Kodam XVII/Cenderawasih Amankan Puluhan Pucuk Senjata Api

0
793
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI George Enaldus Supit saat menggelar barang bukti senjata api. (ISTIMEWA)
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI George Enaldus Supit saat menggelar barang bukti senjata api. (ISTIMEWA)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA ) –  Kodam XVII/Cenderawasih berhasil mengamankan puluhan pucuk senjata api yang diperoleh dari masyarakat melalui pembinaan teritorial (binter)

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI George Enaldus Supit mengatakan, puluhan pucuk senjata itu diserahkan masyarakat karena adanya hubungan yang baik, yang tercipta di antara TNI dan masyarakat selama ini.

“Berkat hubungan baik yang tercipta dan pembinaan teritorial (binter) yang baik , maka timbulah  kesadaran masyarakat untuk menyerahkan senjata api yang mereka miliki kepada prajurit kami,” ujar Pangdam didampingi Kasdam Brigjen TNI I Nyoman Cantiasa bersama sejumlah Asisten di lingkup Kodam XVII /Cenderawasih, saat gelar barang bukti senjata api  di Aula Toni Rompis, Makodam Cenderawasih, Senin (19/2/18).

Jenderal TNI berbintang dua itu menjelaskan, barang bukti senjata yang diamankan jajarannya yakni 74 senjata api yang terdiri dari 14 pucuk senjata organik/standart dan 60 pucuk senjata rakitan. Dipaparkannya lagi, senjata standart yang berjumlah 14 pucuk itu terdiri dari 6 laras panjang dan 8 laras pendek. Sementara 60 senjata rakitan terdiri dari 37 laras panjang dan 23 laras pendek.

“Jadi, 74 senjata ini merupakan hasil kerja keras seluruh prajurit  kami yang beroperasi di daerah Papua. Ada prajurit yang tergabung dalam pasukan satuan tugas pengamanan daerah perbatasan (Pamrahwan), ada sebagai satuan tugas pengamanan daerah rahwan dan juga satuan tugas intel ” terang pria berdarah Manado ini.

Alumnus Akademi Militer (Akmil) 1985 itu juga menambahkan, bahwa Kodam XVII/Cenderawasih telah mendapatkan informasi ihwal keberadaan senjata senjata api yang masuk ke Papua dari salah satu negara tetangga, yakni Filipina. Tak dipungkiri bahwa di negara yang berbatasan dengan Pulau Miangas, Sulawesi Utara itu, senjata api dijual secara bebas. Padahal, di Indonesia kepemilikan senjata api sangat dilarang sesuai UU No 15 tahun 1951 yakni barang siapa yang menyalahgunakan senjata api dapat dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun.

“Di Filipina senjata api bebas diperjual belikan. Sehingga ada beberapa yang lolos masuk ke Papua begitu juga dari Papua New Guine (PNG). Dan berdasarkan informasi masuknya senjata dari luar negeri, maka kami prediksikan kekuatan senjata yang dimiliki kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB) masih berkisar 200 pucuk lebih,” bebernya.

Lebih jelas puluhan pucuk senjata api yang diperoleh TNI ini,  bukan senjata milik KKSB, karena 80 persen diperoleh dari masyarakat dan hanya sekitar 20 persen dari KKB.

Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI George Supit . (Fransisca /LintasPapua.com)

“Ya, kemungkinan masih banyak senjata mereka,” tandasnya.

Selanjutnya untuk mengantisipasi peredaran senjata api di kalangan masyarakat sipil, Kodam XVII/Cenderawasih telah meningkatkan pengawasan dan pengamanan di wilayah perbatasan.

“Kita lakukan antisipasi dengan meningkatkan pengamanan dan pengawasan di daerah perbatasan, seperti melakukan sweeping. Memang agak sulit tapi kita berusaha, apalagi di perbatasan juga rawan narkoba khususnya ganja,” imbuh Pangdam. (Lea / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here