Earth Hour 60+ :  Papua Jadi Benteng Terakhir Keanekaragaman Hayati Terlengkap

0
669
Aksi tahunan Earth Hour yang digelar oleh World Wild Fund for Nature (WWF) Indonesia Perwakilan Papua khususnya di Kota Jayapura, yang digelar di Taman Yos Sudarso Jayapura, Senin (26/3/2018). (ISTIMEWA)
Aksi tahunan Earth Hour yang digelar oleh World Wild Fund for Nature (WWF) Indonesia Perwakilan Papua khususnya di Kota Jayapura, yang digelar di Taman Yos Sudarso Jayapura, Senin (26/3/2018). (ISTIMEWA)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  –  Agenda swicth off 2018 yang digelar di Taman Imbi Jayapura, Aksi tahunan Earth Hour yang digelar oleh World Wild Fund for Nature (WWF) Indonesia Perwakilan Papua khususnya di Kota Jayapura, sukses digelar di Taman Yos Sudarso Jayapura, Senin (26/3/2018).

Diawali dengan street champaign yang menyampaikan banyak pesan lingkungan kemudian moment puncak mematikan lampu yang dibarengi dengan menyalakan  ratusan pelita tepat di tengah poros jalan Imbi menjadikan situasi malam akhir pekan tersebut berbeda.

 

Angka 60+ berukuran besar menjadi pesan kuat kepada publik untuk ikut peduli atas isu lingkungan di Jayapura. Koordinator Earth Hour Jayapura, Irwan Johan menyampaikan bahwa kegiatan ini akan menjadi sebuah gerakan ditahun tahun berikutnya.

Aksi tahunan Earth Hour yang digelar oleh World Wild Fund for Nature (WWF) Indonesia Perwakilan Papua khususnya di Kota Jayapura, yang digelar di Taman Yos Sudarso Jayapura, Senin (26/3/2018). (ISTIMEWA)

Gerakan yang dilaksanakan di seluruh daerah di Jayapura. Swicht Off sendiri menurut Johan bukan soal  mematikan lampu selama satu jam, tetapi bagaimana menjadikan hemat energi sebagai gaya hidup.

 

“Untuk mengurangi pemanasan global, ini harus jadi kebiasaan,” katanya.

 

Direktur WWF Indonesia Region Sahul, Benja Mambai mengatakan gerakan Earth Hour di Jayapura memiliki banyak poin plus karena melibatkan banyak komunitas. Tak hanya berbicara soal mematikan lampu tetapi juga berbicara tentang Cenderawasih, mata air cyclop hingga sampah di Teluk Yotefa.

 

Ia menyebut, jika semua melaksanakan hal serupa maka bumi bisa menekan emisi sebanyak 5 persen dan bila terus dilakukan tentu bumi bisa lebih dingin.

 

“Kita tak bisa menghindari situasi pemanasan global karena sedang terjadi,” jelasnya.

Aksi tahunan Earth Hour yang digelar oleh World Wild Fund for Nature (WWF) Indonesia Perwakilan Papua khususnya di Kota Jayapura, yang digelar di Taman Yos Sudarso Jayapura, Senin (26/3/2018). (ISTIMEWA)

Papua sendiri menjadi benteng terakhir yang memiliki keanekaragaman hayati terlengkap saat ini.

 

“Sikap peduli terhadap lingkungan harus dijadikan sebagai gaya hidup,”pesannya.

 

Sementara dalam kegiatan ini juga dibarengi dengan pementasan teater oleh Files Nature Teater yang memainkan isu Cenderawasih dan Climate Change yang melibatkan komunitas Sekolah Menulis Papua.

Aksi tahunan Earth Hour yang digelar oleh World Wild Fund for Nature (WWF) Indonesia Perwakilan Papua khususnya di Kota Jayapura, yang digelar di Taman Yos Sudarso Jayapura, Senin (26/3/2018). (ISTIMEWA)

 

“Saya kagum dengan penampilan teater ini. Pesan yang disampaikan sangat kuat dan masih sangat jarang dilakukan di Jayapura. Ini keren sekali,” ujar salah satu Dosen ISBI, Iam Murda usai pertunjukan.

 

Dalam kesempatan yang  sama WWF memberi piagam penghargaan kepada Direktur Bank Sampah Khenambai Umbay, Farrah Febrianti dan Wartawan Cenderawasih Pos, Gamel atas desikasinya untuk upaya pelestarian lingkungan hidup.

 

“Kami mengamati dan menilai individu yang mendedikasikan hidupnya dalam upaya perlindungan,  pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan yang melampaui kewajiban dan tugas pokok profesi selama jangka waktu lama secara berurutan paling sedikit 3 (tiga) tahun dan kami menganggap dua sosok ini layak menerimanya,” beber Irwan.

Ilustrasi Burung Cenderawasih saat menari di pepohonan yang tinggi (istimewa)

Sementara itu, Direktur Bank Sampah Khenambai Umbay, Farrah Febrianti mengatakan, bahwa  pencapaian pada sebuah proses panjang akan peduli terhadap lingkungan memang tidak mudah, sulit rasanya ketika dicemooh, ketika mendapat ejekan dan perlakuan yang tidak mengenakan.

 

“Tetapi beda dengan WWF yang mendorong kami untuk mengaktualisasi diri dan berekspresi dgn sepuas hati, karena nilai dari perubahan lingkungan bukan kami yang menilai..

sungguh ini penghargaan yang luar biasa yg tidak disangka sebelumnya,” ujar Farrah Febrianti, dalam sebuah akun facebooknya.

SAVE CENDERAWASIH PAPUA (Istimewa)

LSM tingkat dunia yang terus berupaya untuk mendorong kami lebih aktif lagi untuk penyelamatan lingkungan di TANAH PAPUA. amanat yang sungguh besar yang kami harus mengembannya.

 

“Terimakasih kami sampaikan kepada teman,sahabat, saudara, kelurga, komunitas pencinta lingkungan di Tanah Papua yang terus memberikan semangat serta dorongan agar semangat kami terus membara. Serta terimakasih kepada Direktur WWF Papua dan crew yang sudah memberikan penghargaan ini,” tuturnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here