Mengenang 51 Tahun Uskup Mgr. Herman Munninghoff Melayani Masyarakat Papua

0
684
Masyarakat Adat Papua, Elsham Papua dan Gabah Papua menggelar pertemuan untuk mengenang perjuangan kemanusiaan mendiang Herman Munninghoff yang siap mati untuk Papua, bertempat di Susteran Maranatha Waena, Kamis (15/2/2018). (Elsye Sanyi / Koran Harian Pagi Papua)
Masyarakat Adat Papua, Elsham Papua dan Gabah Papua menggelar pertemuan untuk mengenang perjuangan kemanusiaan mendiang Herman Munninghoff yang siap mati untuk Papua, bertempat di Susteran Maranatha Waena, Kamis (15/2/2018). (Elsye Sanyi / Koran Harian Pagi Papua)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Rekan kerja dan teman seperjuangan alm. Mgr. Herman Ferdinand Maria Munninghoff, OFM yang tergabung dalam Masyarakat Adat Papua, Elsham Papua dan Gabah Papua menggelar pertemuan untuk mengenang perjuangan kemanusiaan mendiang Herman Munninghoff yang siap mati untuk Papua, bertempat di Susteran Maranatha Waena, Kamis (15/2/2018).

 

 

Sebagai rekan kerja, ketiga lembaga itu mengadakan momen tersebut karena selama 51 tahun masa bhaktinya di Tanah Papua adalah refleksi yang konkrit dalam kata dan tindakan mengenai Spirit Agung yang ia imani dan menjadi panutan hidupannya. Selama 83 tahun masa hidupnya alm. Munninghoff telah berjasa di bidang pendidikan dan kesehatan untuk membangkitkan semangat perjuangan masyarakat Papua.

 

 

“Ada rasa sedih yang sangat mendalam atas kepergiannya untuk selamanya itu, sedalam itu pula ada ungkapan terima kasih dan rasa berutang budi atas jasanya bagi tanah Papua. Beliau adalah sosok yang berjasa amat sangat luar biasa besar bagi promosi Hak Asasi Manusia (HAM) di tanah Papua,” ucap Piet Maturbongs yang adalah mantan anak didik dan rekan kerja Uskup Munninghoff selama 51 tahun saat alm.  memimpin Keuskupan Jayapura sejak 1979 hingga kembali ke negara asalnya 2005 silam.

 

 

Lanjut Piet, hal yang paling berkesan yang terlihat dari sosok Uskup Munninghoff adalah prinsip kerja yakni melaksanakan tugas pelayanan adalah yang utama. “Hatinya ada di orang Papua, tapi ia menerima pluralisme atau keberagaman agama, profesi dan suku demi keadilan dan perdamaian. Ia mendukung Papua,  tapi ia tidak suka sama orang Papua yang berbuat kekerasan,” kenangnya.

 

 

Sementara itu, anggota Elsham Papua, Ferry Marisan mengatakan ketika Papua diajari sejarah kepahlawanan putra bangsa, maka sudilah kiranya mencatat nama mendiang alm. Uskup Munninghoff dengan tinta emas minimal di batin masyarakat Papua.

 

 

“Mendiang Uskup Munninghoff adalah pahlawan keadilan dan perdamaian di Tanah Papua, jika bukan untuk seluruh Papua, minimal untuk Suku Amungme dan Tujuh Suku di wilayah Operasi PT. Freeport,” ucap Marisan.

 

 

Selain itu, saat mengenang mendiang Munninghoff, Pengacara dan Mantan Direktur Pertama LBH Jayapura,  Yohanis Bonai menceritakan momen sejarah yang paling mendebarkan dan menegangkan adalah ketika Uskup kharismatik itu memutuskan untuk menandatangani laporan pelanggaran HAM pertama di Tanah Papua yang pada waktu itu masih disebut Irian Jaya pada pertengahan1995, yang berlokasi di wilayah operasi PT. Freeport.

 

 

“Siapa yang berani melakukannya? Tindakan demikian dibawah kekuasaan Orde Baru adalah tindakan bunuh diri, untuk melakukan verifikasi data dan mengumumkannya di Indonesia. Saya ambil tanggung jawab ini. Jika harus mati karena keputusan ini, saya siap mati untuk Papua,” ucap Bonai menirukan ungkapan mendiang Uskup Munninghoff. (Elsye Sanyi  / Koran Harian Pagi Papua)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here