Komitmen JWW untuk Yahukimo, Siap Tinggkatkan Infrastruktur 

0
279
Calon Gubernur Papua John Wempi Wetipo (tengah) saat berbincang dengan para anak buah kapal barang LCT di Pelabuhan Logpon Yahukimo. (Roy/HPP)
Calon Gubernur Papua John Wempi Wetipo (tengah) saat berbincang dengan para anak buah kapal barang LCT di Pelabuhan Logpon Yahukimo. (Roy/HPP)

YAHUKIMO (LINTAS PAPUA)  – Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Papua, John Wempi Wetipo-Habel Melkias Suwae (JOSUA), mendapatkan jadwal kampanye perdana di Kabupaten Yahukimo. Tak ingin hanya berorasi secara teori di panggung politik, JWW menyempatkan berkunjung ke sejumlah lokasi pelayanan public, dimana dan apa saja yang dilakukannya ?

 

Laporan: Roy Purba-DEKAI

 

SAAT itu cuaca di Dekai, ibukota Kabupaten Yahukimo cukup dingin, sebab diguyur hujan. Hujan diwilayah itu dengan intensitas cukup tinggi, walau begitu, tim kampanye pemenangan JOSUA tetap mempersiapkan, segala kebutuhan dalam kampanye perdana di Lapangan Pendidikan.

 

Sementara, Calon Gubernur Papua, John Wempi Wetipo yang berada di salah satu penginapan di daerah tersebut, tak ingin menyia-nyiakan waktunya, menunggu massa berkumpul di lapangan. Lalu ia pun meminta kepada ajudan dan beberapa tim sukses, termasuk Ketua Tim Pemenangan JOSUA Edoardus Kaize untuk menemaninya memantau beberapa lokasi pelayanan public di daerah tersebut.

Calon Gubernur Papua, John Wempi Wetipo berorasi pada saat menggelar kampanye perdana di Lapangan Pendidikan, Dekai Kabupaten Yahukimo. (ISTIMEWA)

Akhirnya, mantan Bupati Dua Periode di Kabupaten Jayawijaya itu memutuskan untuk menyambangi Pelabuhan Sungai Logpon yang berjarak 18 Kilometer dari Dekai.

Setibanya di sana, Wempi Wetipo bertemu dengan Kapten Kapal Motor Purnama 06 bernama Aris yang di dampingi beberapa awak kapalnya yang tengah bongkar muat barang dengan cara menumpang di badan Kapal LCT.

Dalam pertemuan mereka, Wempi Wetipo mendengarkan cerita para awak kapal, buruh bongkar muat dan juga kepala suku setempat.

Cotohnya Aris, menyampaikan bahwa Pelabuhan Logpon hanya muat satu kapal jenis LCT dan kapal kecil seperti Purnama pada saat sandar di pelabuhan bongkar muat barang. Tentunya, hal ini membuat mereka harus menunggu lama di pinggir sungai ketika hendak bongkar muat barang.

Calon Gubernur Papua, John Wempi Wetipo salam dua jari bersama dengan pendukungnya. (ISTIMEWA)

“Disini setiap harinya selalu banyak kapal yang mengantri. Sebab kapal jenis LCT harus membongkar barangnya selama kurang lebih satu minggu paling cepat. Kalau jenis kapal kecil seperti kami, butuh waktu tiga hari untuk selesai membongkar barang. Hal itu disebabkan, dermaga yang kecil, tanpa memiliki fasilitas bongkar muat barang. Semua kerja serba manual, termasuk memindahkan barang dari kapal ke gudang,” katanya.

 

Aris yang sehari-hari bekerja membawa barang melalui kapal dari Timika-Yahukimo, tentunya mengharapkan pemerintah memberikan fasilitas kepada mereka, sehingga sector ekonimi yang di Yahukimo dapat berkembang dengan pesat.

“Saya tidak tau bapak Calon Gubernur Papua. Tapi, kalau boleh berpesan, perlu adanya pembenahan pada Pelabuhan Logpon ini. Bapak boleh lihat, banyak kapal yang menggantri. Kami bisa satu minggu lebih menunggu, untuk dapat antrian. Padahal untuk mengangkutnya dari Timika ke Yahukimo juga membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu,” ujarnya.

Lain hal dengan Kepala Suku setempat, Rubanus Suhun meminta kepada JWW-HMS untuk memberikan kepada pemerintah daerah setempat kapal penumpang yang lebih besar, apabila kelak terpilih sebagai orang nomor satu di Papua.

Massa Pendukung JWW – HMS saat menghadiri kampanye perdana di Lapangan Dekai Ibu Kota Yahukimo. (ISTIMEWA)

“Dahulu ada kapal penumpang milik Pemda. Tapi, kapal itu sudah tidak tau dimana. Kami mau, bapak membantu kami agar memiliki kapal penumpang yang besar. Disamping itu perlu adanya pembenahan di pelabuhan ini, karena Yahukimo adalah jendela perekonomian di wilayah Pegunungan Tengah Papua,” pungkasnya.

Sementara itu, John Wempi Wetipo bercerita tentang kunjungannya ke Pelabuhan Logpon. Disampaikannya, pelabuhan dalam aktivitasnya mempunyai peran penting dan strategis untuk pertumbuhan industri dan perdagangan serta merupakan segmen usaha yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan di daerah hingga nasional.

 

“Pada dasarnya pelayanan yang diberikan oleh pelabuhan adalah pelayanan terhadap kapal dan pelayanan terhadap muatan (barang dan penumpang),” pungkasnya.

Ia mengatakan, gencarnya pemerintah pusat membangun infratruktur jalan di papua, tentunya harus di ikuti oleh pemerintah daerah, agar jaringan infrastruktur pelabuhan secara terpadu, selaras dan harmonis agar bersaing dan tidak saling mengganggu yang bersifat dinamis

 

“Apabila infrastruktur jalan di Papua dapat terwujud, tentunya kita bisa menyediakan jasa kepelabuhanan sesuai dengan tingkat kebutuhan. Lalu, kita bisa menekan harga kemahalan, meningkatkan perekonomian masyarakat dan yang paling penting kehadiran pemerintah bisa dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

 

Dari teori yang disampaikan Wempi Wetipo, tentu ketika ia terpilih sebagai Gubernur Papua, tentunya menginginkan semua transportasi di daerah bisa saling terkoneksi.

“Transportasi itu tidak hanya jalan darat, tentu ada jalur laut atau sungai dan juga udara. Kedepan, kita akan mendata mana daerah yang membutuhkan pelabuhan dan juga lapangan terbang hingga bertaraf bandara. Tentunya, kita tidak bisa bekerja sendiri, melainkan harus bersama-sama pemerintah pusat, melalui kemnterian terkait dan juga pemerintah daerah di Kabupaten/Kota di Papua,” ujarnya.

 

Wempi berkeyakinan, apabila system transportasi di Papua dapat terwujud, maka masyarakat dengan sendirinya akan mendapat akses barang dan jasa yang mudah dan murah. Disamping itu, masyarakat juga memiliki kesempatan untuk bertukar barang hasil pekebunan maupun perikanan dan ternak yang menjadi penghasilan masyarakat utama di Papua.

 

“Itu alasan saya memperhatikan sector pelabuhan, yang merupakan salah satu infrastruktur transportasi, dapat membangkitkan kegiatan perekonomian suatu wilayah karena merupakan bagian dari mata rantai dari sistem transportasi maupun logistic,” katanya.

 

Khusus Pelabuhan Logpon yang baru di tinjaunya, Wempi Wetipo mejelaskan, sebenarnya urat nadi ekonomi ada di Yahukimo ini, hanya dilalui melalui sungai ini.

“Kalau mau mensejahterakan masyarakat di Yahukimo, maka perlu adanya pembenahan terhadap pelabuhan ini, sehingga kedepan pelabuhan ini bisa dimaksimalkan penggunaannya,” ujarnya.

 

 

Ia juga menyarankan kedepan harus ada gudang tempat penyimpanan barang di daerah dermaga agar barang yang didistribusikan teratur dan kualitasnya terjaga.

 

Yang ke dua masih kata Wempi Wetipo, jalur sungai juga dapat memperpendek rentan kendali pelayanan kepada masyarakat dengan menambahkan kapal yang lebih besar. Hal ini juga dipercaya akan membuat harga lebih murah di wilayah tersebut.

 

 

“Jarak melalui udara dari Yahukimo ke Wamena ini kan bisa  kita tempuh hanya 20 menit. Dari pada angkut barang dari Jayapura ke Wamena, namun harga barang tak bisa di tekan, kenapa tidak dari Yahukimo saja, harganya juga jauh lebih murah, lebih efektif, efisien. Sebab barang disini di angkut dari Mimika. Saya contoh, harga semen di sini sekitar Rp 110.000. Sedangka di Wamena masih sekitar Rp 400.000. Nah, cukup besar bukan, harga yang bisa kita pangkas,” lugasnya.

 

Jika ke depan Yahukimo menjadi sentral pengendalian ekonomi di pegunungan tengah dan dermaga Logpon ini menjadi urat nadi pendistribusian barang maka pembangunan orang Papua yakni Sumber Daya Manusia (SDM( yang ada juga akan maksimal dan sejahtera.(*)