BIAK (LINTAS PAPUA)  –   Pengurus Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Provinsi Papua sedang menjaring 24 atlet panahan untuk dipersiapkan menghadapi Pekan Olahraga Nasional Papua 2020 Papua.

“24 atlet panahan Papua yang dipilih 12 dari putra dan 12 putri akan dibina dalam menghadapi berbagai event kejuaraan nasional, kejuaraan daerah hingga PON Papua,” ungkap Ketua Harian Perpani Papua Rudolf Morin dihubungi di Biak, Minggu.

Ia mengakui potensi atlet panahan di Provinsi Papua sangat diperhitungkan karena telah banyak terbentuk klub panahan di berbagai kabupaten.

Rudolf Morin mengakui salah satu event untuk menjaring atlet panahan berbakat yakni hasil kejuaraan daerah yang digagas Komandan Pangkalan Udara Manuhua Biak Kolonel Pnb Fajar Adriyanto yang berakhir Sabtu 14 April 2018.

“Hasil pengamatan Perpani Papua di kejuaraan Lanud Manuhua ketiga 2018 telah banyak menghasilkan atlet panahan muda berbakat dari berbagai klub dan sekolah,” ujarnya.

Jajaran pengurus Perpani Papua, lanjut Rudolf Morin, sangat optimistis atlet panahan Biak dapat terpilih masuk menjadi atlet PON Papua 2020.

Rudolf mengakui selama mengamati kejuaraan piala Danlanud Manuhua Cup ketiga 2018 pihak Perpani Papua telah melihat potensi beberapa atlet panahan Biak yang menonjol dan memiliki kemampuan teknik yang sangat bagus.

“Saya harapkan atlet panahan Biak terus berlatih karena pada 19 April 2018 akan mengikuti kejuaraan nasional perebutan piala KSAU di Bogir, Jawa Barat,” katanya.

Menyinggung kelas pertandingan cabang panahan, lanjut Rudof Morin, yakni ronde Fita Coumpound yang untuk segi bahan mirip dengan recuve, namun ada roda di sisi-sisi busur berikut juga kalau ditarik akan memiliki angka nol dengan jarak yang diperlombakan yaitu mulai dari 30 meter hingga 90 meter.

Sedangkan untuk ronde Fita Recuve Alat menembak atau panah ini adalah buatan Korea dan Amerika di mana penggunaannya memang untuk standar pertandingan internasional.

Panah ini terbuat dari campuran karbon dan fiber di mana beratnya dalah sekitar 5 kg dan jarak perlombaan adalah mulai dari 30-90 meter.

Untuk jenis lomba tradisional/Tanpa Aksesoris, menurut Rudolf Morin, untuk Ronde ini termasuk yang jarang dilombakan dan sebabnya adalah karena cara panahan posisinya adalah duduk.

“Cabang lomba panahan tradisional sudah tidak dipertandingkan lagi, ya ini untuk eksebisi atlet panahan asli Papua,” katanya.

Sedangkan untuk cabang standar Bow atau Ronde Fita Nasional Ronde ini hanya ada di Indonesia di mana jarak yang diperlombakan hanyalah 30, 40, dan 50 meter.

Ronde ini jauh lebih ringan bila dibandingkan dengan recuve serta compound dan pemula biasanya yang menggunakan ronde ini.

Berdasarkan data atlet panahan Perpani Biak yang ikut dalam kejuaraan Lanud Manuhua ketiga 2018 mencapai 80-an orang dominan berasal dari kalangan pelajar SD,SMP dan SMA/SMK serta prajurit TNI Angkatan Udara dan masyarakat umum. (ant/ej/ Koran Harian Pagi Papua)