk mengantisipasi permasalahan aksi terorisme ini.

 

 

“Terkhusus aksi teror Bom Bunuh diri, aksi bom bunuh diri ini biasanya terjadi ketika ada momentum – momentum yang telah ditentukan, di hari-hari perayaan agama, misalnya natal dansebagainya. Hal ini bisa disimpulkan bahwa aksi teror ini dilakukan secara terencana dan terstruktur,” tegasnya.

 

 

Dengan demikian, sambungnya, terbesit dipikiran kita Apa yang menyebabkan Terorisme ini terjadi, mungkinkah aksi terorisme ini dilakukan oleh orang yang terlalu kecewa dengan kebijakan pemerintah? atau terorisme ini sebenarnya memanglah sebuah settingan? karena tidak jarang terdengar wacana tentang aksi Bom bunuh diri ini adalah pengalihan isu – isu yang mengganggu kenyamanan para elit negara dan ada juga yang menyatakan bahwa Bom bunuh diri ini dilakukan oleh orang yang terlibat didalam sebuah organisasi dengan dogma dan ideologi tertentu.

 

 

“Kita berharap dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang dikucurkan setiap tahunnya, seharusnya para Aparat bisa meningkatkan kierja dan kualitas kerjanya untuk tetap bisa menjaga dan melindungi masyarakat Indonesia. Apapun alasan yang melatar belakangi terjadinya aksi teror seharusnya para aparat sudah bisa mengatasi dan mengantisipasinya.

 

Semoga kejadian Bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya pada tanggal 13 mai 2018 ini bukanlah sebuah Atraksi dari perayaan dua puluh tahun reformasi,” tandasnya.

 

 

Pada kesempatan yang sama, hal senada disampaikan oleh Ketua Umum Badan Kordinasi (Badko) HMI Papua-Papua Barat, Nasrul meenyikapi kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai NKRI akhir-akhir ini dirasa semakin berada dalam curang ketimpangan, dimana rasa kebersamaan dan kekeluargaan telah terkoyak dikarenakan ulah beberapa tangan yang tidak memahami kebergaman yang merupakan keniscayaan kita sebagai anak negeri ini.

 

 

“Kami, Himpunan Mahasiswa Islam Papua- Papua Barat di ufuk Timur Indonesia merasa prihatin dengan kondisi ini serta mengutuk keras pelaku bom bunuh diri,” tegasnya.

 

 

Ditambahkannya, kejadian Penyerangan Di Mako Brimob dan Pengeboman Gereja di Kota Surabaya di saat Umat Khatolik sedang menjalankan ibadah minggu  pagi ini, merupakan sirine awal kebencian mereka terhadap keutuhan berbangsa dan bernegara kita

 

 

Oleh Karena itu Kami Pengurus Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Papua-Papua Barat dari Kota Jayapura Papua menyatakan sikap kami sebagai berikut, antara lain, Indonesia berduka, Badko HMI Papua-Papua Barat turut berduka atas korban pengeboman Gereja di Kota Surabaya, Badko HMI Papua-Papua Barat mengutuk tindakan yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, Badko HMI Papua-Papua Barat, tindakan pelaku merupakan tindakan intoleran dan tidak ada kaitan dengan dan atau  atas nama agama manapun terkecuali tindakan brutal manusia biadab tak beragama.

 

 

Kemudian, Badko HMI Papua-Papua Barat, meminta kepada pihak Kepolisian mengusut tuntas dan mengejar pelaku dan aktor dibalik Pengeboman Gereja di Kota Surabaya, dan meminta Kepada PB HMI di Jakarta agar mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah ini.

 

 

Serta, Badko HMI Papua-Papua Barat menghimbau, kepada seluruh kader HMI se-Indonesia dan Papua–Papua Barat khususnya untuk turut menjaga setiap gereja yang akan melaksanakan ibadah-ibadah gereja yang saat ini umat kristiani masih merayakan hari kenaikan Isa Al-masih. (Elsye Sanyi/ Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here