Bahan Pangan dan Pola Hidup Sehat Solusi Atasi Gizi Buruk di Asmat

0
264
Bupati Jayawijaya, John Wempi Wetipo angkat bicara, mengenai Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak yang di alami masyarakat di Kabupaten Asmat, bagaimana solusi yang ditawarkan, simak ulasan berikut. (Roy/HPP)
Bupati Jayawijaya, John Wempi Wetipo angkat bicara, mengenai Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak yang di alami masyarakat di Kabupaten Asmat, bagaimana solusi yang ditawarkan, simak ulasan berikut. (Roy/HPP)

Akhiri Nestapa di Kota Seribu Papan

 

Laporan : Roy Purba/Asmat

 

JOHN Wempi Wetipo mengaku baru pertama kali menginjakkan kakinya di Kota Seribu Papan itu, melihat banyak hal yang perlu diatasi bersama-sama dengan pemerintah daerah setempat dalam mensejahterakan masyarakat.

 

“Pemda Asmat sudah sangat luar biasa untuk membangun daerahnya dari seluruh sektor. Bayangkan saja, kota ini semua dibangun dengan material papan. Memang cukup sulit,” ungkapnya saat menyerahkan bantuan dari Baliem Mission Center kepada masyarakat yang mengalami gizi buruk dan campak di Asmat belum lama ini.

 

Wempi melihat, tak ada transportasi lain, selain transportasi sungai, seperti kapal, speed boad dan perahu, untuk menjangkau daerah-daerah di luar Kota Agats, Ibukota Kabupaten Asmat.

 

“Lihat, daerahnya tak bisa dilalui dengan mobil. Hanya ada sepeda motor tanpa mesin untuk digunakan mengelilingi Kota Agats. Lalu lintasnya juga terbuat dari papan dan besi. Cukup mahal bukan ? Belum lagi daerahnya jauh-jauh untuk di jangkau,” ungkapnya.

 

Wempi Wetipo yang saat ini menjabat sebagai Bupati Jayawijaya itu melihat, untuk mengatasi gizi buruk di Asmat, yang perlu dilakukan adalah, memberikan ketersediaan bahan pangan, untuk dikomsumsi masyarakat setempat, disamping memberikan pendidikan tentang pola hidup sehat.

 

Makanan pokok mereka adalah sagu, hampir setiap hari mereka makan sagu yang dibuat jadi bulatan-bulatan yang dibakar dalam bara api. Kegemaran lain adalah makan ulat sagu yang hidup dibatang pohon sagu, biasanya ulat sagu dibungkus dengan daun nipah, ditaburi sagu, dan dibakar dalam bara api.

 

Selain itu sayuran dan ikan bakar dijadikan pelengkap dan juga berburu. Namun yang memprihatinkan adalah masalah sumber air bersih. Air tanah sulit didapat karena wilayah mereka merupakan tanah berawa. Terpaksa menggunakan air hujan dan air rawa sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

 

“Sehari-hari orang Asmat bekerja dilingkungan sekitarnya, terutama untuk mencari makan, dengan cara berburu maupun berkebun, yang tentunya masih menggunakan metode yang cukup tradisional dan sederhana. Masakan istimewa bagi mereka adalah ulat sagu. Namun sehari-harinya mereka hanya memanggang ikan atau daging binatang hasil buruan,” ungkapnya, informasi yang dipereolehnya dari orang tua anak yang dirawat di posko gereja di Kota Agats.

 

Dengan adanya peristiwa ini, lanjut Wempi Wetipo, selain pemerintah pusat, TNI, Polri dan pihak-pihak lain yang ikut memberikan penyembuhan terhadap anak-anak yang menjadi korban gizi buruk dan campak, perlu adanya program untuk mengajarkan penduduk setempat untuk bercocok tanam dan menjalani pola hidup sehat serta melakukan imunisasi campak rutin pada balita.

 

“Gizi buruk inikan muncul, lantaran mereka tidak mengkomsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Lalu penyakit dengan gampang menyerang mereka, lantaran kekebalan tubuhnya tidak normal. Nah, ketika mereka sudah sembuh. Kita harus mengajarkan mereka hidup sehat, dengan komsumsi makanan yang layak dan sehat,” paparnya.

 

Dengan adanya pendidikan bercocok tanam dan pola makan hidup sehat, tentunya masyarakat setempat tak gampang terserang penyakit. Disamping itu, mereka juga memiliki pendapatan dari hasil bercocok tanam.

 

“Saya pikir lahan disana cukup luas. Masyarakat bisa membuka lahan pertanian dan berkebun sayur-sayuran serta berternak. Kalau saja ini bisa kita buat dan pemerintah membuat fasilitas kesehatan, mereka bisa hidup sehat, seperti masyarakat lainnya. Apalagi, rata-rata para korban dari kampung yang jauh dari ibukota,” paparnya.

 

Wempi Wetipo juga tak ingin semua pihak menyalahkan pemerintah daerah dengan melihat anggaran yang cukup tinggi di Kabupaten Asmat. Padahal dengan anggaran Rp 1,5 Triliyun APBDnya, tentu tak sebanding dengan luas daerah yang cukup sulit dijangkau.

 

“Apalagi melihat dana Otsus. Saya juga kepala daerah jadi memahami anggaran itu. Disini mereka menerima Rp 106 Miliyar dari hasil pembagian 80 persen. Itupun masih dibagi-bagi ke sektor lain. Jadi kalau 15 persen dari anggaran kesehatan, hanya Rp 15 miliyar yang mereka kelola dari dana otsus untuk kesehatan. Ya, silahkan terjemahkan sendiri, bagaimana menggunakannya,” ujarnya. (*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here