Riwayat Misi Zending C.W. Ottow & J.G. Geissler.

0
484

SEJARAH dari setiap gereja pasti ditulis dgn baik tentang keterlibatan dari para missionaris. Salah satu contoh adalah Pekabaran Injil di Tanah Papua. Peranan yang sangat besar terhadap Pekabaran Injil di Tanah Papua menurut F.C. Kamma ada di tangan Gossner & Heldring.

Walaupun mereka berdua berasal dari lingkungan dan latar belakang gereja yg berbeda, tetapi orang-orang sealiran yang menentang rasionalisme dan formalisme. Bagi mereka berdua, Injil menjadi dasar bersama dan injil mempertemukan mereka untuk mewujudkan agama Kristen dalam tindakan yang nyata.

Usaha dari mereka berdua antara lain menghasilkan zending di Tanah Papua sehingga mereka dua dijuluki bapak-bapak zending Tanah Papua.

Pendapat, pandangan & pengaruh mereka berdua telah membekas dlm kehidupan para penginjil, baik penginjil Jerman dari kelompok Gossner maupun penginjil Belanda dari kelompok Heldring. Dan kita tidak akan mengerti sikap para utusan Injil yg pertama ke Tanah Papua tanpa terlebih dahulu mendapatkan gambaran yang jelas mengenai latar belakang guru-guru mereka.

Johannes Gossner (1773-1858)

Ia ditahbiskan menjadi imam Gereja Katolik Roma pd bulan Oktober 1796. Ia berasal dari keluarga petani yg saleh. Di dalam pelayanannya ia menemukan bahwa gereja Kristus, baik Gereja Katolik Roma maupun Gereja Reformasi telah tersesat jauh dari sumbernya & bahwa kebenaran Injil: Salib, dosa, pengampunan dan penebusan hampir tidak lagi dikhotbahkan dari sebuah mimbar pun.

Di dalam buku hariannya, Gossner melukiskan pergolakan bathinnya demikian: ” semangat zaman & pandangan dunia yg sejalan dengan  semangat zaman ini, bagaikan suatu badai telah menutupi seluruh kehidupan rohani di Jerman.

Akal budi yang sok tahu berkuasa. Orang tidak  mau percaya dan menerima sesuatu apa pun yang tidak  sesuai dengan akal dan alam. Juga di dalam kenyataan tidak dipersoalkan lagi, hanya pengertian-pengertian saja yang dipentingkan”.

Gossner dengan  pikirannya yang sangat oikumenis  dan  keras menentang formalisme: membiarkan diri diikat secara batiniah oleh suatu kuasa rohani dari luar. Dia mempunyai pandangan yang terbuka uuntuk dunia luas tempat dimana Injil belum dikabarkan.

Dia juga tdk menggabungkan dirinya dengan berbagai pendidikan zendeling lainnya pd wkt itu karena menurutnya terlalu intelektualitas. Baginya para zendeling tidak  perlu pendidikan yang memakan banyak waktu. yang penting mereka adalah orang – orang  Kristen yang penuh keyakinan dan dengan  dedikasi yang baik, yang dapat  diutus sesudah masa persiapan yang pendek dan sama seperti rasul Paulus dapat memelihara hidupnya dengan hasil kerajinan tangannya sendiri,  sehingga waktu senggangnya mereka dapat memberitakan Injil.

Pada tahun 1826 Gossner keluar dari Gereja Katolik Roma dan menggabungkan dirinya dengan  Gereja Evangelisch Protestan di Koeninghaim. Dari tahun 1829-1846 ia menjadi pendeta jemaat Betlehem di Berlin.

Ia terlibat untuk mempersiapkan tenaga zendeling yang akan dipekerjakan di daerah-daerah misi yang membutuhkan tenaga. Pada tanggal 9 Juli 1837 para zendeling tukang utusan Gossner yang pertama diteguhkan.

Pada waktu itu Gossner berusia 64 tahun, & di dalam 21 tahun sisa hidupnya ia mengirimkan lagi 141 orang penginjil, diantarannya ada 16 org teolog yang berpendidikan akademis. C.W. Ottow & J.G. Geissler yang di utus ke New Guinea (Tanah Papua) merupakan dua orang dari 141 penginjil yang diutus Gossner.

Latar belakang pendidikan Gossner & pandangan – pandangannya sangat  besar pengaruhnya pada murid-muridnya. Para muridnya diwajibkan untuk  melihat orang – orang  kafir di daerah tujuan misinya sebagai makluk Tuhan yang harus diselamatkan. Itu tugas utama dari misi pekabaran Injil.

Setelah pensiun di tahun 1846, Gossner mencurahkan seluruh perhatiannya kepada rumah sakit Elizabeth (semacam rumah sakit Diakones) dan mengarahkan perhatian seluruhnya pada pendidikan pekerja – pekerja zending tempat dimana Ottow & Geissler turut terlibat. Pada tgl 30 Maret 1858 ia meninggal dunia dengan  tenang. (Disadur dari Facebook Julian Haganah Howay –  https://www.facebook.com/Paradisearudolphi/posts/2339231972769751 )

(*) Dikutip dari buku “Dengarlah Ottow Berbicara” oleh Pdt. J.F. Onim, M.Th.

HUT PI Yg ke 163 Tahun di Tanah Papua (5 Feb 1855 – 5 Feb 2018).

“..In Gottes Namen Betraten Wir Das Land..”