Bank Indonesia Gelar   Rapat TPID Bersama BPS Kota Jayapura

0
574
Suasana Bank Indonesia mengadakan rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Jayapura bersama BPS Kota Jayapura dan dinas terkait untuk menyampaikan Tekanan harga barang dan jasa di Provinsi Papua bulan April 2018, sebagaimana mengalami peningkatan dibanding bulan sebelumnya. (Fransisca)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  – Bank Indonesia mengadakan rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Jayapura bersama BPS Kota Jayapura dan dinas terkait untuk menyampaikan Tekanan harga barang dan jasa di Provinsi Papua bulan April 2018, sebagaimana mengalami peningkatan dibanding bulan sebelumnya.

Provinsi Papua tercatat mengalami inflasi sebesar 1,58% (mtm), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 1,01% (mtm). Sementara itu, secara tahunan inflasi Papua pada bulan Maret 2018 sebesar 3,16% (yoy) lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 2,62% (yoy) dan lebih rendah dari inflasi rata-rata 2 tahun terakhir yang sebesar 3,53% (yoy).

Inflasi yang terjadi di Papua pada bulan Maret 2018 terutama disebabkan oleh peningkatan harga kelompok komoditas volatile food dan kelompok inti.

Sementara itu, kelompok komoditas administered prices mengalami deflasi. Secara spasial, perkembangan harga di dua wilayah yang menjadi lokasi survei inflasi di Papua yaitu Kota Jayapura dan Kabupaten Merauke mengalami inflasi yang searah.

Kota Jayapura mengalami inflasi sebesar 2,10% (mtm) sedangkan Kab. Merauke mengalami inflasi sebesar 0,11% (mtm).

Pimpinan Bank Indonesia saat memberikan keterangan pers. (Fransisca)

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Fauzan mengatakan, menyungkapkan, secara disagregasi inflasi, penyumbang inflasi kelompok volatile food terbesar di Jayapura adalah komoditas ekor kuning, cakalang dan cabai rawit dengan sumbangan masing-masing sebesar 1,41% (mtm), 0,41% (mtm) dan 0,22% (mtm).

“Peningkatan harga komoditas ikan disebabkan oleh tingginya gelombang di perairan laut Papua sehingga produksi tangkapan ikan menurun akibat nelayan jarang melaut. Pada komoditas hortikultura, peningkatan harga sebagian besar disebabkan oleh curah hujan yang tinggi sehingga menggangu beberapa lahan pertanian dan menyebabkan panen tidak optimal,” katanya.

Sementara itu,  komoditas penyumbang deflasi di Kota Jayapura adalah apel, sawi hijau dan jeruk dengan sumbangan masing-masing sebesar -0,018% (mtm), -0,018% (mtm) dan -0,017% (mtm).

Selain itu,  Fauzan juga mengatakan Sebagai bentuk pengendalian Inflasi di Papua, Pemerintah Daerah dan Bank Indonesia berkoordinasi melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah dengan melaksanakan berbagai kegiatan pengendalian inflasi di Papua.

“Mencermati perkembangan informasi terkini dan beberapa indikator harga, pada bulan April 2018 inflasi diperkirakan lebih rendah dari bulan Maret 2018,” tuturnya.

Disampaikan,  beberapa faktor yang berpotensi memicu inflasi di bulan April 2018 antara lain: Penyesuaian tarif bahan bakar minyak, Rencana peningkatan harga pokok produksi gula petani Ketidakpastian cuaca di Papua.

“Di sisi lain, salah satu faktor yang menjadi peredam inflasi pada bulan April 2018 adalah terjaganya ekpektasi masyarakat terhadap perubahan harga barang dan jasa,” pungkasnya.(Fransisca)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here