Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, saat menyampaikan pemikirannya. (ISTIMEWA)

 

JAYAPURA  (LINTAS  PAPUA) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,  Yohana Susana Yembise mendorong seluruh organisasi wanita di bumi cenderawasih, untuk dapat melestarikan tanaman sagu dengan melakukan penanaman 1000 pohon.

Upaya tersebut berangkat dari pengamatanya terhadap tanaman sagu di Provinsi Papua yang saat ini dinilai semakin punah.

“Padahal keunggulan kita di Papua adalah tanaman sagu (tapi saya lihat semakin punah). Karena itu saya ingin ada 1000 perempuan Papua tanam 1000 pohon sagu di tanah ini. Tinggal cari lahan dimana, kita tanam sama-sama untuk pelestarian,” terang Menteri Yembise dalam kunjungannya ke Jayapura, Papua, pekan lalu.

Ilustrasi Hutan Sagu Disekitaran Danau Sentani di Kampung Ayapo (Eveerth Joumilena /Koran Harian Pagi Papua)

Dia berharap semua pihak di Papua dapat menjaga dan mulai melestarikan tanaman sagu. Dia khawatir jika tak dilestarikan, tanaman tersebut akan benar-benar hilang. Bahkan provinsi ini mulai kalah dari Kabupaten Meranti yang kini telah menjadi salah satu daerah penghasil sagu dalam jumlah yang besar.

“Padahal bahan bakunya diambil dari Papua. Makanya saya harap minta kita harus jaga tanaman sagu jangan sampai hilang. Karena generasi kita akan menangis kalau sagu ini hilang,” imbaunya.

Sebelumnya, Penjabat Gubernur Papua,  Soedarmo mengimbau seluruh kabupaten di Bumi Cenderawasih, agar meniru Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, dalam memproduksi sagu.

Sejumlah makanan olahan khas Papua mulai dari tepung sagu, es krim ubi jalar, kopi dan lainnya yang diharapkan mulai disediakan pada sejumlah operator penerbangan 2018 mendatang. (Erwin / Koran Harian Pagi Papua)

Dimana hanya dengan luas sekitar 12 ribu hektar, pabrik kilang sagu yang ada mampu meraup keuntungan sekitar Rp300 juta perbulan. Sementara petani sagu pembudidayanya bisa menerima sekitar Rp17 juta s/d Rp20 juta perbulan.

“Ini baru 12 ribu hektar. Coba bayangkan pabrik tersebut dikembangkan di Provinsi Papua yang memiliki luas lahan yang bisa ditanami sagu sekitar 1 juta hektar. Ini kalau kita manfaatkan secara maksimal, saya yakin hasil produksi di Papua bisa lebih banyak dibanding sebelumnya,” terang dia.

Hal menarik lainnya, lanjut Soedarmo, bahan sagu yang digunakan oleh Pemkab Kepulauan Meranti, dibeli dari Provinsi Papua. “Jadi, meski Provinsi Papua yang siapkan bahan sagu ke Kepulauan Meranti, justru provinsi ini memiliki hasil lebih sedikit dibandingkan yang dilakukan daerah lain”.

Sagu Forna, saat untuk masak sagu bakar. Dalam sebuah kegiatan Festival Sagu di Toware Sentani (Foto Whens Tebay)

“Makanya, ini yang barangkali bupati dan walikota di Papua jadikan perhatian. Sebab kita di Papua ini memiliki wilayah luas dan punya lahan besar untuk ditanami sagu. Makanya, saya imbau pemkab di Papua juga bisa studi banding ke Kepulauan Meranti”.

“Dengan demikian, hasil bumi Papua bisa dikembangkan untuk menghasilkan sesuatu yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat diatas negeri ini,” ucapnya. (Erwin / Koran Harian Pagi Papua)