PEMERSATU PAPUA ? (Rahasia Mengapa Orang Papua Bebicara Bahasa Indonesia

180
Constant Manoppo Gosal bersama Presiden Soekano kala itu. ISTIMEWA)

(Posting di bawah ini adalah revisi posting sebelumnya, di bawah judul “Pahlawan Terlupakan”).

Adalah sangat mungkin bahwa orang tidak tahu siapakah yang membuat ratusan suku-bangsa di Papua kini dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Mungkin orang akan heran ketika tahu bahwa pelopornya bernama Constant Manoppo Gosal (CMG; 1904-1998), dari Minahasa.

Setelah menamatkan Sekolah Pendidikan Guru di Kuranga, Tomohon, pada tahun 1929, ia diundang oleh Pendeta I.S. Kijne untuk mengajar di sekolah yang didirikan di Miei, Manokwari. Surat yang dikirimkannya bertanggal 1 Juni 1929. CMG tiba di Miei pada 22 Agustus 1929 dengan kapal laut. Ia memulai pekerjaannya sebagai guru dengan doa sebagai berikut: ”Ya Tuhan, kuatkanlah hati hamba dalam menunaikan tugas ini, supaya dengan akal budi dan karunia-Mu yang datang dari-Mu dan memelihara hidup ini, sebagai karunia Tuhan dengan kebijaksanaan demi kemuliaan-Mu”.

Salah satu mata pelajaran yang diajarkan CMG adalah Bahasa Indonesia (Tata-Bahasa; Membaca; Mengarang). Buku yang digunakan adalah buku karangan A. Pandelaki, dari Minahasa, yang dulunya menjadi buku pegangannya ketika mengikuti Sekolah Pendidikan Guru di Tomohon.

(Di kemudian hari sekolah ini menjadi Perguruan Tinggi Pendidikan Guru, pada tanggal 1 Maret 1955, dengan Prof. Mr. G.M.A. Ingkiriwang sebagai dekan. Fakultas ini menjadi fakultas keempat dari Universitas Hasanuddin pada saat pendiriannya, 10 September 1956. Alumnus pertama UNHAS berasal dari PTPG Tomohon, bernama Drs. W. Silalangi).

CMG mengajar di Miei sejak 1929, yang terpaksa diakhiri pada 1944 karena pendudukan Jepang di Papua. Selama itu, siswa-siswa Sekolah Pendidikan Guru yang ditamatkan berjumlah sekitar 300 orang yang berasal dari berbagai pelosok di Papua. Bermodalkan Bahasa Indonesia yang mereka terima dari CMG mereka kemudian menyebar sebagai guru ke daerah asalnya, menyebarkan virus Bahasa Indonesia, yang sudah menjangkitinya.

Setelah Perang Dunia II CMG diminta oleh Residen J.P.K. van Eechoud untuk membuka dan memimpin Sekolah Lanjutan di Kotanica, sekolah mana dipindahkan kemudian ke kompleks persekolahan yang baru di Yoka. Beberapa bangunan sekolah di Yoka masih berdiri sekarang sebagai saksi bisu sejarah. Di samping itu, van Eechoud juga menugaskan CMG untuk menelusuri mantan-mantan siswanya untuk mengikuti Kursus Kilat Pamongpraja di Kotanica. Dengan demikian, CMG turut menghasilkan guru dan pamong praja yang berbahasa Indonesia.

Pada tahun 1962 CMG turut membantu Prof. Soegarda Poerwakawatja mendirikan Universitas Cendrawasih. Di lingkungan UNCEN ia menjadi Ketua Panitia Penyambutan Presiden Sukarno dan rombongan pada tahun 1963. Lihat gambar di bawah. Ia juga mengajar di Sekolah Theologia I.S. Kijne di Abepura.

Di bidang pemerintahan CMG menjadi penasehat pribadi Ketua DPRD Irian Barat, dan penasehat pribadi Gubernur Irian Barat pada 1966-1969, sebelum pensiun. Pada bulan September 1969 CMG bersama istrinya kembali ke kampung halamannya di Tataaran I, Tondano. Mereka mendiami sebuah rumah sederhana yang diberi nama Wisma Miei. Di rumah itu masih terpelihara dengan baik sebuah sofa yang diduduki Presiden Sukarno di Jayapura pada tahun 1963.

Di samping mendapat informasi tentang CMG di Papua, dengan bantuan dua orang mantan mahasiswaku di Universitas Manado (Prof. Dr. Arie Kawulur dan Dr. Nining Ottoluwa,) penulis dapat menelusuri jejak CMG sejak ia bersekolah di Tomohon, sekolah tempat ia mengajar di Benggol, rumahnya di Tondano, bahkan sampai ke kuburannya, di mana ia beristirahat pada 16 Agustus 1998, di usia 94 tahun.

Renungan: Sejarah ditentukan perkembangannya oleh banyak pihak. Kadangkala ada pelaku sejarah yang besar jasanya, tetapi tidak tercatat di dalam pikiran orang banyak.

(Disadur Dari Facebook : Prof. Wim Poli)