Oleh : Budi Marpaung

Negeri kita sangat membutuhkan orang-orang yang berpikir holistik. Yaitu orang-orang yang dapat melihat berbagai masalah secara utuh, melihat hubungan satu masalah dengan masalah lainnya, dan dapat melihat aspek historis dari setiap permasalahan. Kita kekurangan pemimpin yang dapat melihat gambaran besar permasalahan negeri, dan kemudian memiliki solusi jitu untuk memecahkannya.

Yang kita memiliki dalam jumlah yang sangat banyak adalah orang-orang yang berpikir parsial (sepotong-sepotong), dan mencari solusi untuk setiap masalah parsial tadi.

Hal yang menyedihkan lagi adalah kita memiliki banyak orang  yang mencari keuntungan dari permasalahan yang dilihatnya. Bila duduk di pemerintahan, maka dirinya akan menjadikan masalah itu sebagai proyek, yang dapat mempertebal pundi-pundi diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya.

Bila masalah tidak selesai tahun ini, maka dimunculkan lagi proyek pada tahun berikutnya untuk mengatasi masalah itu. Demikian seterusnya hingga pundi-pundinya semakin banyak, namun sayangnya masalah tak kunjung terselesaikan. Bila berada di luar pemerintahan, maka dirinya akan teriak sekencang-kencangnya tentang permasalahan yang dilihatnya, tampil populer sehingga terlihat menjadi orang yang paling peduli dengan permasalahan tadi. Bila diberi kesempatan menyelesaikannya, maka masalah itu akan dijadikan sebagai proyek untuk mempertebal pundi-pundi, dan tentu masalah tetap saja tak kunjung terselesaikan.

Kita sungguh beruntung memiliki Presiden Jokowi yang sejak awal benar-benar berpikir holistik dalam melihat permasalan bangsa. Jokowi sejak awal menyadari bahwa setiap masalah di negeri ini ada hubungan satu sama lain, dan pasti ada akar permasalahannya.

 

Selama akar masalahnya belum ditemukan, maka semua masalah tidak akan pernah terselesaikan. Jokowi memiliki motto ‘kerja, kerja, kerja’, yang menunjukkan fokusnya pada implementasi, bukan lagi sekedar gagasan dan rencana, karena sebelum mulai memimpin pemerintahan, Jokowi sudah menemukan akar masalahnya, dan solusi jitu untuk menyelesaikannya.

Sejak awal memimpin pemerintahan, Jokowi melihat ada masalah besar dalam hal besaran kue ekonomi kita. Mengapa kue ekonomi kita kok pertumbuhannya tidak tinggi? Mengapa ekonomi kita bertumbuh tidak lebih dari 6 persen per tahun, sementara China dan Vietnam dapat menikmati pertumbuhan ekonomi yang demikian tinggi? Setelah ditelusuri dan diurai hubungan masalah satu sama lain, yang didasarkan pada fakta objektif yang ditemukan di seluruh penjuru negeri, maka Jokowi dan timnya sampai pada satu kesimpulan, yaitu ada masalah serius pada infrastruktur di negeri ini.

Kue ekonomi akan membesar dengan pesat bila kuantitas dan kualitas infrastruktur dapat ditingkatkan secara besar-besaran. Maka sejak awal memimpin, Jokowi tancap gas membangun jalan tol, jalan baru, jalan di perbatasan, pelabuhan, bandara, bendungan/saluran irigasi, penguatan tol laut, rel kereta api, dan lain-lain.

Infrastruktur yang memadai membuat lalu-lintas orang terutama barang menjadi lancar, dimana biaya produksi dan biaya distribusi menjadi relatif murah, sehingga barang kita dapat berkompetisi di pasar dalam negeri maupun di pasar manca negara.

Infrastruktur yang memadai membuat investor, baik investor lokal maupun investor asing, semakin bergairah melakukan investasi, dalam bentuk membangun pabrik, perkebunan, bisnis properti, retail, pertambangan, perikanan, kelautan, dan lain-lain.

Semua aktivitas investasi itu akan membuka lapangan kerja baru, yang dengan sendirinya mengurangi pengangguran dan kemiskinan secara bersamaan. Pada ujungnya pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dilakukan Jokowi akan semakin memperbesar kue ekonomi kita, untuk dapat dinikmati oleh seluruh Rakyat Indonesia. (***)

*) Penulis adalah  Dosen PTS di Jakarta, aktif di Relawan Jokowi Centre.